by

Menjadi Kudus Sebagai Sebuah Panggilan Kristiani

RenunganKatolik.org. Menjadi Kudus Sebagai Sebuah Panggilan Kristiani. Panggilan untuk menjadi kudus merupakan panggilan universal yang ditujukan kepada semua orang. Sedangkan pada hakekatya, Gereja tidak dapat kehilangan kekudusannya.

Dikatakan demikian karena Kristus, Putera Allah, yang bersama Bapa dan Roh Kudus dipuji bahwa “hanya Dialah Kudus”, mengasihi Gereja sebagai mempelai-Nya, dengan menyerahkan diri baginya untuk menguduskannya (lih. Ef 5,25-26).

Ia menyatukannya dengan diri-Nya sebagai tubuh-Nya sendiri dan menyempurnakannya dengan kurnia Roh Kudus, demi kemuliaan Allah. Oleh karena itu, dalam Gereja semua anggota, entah termasuk Hierarki entah digembalakan olehnya, dipanggil untuk kekudusan, yang menurut amanat Rasul: “Sebab inilah kehendak Allah: pengudusanmu” (1Tes 4:3; lih. Ef 1,4).

Seluruh umat Allah diwajibkan untuk menjadi kudus di hadapan-Nya. Dalam kenyataan yang bisa diamati, ternyata di sepanjang abad ke-20, Gereja Katolik diberi kelimpahan dengan hadirnya para teolog dan orang-orang kudus yang senantiasa mengingatkan kembali umat beriman akan ketaatan mereka terhadap panggilan menjadi kudus.

Hal itu bisa dilihat kembali di dalam ajaran dan pengaruh para teolog dan orang-orang kudus seperti St. Therese de Lisieux, Beata Elizabeth dari Tritunggal Maha Kudus, St. Maximilian Kolbe, Dom Columba Marmion, Reginald Garrigou-Lagrange, John Arintero, Thomas Merton dan Joseph de Guibert, dll.

Menurut J. Aumann, para kudus dan teolog dan sejumlah nama lainnya telah menyiapkan jalan bagi pembaharuan Gereja yang begitu dinanti-nantikan tatkala Paus Yohanes XXIII memanggil para uskup sedunia untuk mengikuti Konsili Vatikan II.

Salah satu ajaran fundamental yang digemakan kembali sejak penutupan Konsili Vatikan II ialah ajaran Kristus sendiri: ”Hendaklah kamu menjadi kudus, samaseperti Bapamu di surga kudus adanya.” (Mat 5,48).

Santo Paulus juga dalam suratnya kepada Jemaat di Tessalonika berkata: ”Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu ….” (1 Tes 4,3).[35] Ketika kita mengacuh kepada teks Kitab Suci, sebetulnya di situ kita menjumpai sejumlah referensi tentang ”kekudusan”.

Hal pertama yang harus kita pahami di sini ialah bahwa kita memuji dan menyembah kekudusan Allah. Mengapa demikian, karena pada dasarnya, Allah mengatasi kekudusan setiap manusia dan malaikat manapun dalam suatu derajat ketakterbatasan (infinite).

Ketika kita berbicara tentang Allah, maka hal yang bisa dipikirkan tentang diri-Nya ialah soal esensi atau hakekat keberadaan-Nya.

Dalam Kitab Keluaran 3,14 Allah disebut sebagai Yahwe ”Aku adalah Aku” (Ego Eimi). Para ahli filsafat menafsir esensi Allah dengan mengatakan bahwa Ia adalah Pure Act dan mengandung di dalam diri-Nya sendiri segala kemungkinan tentang kekudusan atau kesempurnaan.

Lebih dari itu, Allah sesungguhnya dipandang sebagai the source of all perfections, sumber dari segala kesempurnaan.

Hal ini bisa dipahami ketika kesempurnaan Allah ditempatkan dalam seluruh ciptaan-Nya. Di hadapan semua yang ada (ciptaan-Nya), para teolog kemudian menyebut-Nya sebagai the First Cause uncaused, Penyebab Pertama (utama) dari yang tidak dapat disebabkan lagi.[36]

Dari tekanan yang diberikan oleh Konsili Vatikan II dan rujukan biblis tentang kekudusan tersebut, apakah yang bisa dipahami ketika kita berbicara tentang ”kekudusan Kristiani”?

Kekudusan Kristiani tidak pernah terlepas dari relasinya dengan Allah, sejauh mana ia bersentuhan, bergaul, berjumpa dan mengalami Allah dalam hidupnya.

Hidup yang tak bercela, suci, murni dalam pikiran, perkataan, perbuatan merupakan tanda adanya kesucian dalam diri orang tersebut.

Untuk memahami hal ini dengan lebih jelas lagi bagaimana kekudusan Kristiani bisa dimengerti, maka baiklah kita memahami beberapa hal berikut ini.

Setiap pribadi Kristiani juga dipanggil untuk menghayati dan mengalami kekudusan itu dalam reksa hidup hariannya. Oleh karena itu, terminologi ’menjadi kudus’ bukan semata-mata dialami dan dihayati di akhirat nanti, melainkan justru sudah harus mulai diusahakan saat masih mengembara di muka bumi (hiec et nunc).

Menyadari akan pentingnya dimensi ini, maka salah satu hal sederhana yang bisa dilakukan ialah dengan berdoa Rosario.

Bagi umat Katolik, doa ini bukanlah sesuatu yang samasekali asing bagi mereka. Doa ini sebetulnya sudah menyejarah dan menjadi tradisi rohani berabad-abad lamanya di dalam Gereja Katolik Roma. Doa ini masih dipraktekkan sampai hari ini.

Bulan Oktober, oleh Gereja ditetapkan sebagai bulan Rosario, yang dipersembahkan secara khusus kepada Bunda Maria sebagai Ratu Rosario (diperingati setiap tanggal 7 Oktober).

Sebagai bulan yang penuh rahmat, maka tidak mengherankan kalau di rumah-rumah, di lingkungan-lingkungan atau di dalam Komunitas-komunitas Basis Gerejani diadakan kegiatan doa Rosario.

Sumber : montfortan.id ditulis oleh RP. Fidel Wotan, SMM

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed