Renungan Harian Katolik Senin 1 Juni 2020

158 views

Renungan Harian Katolik Kalender Liturgi Senin 1 Juni 2020
PW Santa Perawan Maria, Bunda Gereja
Warna Liturgi: Putih

Bacaan I  Kej 3:9-15.20
Pada suatu hari, di Taman Eden,  setelah Adam makan buah pohon terlarang,  Tuhan Allah memanggil manusia itu  dan berfirman kepadanya, “Di manakah engkau?”  Ia menjawab,  “Ketika aku mendengar bahwa Engkau ada dalam taman ini,  aku menjadi takut, karena aku telanjang;  sebab itu aku bersembunyi.”  Lalu Tuhan berfirman,  “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang?  Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?”  Manusia itu menjawab,  “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku,  dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku,  maka kumakan.” Kemudian berfirmanlah Tuhan Allah kepada perempuan itu,  “Apakah yang telah kauperbuat ini?”  Jawab perempuan itu, “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”
Lalu berfirmanlah Tuhan Allah kepada ular itu, “Karena engkau berbuat demikian,  terkutuklah engkau di antara segala ternak  dan di antara segala binatang hutan!  Dengan perutmulah engkau akan menjalar, dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu!  Aku akan mengadakan permusuhan  antara engkau dan perempuan ini,  antara keturunanmu dan keturunannya.   Keturunannya akan meremukkan kepalamu,  dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya,  sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 87:1-2.3.5.6-7
Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.
*Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya;
Tuhan lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman Yakub.  Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.
*Aku menyebut Rahab dan Babel  di antara orang-orang yang mengenal Aku,  bahkan Filistea, Tirus dan Etiopia Kukatakan,  “Ini dilahirkan di sana.”  Tetapi tentang Sion dikatakan: “Tiap-tiap orang dilahirkan di dalamnya,” dan Dia, Yang Mahatinggi, menegakkannya.
*Pada waktu mencatat bangsa-bangsa Tuhan menghitung: “Ini dilahirkan di sana.”  Dan orang menyanyi-nyanyi sambil menari beramai-ramai,  “Semua mendapatkan rumah di dalammu.”

Bacaan Injil   Yoh 19:25-34
Waktu Yesus bergantung di salib,  dekat salib itu berdiri ibu Yesus, dan saudara ibu Yesus, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya  dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya,  berkatalah Ia kepada ibu-Nya,   “Ibu, inilah, anakmu!”  Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!”  Dan sejak saat itu  murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya.  Sesudah itu,  karena bahwa segala sesuatu telah selesai,  berkatalah Yesus  — supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci —  “Aku haus!”  Di situ ada suatu wadah penuh anggur asam.  Maka mereka mencelupkan bunga karang dalam anggur asam itu,  mencucukkannya pada sebatang hisop, lalu mengunjukannya ke mulut Yesus.  Sesudah meminum anggur asam itu ,   berkatalah Yesus, “Sudah  selesai!”   Lalu Yesus menundukkan kepala dan menyerahkan nyawa-Nya.  Hari Yesus wafat adalah hari persiapan paskah.  Supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib,  — sebab Sabat itu adalah hari yang besar —  maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus   dan meminta kepadanya   supaya kaki orang-orang yang disalibkan itu dipatahkan  dan mayat-mayatnya diturunkan.  Maka datanglah prajurit-prajurit,   lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain  yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus.  Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus,  dan melihat bahwa Ia telah mati,  mereka tidak mematahkan kaki-Nya.  Tetapi salah seorang dari prajurit itu  menikam lambung Yesus dengan tombak,  dan segera mengalirlah darah serta air keluar.
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Peringatan Maria Berdukacita ditempatkan sesudah Pesta Salib Suci yang dirayakan sehari sebelumnya. Dekatnya kedua perayaan ini mengungkapkan keyakinan iman kita bahwa Maria adalah murid Tuhan yang utama. Ia mengikuti Yesus sampai akhir dalam sengsara dan wafat-Nya, sementara murid lain melarikan diri ketika Yesus ditangkap (bdk Mrk 14:50) Kedekatan antara Yesus dan Maria ini juga terungkap dalam berurutannya perayaan Hati Yesus  Yang Mahakudus dan perayaan Hati Tersuci Maria,  Duka cita Maria biasanya dikaitkan dengan tujuh peristiwa yang diceritakan dalam Injil , yaitu nubuat Simeon (Luk 2:21-35) , pengusiran ke  Mesir (Mat 2:13-15) , kehilangan Yesus di Kenisah (Luk 2:41-52), mengikuti jalan salib Yesus (Luk 23:26-32), memandang Yesus tergantung disalib (Yoh 19:25-27), memangku jenazah Yesus (Yoh 19:38-40) dan memakamkan Yesus (Yoh 19:41-42) Merenungkan dukacita Maria membantu kita semakin menyadari bahwa perjalanan iman Maria tidaklah tanpa masalah dan penderitaan. Dukacita mempunyai tempat dan artinya dalam hidup orang beriman. Tentu saja bukan duka cita yang disebabkan oleh kesalahan sendiri, melainkan dukacita akibat dari ketekunan dan kesetiaan mengikuti Yesus yang “ditentukan ….. untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan” (Luk 2:34), yang “sebagai manusia , telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan” (Ibr 5:7)   Namun, seandainya pengalaman mengikuti Yesus itu hanya berisi dukacita, memang lalu dapat dipertanyakan apakah ada artinya? Selain itu , kalau hidup hanya berisi dukacita siapapun yang mengalaminya  tidak akan kuat menanggungnya.  Duka cita Maria mesti dihubungkan pengalamannya  yang lain yaitu pengalamannya menerima peneguhan dari orang lain , seperti misalnya Elisabeth, Akhirnya yang menjadi kunci adalah pengalamannya akan Allah, misalnya seperti terungkap dalam Kidung Magnificat. Ketiga pengalaman dasar ini membentuk Maria menjadi murid Yesus yang sempurna. Dengan pengalaman serta kematangan ini, ia dapat menjadi kawan bagi para murid yang sedang berada dalam keadaan susah, takut, dan cemas seperti diceritakan dalam Kis 1:12-14 (bdk Yoh 20:19)

Butir permenungan.              

Penulis Injil mengatakan “….di dekat salib itu berdirilah ibu Yesus  dan saudara ibu Yesus, Maria, isteri  Klopas dan Maria Magdalena ….” (ay 25). Maria menyaksikan putra satu satunya , yang sangat dikasihi mati tergantung disalib. Suatu peristiwa yang sangat menyedihkan , karena pada waktu itu salib adalah hukuman yang dianggap paling hina. Dalam pemahaman demikian ini , Maria melihat putranya mati bukan karena salah dan dosanya, melainkan karena fitnah. Inilah pengalaman duka yang begitu dalam.  Meski dalam suasana demikian , Maria masih sanggup berdiri , sebab gambaran ketegaran dan kekuatan iman Maria dalam menghadapi duka dan deritanya. Dia tidak duduk atau pun  tidur lemas, bahkan  pingsan  melihat peristiwa itu, tetapi dia masih mampu berdiri dengan tegar.  Tentu karena Maria mengerti dengan baik bahwa dalam duka yang paling dalam , dan dalam derita yang tidak terkatakan, justru merupakan saat dimana kita harus berada di kaki Tuhan. Maria tegar bukan karena dirinya sendiri,  melainkan menimba kekuatan Ilahi dari salib Putranya. Terpisah jauh dari salib Tuhan , tentu kita tidak berdaya. Banyak orang mengalami duka justru lari dari Tuhan dan melupakan salib-Nya, tetapi Maria justru lari dan mendekat pada Salib Yesus.

Doa.

Allah Bapa , Sumber Penebusan kami, pada hari ini kami telah menerima karunia pembawa keselamatan kekal, dalam merenungkan dan menghormati dukacita Santa Perawan Maria, Bunda kami.  Semoga apa yang  masih kurang pada penderitaan Kristus dapat dilengkapi pula dalam diri kami guna kepentingan seluruh umat-Mu.  Amin.

Ketika Yesus melihat ibu-Nya  dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya,  berkatalah Ia kepada ibu-Nya,   “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *