Renungan Harian Katolik Jumat 11 September 2020

153 views

Renungan Harian Katolik Kalender Liturgi Jumat 11 September 2020
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I 1 Kor 9:16-19.22b-27
Saudara-saudara,  memberitakan Injil bukanlah suatu alasan bagiku untuk memegahkan diri. Sebab bagiku itu suatu keharusan.  Celakalah aku bila aku tidak memberitakan Injil.  Andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri,  memang aku berhak menerima upah.  Tetapi karena aku melakukannya  bukan menurut kehendakku sendiri, maka pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.  Kalau demikian apakah upahku?  Upahku ialah bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah,  dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil. Sebab sekalipun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba semua orang,  supaya aku dapat memenangkan orang sebanyak mungkin.  Bagi semua orang aku menjadi segala-galanya  supaya sedapat mungkin memenangkan beberapa orang di antaramu. Segala-galanya itu kulakukan demi Injil, agar aku mendapat bagian di dalamnya.  Tidak tahukah kalian,  bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi hanya satu orang saja yang mendapat hadiah?  Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kalian memperolehnya. Tiap-tiap orang yang mengikuti pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian  untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku berlari bukan tanpa tujuan, dan aku bertinju bukan dengan memukul sembarangan. Sebaliknya aku melatih dan menguasai tubuhku sepenuhnya, jangan sampai aku sendiri ditolak  sesudah memberitakan Injil kepada orang lain.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 84:3.4.5-6.12
Betapa menyenangkan tempat kediaman-Mu,  ya Tuhan semesta alam!
*Jiwaku merana  karena merindukan pelataran Tuhan;  jiwa dan ragaku bersorak-sorai  kepada Allah yang hidup.
*Bahkan burung pipit mendapat tempat  dan burung layang-layang mendapat sebuah sarang,  tempat mereka menaruh anak-anaknya,
pada mezbah-mezbah-Mu, ya Tuhan semesta alam,  ya Rajaku dan Allahku!
*Berbahagialah orang yang diam di rumah-Mu,  yang memuji-muji Engkau tanpa henti. Berbahagialah para peziarah  yang mendapat kekuatan dari pada-Mu, yang bertolak dengan penuh gairah.
*Sebab Tuhan Allah adalah benteng dan perisai;  kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan-Nya  dari orang yang hidup tidak bercela.

Bait Pengantar Injil  Yoh 17:17b.a
Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran.  Kuduskanlah kami dalam kebenaran.

Bacaan Injil  Luk 6:39-42
Pada suatu ketika  Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada murid-murid-Nya,  “Mungkinkah seorang buta membimbing orang buta?  Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?  Seorang murid tidak melebihi gurunya, tetapi orang yang sudah tamat pelajarannya  akan menjadi sama dengan gurunya. Mengapakah engkau melihat selumbar dalam mata saudaramu,  sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak kauketahui? Bagaimana mungkin engkau berkata kepada saudaramu,  ‘Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar dalam matamu,’ padahal balok dalam matamu tidak kaulihat?  Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas  untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

 Ada seorang guru yang setiap kali masuk kelas selalu memberi hormat kepada murid muridnya.  Ketika ditanya tentang perbuatan ganjilnya itu, ia berkata : ”Siapa tahu nanti kalian ada yang jadi pemimpin pemimpin saya. Jadi saya tidak terlambat menghormati kalian”. Seorang murid Yesus harus terus menerus belajar menjadi serupa dengan gurunya, sehingga dapat menuntun orang lain ke jalan yang benar, Selama orang masih buta ia tidak mungkin dapat diutus untuk membantu orang lain. Orang yang tidak dapat melihat balok besar dimatanya sendiri, ia juga tidak akan bisa membantu orang lain membersihkan matanya dari selumbar yang sangat kecil . Melihat dan menyadari kelemahan dalam dirinya sendiri yang begitu besar saja tidak bisa, apalagi mau menolong orang lain untuk melihat dan menyadari kelemahannya yang sangat kecil. Memang orang cenderung mencari cari dan mau membereskan kelemahan orang lain, padahal kekurangan sendiri lebih parah dan otomatis menghalanginya untuk bisa membantu orang lain. Yesus bukan minta para murid agar menutup mata terhadap kejahatan didunia karena mereka toh sama  sama  berdosa , tetapi mau mengajak mereka memeriksa dan mengkoreksi diri terlebih dahulu, sehingga dapat membantu orang lain menjadi lebih baik. Yesus mengingatkan para murid agar tidak berusaha memperbaiki orang lain tanpa lebih dahulu mawas diri dan mengevaluasi diri sendiri.

Butir permenungan.

Memang setiap murid Yesus dipanggil untuk menuntun dan membantu orang lain membereskan dirinya, tetapi bagaimana ia bisa membimbing orang lain kalau masih buta, belum mengenal , dan tidak mampu menjalankan cara hidup Kristiani?  Bagaimana ia dapat membantu orang lain mengatasi halangan dirinya kalau ia belum sadar dan melihat cacat celanya sendiri yang menghalangi hidup seturut Injil?  Kita kadang  gampang mencela kelemahan dan menghina orang lain, padahal kelemahan kita jauh lebih parah. Tidak jarang kita pun cepat menghakimi orang lain tanpa bercermin pada diri sendiri  Mengapa? Yesus telah menunjukkan bahwa kita harus mawas diri terlebih dulu sebelum menghakimi orang lain. Kita adalah pengikut pengikut Yesus zaman ini yang seharusnya terus menerus koreksi dan mawas diri.

Doa.

Allah Bapa Gembala utama , kami bersyukur , karena Engkau telah mengutus Gembala dan Penuntun yaitu Yesus, Saudara se-Bapa kami. Semoga Ia sudi menuntun kami menuju kedamaian yang sangat didambakan dunia.  Amin.

Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran.  Kuduskanlah kami dalam kebenaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *