Renungan Harian Katolik Jumat 19 Juni 2020 – Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus

864 views

Renungan Harian Katolik Kalender Liturgi Jumat 19 Juni 2020
Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus

Warna Liturgi: Putih

Bacaan I  Ul 7:6-11
Sekali peristiwa, di padang gurun Seberang Yordan,  Musa berkata kepada umat Israel,  “Kamulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu;  kamulah yang dipilih Tuhan, Allahmu,  dari segala bangsa di atas muka bumi  untuk menjadi umat kesayangan-Nya.  Bukan karena jumlahmu lebih besar dari bangsa mana pun, maka hati Tuhan terpikat olehmu dan memilih kamu,  — sebab nyatanya kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa! —  Tetapi karena Tuhan mengasihi kamu  dan karena Ia memegang sumpah  yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu,  maka Tuhan telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat, dan menebus kamu dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir. Sebab itu haruslah kamu ketahui,  bahwa Tuhan, Allahmu itu, adalah Allah yang setia. Ia memegang perjanjian dan kasih setia-Nya  terhadap orang yang kasih kepada-Nya  dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan.  Tetapi terhadap setiap orang yang membenci Dia,  Ia melakukan pembalasan dengan membinasakan orang itu. Ia tidak bertangguh terhadap orang yang membenci Dia. Ia langsung mengadakan pembalasan terhadap orang itu. Jadi berpeganglah pada perintah,  yakni ketetapan dan peraturan  yang pada hari ini kusampaikan kepadamu untuk dilakukan.”
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 103:1-2.3-4.6-7.8.10
Kekal abadilah kasih setia Tuhan  atas orang-orang yang takwa kepada-Nya.
*Pujilah Tuhan, hai jiwaku!  Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!  Pujilah Tuhan, hai jiwaku, janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya!
*Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu,  yang menyembuhkan segala penyakitmu!  Dialah yang menebus hidupmu dari liang kubur,
dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat!
*Tuhan menjalankan keadilan dan hukum  bagi segala orang yang diperas.  Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa,
dan memaklumkan perbuatan-perbuatan-Nya  kepada orang Israel.
*Tuhan adalah pengasih dan penyayang,  panjang sabar dan berlimpah kasih setia.  Tidak pernah Ia memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita,  atau membalas kita setimpal dengan kesalahan kita.

Bacaan II  1Yoh 4:7-16
Saudara-saudaraku yang terkasih,  marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi,  lahir dari Allah dan mengenal Allah.  Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu:  Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allahlah yang telah mengasihi kita  dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai silih bagi dosa-dosa kita.  Saudara-saudaraku yang terkasih,  Allah begitu mengasihi kita! Maka haruslah kita juga saling mengasihi.  Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Tetapi jika kita saling mengasihi,  Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita. Beginilah kita ketahui  bahwa kita berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita,  yakni bahwa Ia telah mengaruniakan kita  mendapat bagian dalam Roh-Nya.  Kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya  menjadi Penyelamat dunia. Barangsiapa mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah,  Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.  Kita telah mengenal dan telah percaya  akan kasih Allah kepada kita.  Allah adalah kasih,  dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih,  ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
Demikianlah sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil  Mat 11:29ab
Pikullah kuk yang Kupasang, sabda Tuhan,  dan belajarlah pada-Ku, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati.

Bacaan Injil  Mat 11:25-30
Sekali peristiwa berkatalah Yesus,  “Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi!  Sebab misteri Kerajaan Kausembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai,  tetapi Kaunyatakan kepada orang kecil.  Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu.  Semua telah diserahkan oleh Bapa kepada-Ku,  dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak,  serta orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.   Datanglah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat.  Aku akan memberi kelegaan kepadamu.  Pikullah kuk yang Kupasang, dan belajarlah pada-Ku,  karena Aku lemah lembut dan rendah hati.  Maka hatimu akan mendapat ketenangan.  Sebab enaklah kuk yang Kupasang, dan ringanlah beban-Ku.”
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan 

Ada sebuah kampung yang seluruhnya beragama katolik. Kecuali satu orang yang sudah amat tua. Dia itu mau menunggu sampai dekat mati, baru mau di-permandikan. Dan terjadilah pada suatu hari bapak itu jatuh sakit. Pastor dipanggil, lalu bapak itu dipermandikannya. Beberapa saat kemudian ia meninggal.  Maka ada orang menanggapi peristiwa itu sebagai berikut: “Untung juga dia! Sembilan puluh tahun lamanya ia hidup dengan seenaknya, tidak pernah ke gereja, tidak pernah sembahyang atau pengakuan. Lalu beberapa menit sebelum mati dipermandikan dan langsung masuk surga!”  Yah… Demikianlah pandangan orang yang mengalami agama dan hidup beragama sebagai suatu beban. Orang yang berpendapat demikian, baiklah menyadarkan diri akan perkataan Yesus yang tadi kita dengar itu. Kuk-Nya enak dan beban-Nya ringan. Tetapi yang ringan memang kadang-kadang dapat terasa berat dan yang berat sewaktu-waktu ringan juga.  Dalam buku “Burung Berkicau” karangan Pater A. de Mello, kami membaca cerita yang berikut ini:  Pernah ada seekor keledai yang dibebani dua karung kapas. Ia berjalan dengan enak, sebab kapas itu ringan. Tengah jalan ia melewati seekor keledai yang membawa dua karung garam. Keledai itu berkeluh-kesah karena beratnya beban itu. Kedua-duanya melanjutkan perjalanannya bersama-sama. Pada suatu saat mereka tiba di sebuah sungai yang harus mereka seberangi. Mereka turun ke dalam sungai itu. Sungai itu agak dalam, dan air naik sampai di leher.  Lalu apa yang terjadi? Keledai yang membawa kapas itu: bebannya yang tadi masih ringan, kini menjadi berat, karena semua kapas itu menjadi basah kuyup. Sedangkan keledai yang berbeban garam itu: sebagian garam itu melarut dalam air, sehingga sekarang bebannya sudah ringan…  Yesus berkata:  “Mari datang kepada-Ku, semua yang letih-lesu dan berbeban berat;  Aku akan memberi kelegaan kepadamu”.   Semoga jangan pernah iman akan Allah dan hidup beragama kita alami sebagai suatu beban, melainkan sebaliknya sebagai suatu pembebasan, suatu kelegaan, suatu kegembiraan yang dianugerahkan Allah kepada kita yang adalah orang-orang pilihan-Nya.

Butir permenungan.

Kita sering menjumpai orang kecil. Ada orang yang memang kecil secara fisik, ekonomis, urutan status sosial, jabatan atau pekerjaan. Tetapi ada juga orang yang kecil secara rohani, ia merasa diri tak berdaya dihadapan Allah yang mahakuasa, karena itu ia bergantung sepenuhnya kepada-Nya . Singkatnya , ia memiliki rasa rindu untuk Allah dalam hatinya. Orang seperti inilah yang akan mampu menangkap rahasia Kerajaan Surga dalam hidupnya.  Dalam Injil hari ini kita mendengar bahwa Yesus bersyukur kepada Bapa, Tuhan langit dan bumi karena semua rahasia Kerajaan Surga dinyatakan bukan pertama tama kepada orang bijak dan pandai tetapi kepada orang kecil. Tidak berarti Allah membenci orang bijak dan pandai tetapi pada kenyataan harus kita akui dengan rendah hati bahwa sikap mereka sering kali didominasi oleh kesombongan akal budinya , ia mampu menopang hidup dengan kekuatan sendiri, Ruang untuk Tuhan semakin kecil dalam hatinya.  Hari ini Yesus mengajak kita untuk bertobat dari kesombongan,  Kita perlu belajar  merendahkan diri dihadapan Tuhan sehingga kita bisa melihat dan merasakan campur tangan-Nya dalam hidup kita. Kemampuan akal  budi dan kebijaksanaan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita hendaknya digunakan untuk menyelami rahasia kehadiran Allah dalam hidup kita ini.  Banyak orang pandai dan bijak dalam Gereja Katolik mencapai kekudusan karena mereka selalu merendahkan hati dihadapan Allah. Orang yang rendah hati membiarkan Allah berkarya dalam hatinya. Makin kita rendah hati , makin kita mampu mengenali dan mengikuti kehendak Allah dalam hidup. Sebab Allah sering kali menyatakan rencana-Nya melalui peristiwa kecil dan sederhana bahkan tidak terpikirkan oleh akal budi kita.

Doa

Ya Tuhan yang maha baik, ajarilah kami umat-Mu  untuk menjadi orang yang bijaksana dan sederhana, sehingga kami dapat lebih mudah menerima ajaran-Mu dan melaksanakan dalam hidup kami sehari hari.   Amin .

Pikullah kuk yang Kupasang, sabda Tuhan,  dan belajarlah pada-Ku, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati.

2 thoughts on “Renungan Harian Katolik Jumat 19 Juni 2020 – Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus

  1. Semoga renungan ini aku makin memikat hatiku untuk mendengar sabda Tuhan,dan semoga aku diberi kelemah lembutan dan rendah hati
    Seperti Allah bapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *