Renungan Harian Katolik Jumat 20 Maret 2020

424 views

Kalender Liturgi Jumat 20 Maret 2020
Warna Liturgi: Ungu

Bacaan I  Hos 14:2-10
Beginilah firman Allah,  “Bertobatlah, hai Israel, kepada Tuhan Allahmu, sebab engkau telah tergelincir karena kesalahanmu. Datanglah membawa kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada Tuhan.  Berserulah kepada-Nya:  ‘Ampunilah segala kesalahan, sehingga kami mendapat yang baik, maka kami akan mempersembahkan pengakuan kami. Asyur tidak dapat menyelamatkan kami;  kami tidak mau mengendarai kuda, dan kami tidak akan berkata lagi ‘Ya, Allah kami’ kepada buatan tangan kami.  Karena Engkau menyayangi anak yatim.’  Beginilah firman Tuhan:  Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan,  Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela,  sebab murka-Ku telah surut dari pada mereka. Aku akan menjadi seperti embun bagi Israel,  maka ia akan berbunga seperti bunga bakung  dan akan menjulurkan akar-akarnya seperti pohon hawar. Ranting-rantingnya akan merambak, semaraknya akan seperti pohon zaitun   dan berbau harum seperti yang di Libanon.  Mereka akan kembali dan diam dalam naungan-Ku; mereka akan tumbuh seperti gandum.  Mereka akan berkembang seperti pohon anggur, yang termasyhur seperti anggur Libanon.   Efraim, apakah lagi sangkut paut-Ku dengan berhala-berhala?  Akulah yang menjawab dan memperhatikan engkau!  Aku ini seperti pohon sanobar yang menghijau, dari pada-Ku engkau mendapat buah.  Siapa yang bijaksana, biarlah ia memahami semuanya ini; siapa yang budiman, biarlah ia mengetahuinya; sebab jalan-jalan Tuhan adalah lurus,  dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 81:6c-8a.8bc-9.10-11ab.14.17

Akulah Tuhan, Allahmu, dengarkanlah suara-Ku.
*Aku mendengar bahasa yang tidak kukenal,  “Akulah yang telah mengangkat beban dari bahumu, dan membebaskan tanganmu dari keranjang pikulan;  dalam kesesakan engkau berseru, maka Aku meluputkan engkau .
*Aku menjawab engkau dengan bersembunyi di balik badai,
Aku telah menguji engkau dekat Meriba.  Dengarlah, hai umat-Ku,
Aku hendak memberi peringatan kepadamu; Hai Israel, kiranya engkau mau mendengarkan Aku!
*Janganlah ada di antaramu allah lain, dan janganlah engkau menyembah orang asing. Akulah Tuhan Allahmu,  yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.
*Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku!  Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan!  Umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik,  dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya.

Bait Pengantar Injil  Mat 4:17
Bertobatlah, sabda Tuhan, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.

Bacaan Injil  Mrk 12:28b-34
Sekali peristiwa datanglah seorang ahli Taurat kepada Yesus dan bertanya kepada-Nya,  “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang paling utama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita itu Tuhan yang esa. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi,  dan dengan segenap kekuatanmu.  Dan perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama  daripada kedua hukum ini.” Berkatalah ahli Taurat itu kepada Yesus,  “Guru, tepat sekali apa yang Kaukatakan, bahwa Dia itu esa, dan bahwa tidak ada allah lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati, dengan segenap pengertian, dan dengan segenap kekuatan,  serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama dari pada semua kurban bakar dan persembahan.”  Yesus melihat betapa bijaksana jawaban orang itu. Maka Ia berkata kepadanya,  “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Dan tak seorang pun berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan.

Cinta tidak mengenal sebagian, tetapi melibatkan seluruh diri pribadi . Seorang anak sedang asyik bermain bola ditengah lapangan. Ia tidak terusik panasnya terik  matahari. Lupa makan dan minum. Ia seakan menjadi satu dengan bola itu. Hal yang sama berlaku untuk orang yang mencintai apa yang dikerjakannya: Pelukis yang sedang menggambar pemandangan seakan bersatu dengan alam dihadapannya, petani yang tidak mengenal lelah mengerjakan ladang, perawat yang sedang sepenuh hati melayani pasiennya , seorang pekerja sosial yang tekun melayani orang miskin, mereka ini mencintai pekerjaannya dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan tenaganya.   Yesus mengajarkan kita bahwa Tuhan melebihi segala galanya. Maka mencintai Tuhan harus dengan seluruh diri kita. Artinya kita harus memuji Tuhan juga kalau kita sedang bekerja, kita harus berdoa kepada-Nya dalam setiap kesempatan, kita membaca Sabdanya seperti kalau kita membaca surat kabar, mendengarkan Sabda-Nya seperti kita selalu mendengar radio atau televisi. Dan dengan mencintai Tuhan dengan seluruh diri kita, mengalirlah cinta kepada sesama seperti kita mencintai diri sendiri. Artinya kita akan memperhatikan  kepentingan orang lain, ikut merasakan luka hati sesama dan coba mengerti impian mereka. Yesus memadukan kedalam seluruh diri-Nya kedua cinta itu, dan Ia memerintahkan  kepada murid-Nya untuk melaksanakan yang sama. Kalau kita mencintai Tuhan dengan seluruh diri kita dan sekaligus  mencintai sesama seperti kita mencintai diri kita sendiri maka Kerajaan Allah sungguh ada ditengah kita.

Butir permenungan.

Datanglah membawa kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada Tuhan.  Berserulah kepada-Nya:  ‘Ampunilah segala kesalahan, sehingga kami mendapat yang baik,maka kami akan mempersembahkan pengakuan kami (Hosea 14:3)  Ketika masih kecil kata kata penyesalan setelah melakukan kesalahan adalah minta maaf dan berjanji tidak akan melakukan lagi . Pernyataan tersebut adalah salah satu kata kunci sebuah pertobatan. Dan sebagai anak kecil ketika dimaafkan oleh orang tua , guru atau teman sepermainan seakan menggenggam sebuah piala keberhasilan. Saat itu pula diterima kembali dalam kelompok dan keluarga.  Hari ini nabi Hosea menyerukan pertobatan kepada bangsa Israel dari kesalahannya. Allah digambarkan sebagai orang yang penuh sabar, cinta dan menunggu umat-Nya kembali kepada-Nya Ia merindukan umat yang telah jatuh dalam kesalahannya untuk bertobat. Selain itu Allah menginginkan umat-Nya untuk kembali melakukan sembah bakti kepada-Nya. Kata kata penyesalan sebagai tanda pertobatan belum bermakna jika kita tidak berbuah suatu perbuatan atau tindakan nyata. Contoh, menonaktifkan gadket saat mengikuti perayaan Ekaristi . Hal ini mudah tetapi godaan atau tantangan begitu besar. Prioritas dan disiplin diri menjadi factor penentu dalam sikap pertobatan. Jika Allah yang menjadi hal utama , yang lain bisa ditinggalkan . Dalam hal ini diri sendirilah yang menjadi penggerak utama untuk bertobat, dimana ada kemauan disana ada jalan . Mari  bertobat. Tuhan mengingat cinta-Mu yang begitu besar kepada kami , tanamkanlah dalam diri kami sikap bertobat dan menyesal atas kesalahan kami hari demi hari.

Doa.

Ya Tuhan yang mahabaik, mampukanlah kami umat-Mu untuk mencintai-Mu dengan   segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu dan mencintai sesama seperti kita mencintai diri kita sendiri. Amin.

Bertobatlah, sabda Tuhan, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.

One thought on “Renungan Harian Katolik Jumat 20 Maret 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *