Renungan Harian Katolik Jumat 24 Mei 2019

87 views

Bacaan Liturgi Jumat  24 Mei 2019

Bacaan Pertama  Kis 15:22-31

Pada akhir sidang pemuka jemaat di Yerusalem yang membicarakan soal sunat, rasul-rasul dan penatua-penatua beserta seluruh jemaat  mengambil keputusan untuk memilih dari antara mereka  beberapa orang yang akan diutus ke Antiokhia  bersama-sama dengan Paulus dan Barnabas. Yang terpilih yaitu Yudas yang disebut Barsabas dan Silas.  Keduanya adalah orang terpandang di antara saudara-saudara itu. Kepada mereka diserahkan surat yang bunyinya:  “Salam dari rasul-rasul dan penatua-penatua,  dari saudara-saudaramu, kepada saudara-saudara di Antiokhia, Siria dan Kilikia  yang berasal dari bangsa-bangsa lain. Kami telah mendengar, bahwa ada beberapa orang di antara kami,   yang tiada mendapat pesan dari kami,  telah menggelisahkan dan menggoyangkan hatimu dengan ajaran mereka.  Sebab itu dengan bulat hati kami telah memutuskan untuk memilih dan mengutus beberapa orang kepada kamu  bersama-sama dengan Barnabas dan Paulus yang kami kasihi, yaitu dua orang yang telah mempertaruhkan nyawanya  karena nama Tuhan kita Yesus Kristus.  Maka kami telah mengutus Yudas dan Silas,  yang dengan lisan akan menyampaikan pesan yang tertulis ini  juga kepada kamu.  Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu, yakni: kamu harus menjauhkan diri  dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik  dan dari percabulan.  Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini,  kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat.”   Setelah berpamitan, Yudas dan Silas berangkat ke Antiokhia.  Di situ mereka memanggil seluruh jemaat berkumpul, lalu menyerahkan surat itu kepada mereka. Setelah membaca surat itu, jemaat bersukacita karena isinya yang menghiburkan.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 57:8-9.10-12

Aku mau bersyukur kepada-Mu, Tuhan, di antara bangsa-bangsa.

*Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah hai gambus dan kecapi,

mari kita membangunkan fajar!

*Tuhan, aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa,

aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa. Sebab kasih setia-Mu menjulang setinggi langit,  dan kebenaran-Mu setinggi awan-gemawan.

Bangkitlah mengatasi langit, ya Allah!  Biarlah kemuliaan-Mu meliputi seluruh bumi!

Bait Pengantar Injil  Yoh 15:15b

Aku menyebut kamu sahabat, sabda Tuhan, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu  segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

Bacaan Injil  Yoh 15:12-17

Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,

“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang  yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya. Tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku,  tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu,  supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap,  supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku,  diberikan-Nya kepadamu.  Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.

Mengapa seorang petinggi negeri tak peduli suara hati nurani ? Karena posisi dan harga diri. Mengapa seorang pedagang jalanan berani mati melawan satuan polisi? Demi sesuap nasi. Mengapa para demonstran membabi buta , baku hantam, caci maki, berlaku anarki, langgar  norma norma manusiawi? Bukti perlunya kasih mengasihi.

Yesus berkata :” Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi,  seperti Aku telah mengasihi kamu.”  Yesus tidak meminta dari murid murid-Nya melebihi apa yang Ia berikan. Ia menghendaki kita saling mengasihi  karena Ia sendiri lebih dulu telah mengasihi kita. Dengan demikian , kasih Yesus bukan tanpa tujuan, tetapi Ia mengasihi kita agar dengan pengalaman kasih-Nya  itu kita pun mampu saling mengasihi. Perintah itupun telah Ia praktikkan lebih dahulu dengan rela mati karena dan demi kita. Bagi-Nya pengorbanan nyawa menjadi ukuran tertinggi dari kasih itu, sebab “ tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat sahabatnya.”  Dengan demikian kalau kita melaksanakan perintah perintah-Nya, Yesus memperhitungkan kita sebagai sahabat sahabat-Nya, atau orang orang yang memiliki hubungan paling dekat dan akrab dengan-Nya, atau orang orang yang menjadi partner dalam pergaulan dan karya-Nya.

Memang Yesus telah datang untuk memanggil dan memilih kita menjadi sahabat sahabat-Nya. Oleh karena itu, Ia mau memberi tahukan kepada kita segala sesuatu yang telah didengar dari Bapa-Nya.  Karena itu pula , kita bukan hamba sebab seorang hamba hanya melakukan apa yang diperintahkan tuannya dan tidak pernah menjadi partner kerja yang sederajat dengannya atau sahabat-Nya.

Dengan menyerahkan nyawa kepada sahabat sahabat-Nya , Yesus mau mengajarkan mereka dua hal

Pertama   : mereka semua sungguh berarti dihadapan-Nya.

Kedua      : mereka pun harus berani mengorbankan nyawa demi membela sesamanya yang membutuhkan.

Yesus datang ke dunia untuk menjadi pewarta dan pelaksana sabda Bapa, Sebelum meninggalkan dunia , perintah yang sama  Yesus berikan kepada para murid . Sebagai penerus para murid, siapkah kita menjadi pewarta dan pelaksana  Sabda Tuhan  dalam kehidupan sehari hari?

Butir permenungan.

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang  yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Yoh 15:13  Kita sering mendengar banyak orang mengatakan bahwa kucing itu nyawanya sembilan. Kenapa ? Karena kita sering melihat kucing jatuh dari ketinggian tetapi tetap hidup, atau menyeberang jalan yang ramai, tetapi tetap selamat. Nyawa bagi seseorang adalah segala galanya, dan hanya satu. Bisa dikatakan bahwa untuk hidup , seseorang tidak akan pernah mau memberikan nyawanya kepada siapapun. Merenungkan tentang mengasihi yang Yesus ajarkan tidak pernah ada habisnya. Bahkan bukan itu saja , Ia sudah menunjukkankasih terbesar yang tidak ada batasnya. Sekalipun ada , batasannyaitu adalah nyawa. Seperti yang Ia katakan “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat sahabatnya”  Ia menunjukkan betapa besar kasih-Nya sampai wafat dikayu salib hanya supaya kita sahabat – sahabar-Nya memiliki hidup dan hidup dalam segala kelimpahan.  Banyak dari kita seringkali membuat batasan sendiri dalam mengasihi sesama. Ada yang mengasihi kalau ia juga dikasihi, Ada yang mengasihi saat semuanya dalam keadaan baik. Ada yang mengasihi berdasarkan hitung hitungan matematika. Ada yang mengasihi bila menguntungkan dirinya. Jenis jenis kasih yang diatas tidak sesuai dengan kasih yang Yesus ajarkan.  Tidak mudah memang, namun marilah kita berdoa agar kita dapat menjadi semakin serupa dengan Yesus , termasuk serupa dengan cara Ia mengasihi.  Apakah ada syarat jika saya mengasihi? Renungkan dan doakan.

Doa.

Ya Tuhan yang mahakuasa, meskipun tidak pantas dan tidak layak, Engkau mempercayakan kepada kami umat-Mu menjadi pewarta dan pelaksana Sabda-Mu. Semoga tugas suci ini dapat kami jalankan dengan baik dalam kehidupan sehari hari.  Amin.

Aku menyebut kamu sahabat, sabda Tuhan, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu  segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

One thought on “Renungan Harian Katolik Jumat 24 Mei 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *