Renungan Harian Katolik Jumat 27 Maret  2020

943 views

Renungan Harian Katolik Kalender Liturgi Jumat 27 Maret  2020
Warna Liturgi: Ungu

Bacaan I  Keb 2:1a.12-22
Orang-orang fasik berkata satu sama lain,  karena angan-angan mereka tidak tepat,  “Marilah kita menghadang orang yang baik,  sebab bagi kita ia menjadi gangguan  serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran -pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya  dosa-dosa terhadap pendidikan kita.  Ia membanggakan mempunyai pengetahuan tentang Allah, dan menyebut dirinya anak Tuhan.
Bagi kita ia merupakan celaan atas anggapan kita;  melihat dia saja sudah berat rasanya bagi kita. Sebab hidupnya sungguh berlainan dari kehidupan orang lain, dan lain dari lainlah langkah lakunya.  Kita dianggap olehnya sebagai orang yang tidak sejati,  dan langkah laku kita dijauhinya seolah-olah najis adanya.  Akhir hidup orang benar dipujinya bahagia,  dan ia bermegah-megah bahwa bapanya ialah Allah.  Coba kita lihat apakah perkataannya benar,  dan ujilah apa yang terjadi waktu ia pulang.  Jika orang yang benar itu sungguh anak Allah, niscaya Allah akan menolong dia serta melepaskannya dari tangan para lawannya.  Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa,  agar kita mengenal kelembutannya  serta menguji kesabaran hatinya.  Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya,  sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan.”
Demikianlah mereka berangan-angan,  tapi mereka sesat, karena telah dibutakan oleh kejahatan mereka.  Maka mereka tidak tahu akan rahasia-rahasia Allah, tidak yakin akan ganjaran kesucian,  dan tidak menghargakan kemuliaan bagi jiwa yang murni.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 34:17-18.19-20.21.23
Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati.
*Wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat  untuk melenyapkan ingatan akan mereka dari muka bumi.  Apabila orang benar itu berseru-seru, Tuhan mendengarkan;  dari segala kesesakannya mereka Ia lepaskan.

*Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati,  Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.  Kemalangan orang benar memang banyak,  tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu.
*Ia melindungi segala tulangnya,  tidak satu pun yang patah. Tuhan membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya,  dan semua orang yang berlindung pada-Nya  tidak akan menanggung hukuman.

Bait Pengantar Injil  Mat 4:4b
Manusia hidup bukan dari roti saja,  tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.

Bacaan Injil  Yoh 7:1-2.10.25-30
Yesus berjalan keliling Galilea;  Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun.   Sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke sana, tidak terang-terangan tetapi diam-diam.  Beberapa orang Yerusalem berkata, “Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh? Lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa,  dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus?  Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya,  padahal bila Kristus datang,  tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya.” Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru,  “Memang Aku kamu kenal, dan kamu tahu dari mana asal-Ku;  namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi diutus oleh Dia yang benar, yang tidak kamu kenal.  Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia, dan Dialah yang mengutus Aku.”   Mereka berusaha menangkap Yesus, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia,  sebab saat-Nya belum tiba.
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan.

Kisah yang disuguhkan Injil Yohanes pada hari ini memperlihatkan kepada kita bagaimana ketidaksenangan beberapa orang Yahudi berkembang menjadi skenario untuk membunuh Yesus. Mereka ingin menghukum Yesus melalui jalan kematian yang memalukan. Berhadapan dengan situasi yang sulit ini  Yesus ingin menjauh dari Yudea ,tempat dimana orang orang Yahudi ingin membunuh-Nya. Namun akhirnya , Ia kesana juga dengan tidak terang terangan.  Satu sisi hidup-Nya yang menarik adalah bahwa Ia memilih untuk tidak memperlihatkan Diri sebagai Pribadi yang hebat. Ia tidak memperlihatkan Diri sebagai sosok yang gagah berani memberikan perlawanan kepada orang orang Yahudi. Sisi lain hidup-Nya yang menarik adalah Ia tetap setia mengajarkan kebenaran meskipun orang orang Yahudi ingin menangkap-Nya.  Apa yang dialami oleh Yesus bisa terulang dalam sejarah masa kini. Kita masih ingat bagaimana Uskup Oscar Romero, pejuang hak hak kaum miskin, dibunuh saat merayakan Ekaristi. Martin Luther king Jr. , tokoh yang  memperjuangkan kesamaan hak, juga dibunuh.   Sebagai murid Yesus  kita diajak untuk meneladani hidup-Nya, yaitu memperjuangkan kebenaran tanpa kekerasan. Memang salah satu resiko yang harus diterima oleh para pejuang kebenaran adalah mengalami ancaman sebagaimana yang Yesus alami. Bukankah Ia pernah berkata bahwa para pengikut-Nya  akan mengalami penganiayaan seperti yang Ia alami ? Mari kita ulurkan tangan kita  pada Tuhan dan mohon agar kita siap dan tidak takut meneruskan apa yang sudah diperjuangkan-Nya bersama dengan semua orang yang berkehendak baik.

Butir permenungan.

Orang-orang fasik berkata satu sama lain,  karena angan-angan mereka tidak tepat,  “Marilah kita menghadang orang yang baik,  sebab bagi kita ia menjadi gangguan  serta menentang pekerjaan kita. (Kebijaksanaan Salomo 2:12 )  Dalam perjalanan hidup kita, tentulah banyak orang yang mendukung kita, baik itu dalam bentuk materi maupun jasa. Tetapi tidak sedikit  juga yang tidak mendukung kita. Mungkin mereka menganggap kita kurang kompeten atau bisa juga karena mereka merasa terancam karena kehadiran kita. Misalnya ketika kita tidak ingin korupsi tetapi sementara ruang lingkup kita menganggap korupsi adalah hal yang baik dan menguntungkan mereka,  otomatis kita tidak akan disukai, bahkan kita dikucilkan atau bahkan bisa saja mereka bersekongkol untuk menyingkirkan kita , karena kita dianggap penghalang mereka.  Seperti pada bacaan pertama hari ini, dimana orang orang fasik bersekongkol untuk menyingkirkan orang benar. Dalam hal ini tentu akan timbul pergulatan dalam diri kita , kita mau tetap pada tekad kita menjadi orang baik atau bersekongkol ke dalam kefasikan, Satu hal yang mau saya katakana disini adalah tetaplah menjaga hati dan teruslah menjadi orang baik , meskipun kebaikan itu membawa kita pada penderitaan , kita dihina, dicemooh atau bahkan disingkirkan.  Tetapi jika kita mampu bertahan maka buah kebaikan itu bukan saja mendatangkan berkat bagi diri kita sendiri tetapi juga bagi orang lain.

Doa.

Ya Tuhan yang mahabaik, berilah kami umat-Mu kekuatan dan keberanian untuk meneruskan apa yang sudah diperjuangkan-Nya bersama dengan semua orang yang berkehendak baik.  Amin.

Manusia hidup bukan dari roti saja,  tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.

One thought on “Renungan Harian Katolik Jumat 27 Maret  2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *