Renungan Harian Katolik Jumat 27 September 2019

88 views

Bacaan Liturgi Jumat 27 September 2019

PW S. Vinsensius a Paulo, Imam

Bacaan Pertama  Hag 2:1b-10

Pada tahun kedua pemerintahan raja Darius,  pada tanggal 21 bulan ketujuh, datanglah sabda Tuhan dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya,  “Katakanlah kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak, imam besar,  dan kepada sisa bangsa Israel, demikian,  ‘Masih adakah di antara kalian  yang dahulu melihat rumah Tuhan dalam kemegahannya yang semula?  Dan bagaimanakah kalian lihat keadaannya sekarang?  Bukankah keadaannya yang sekarang  kamu katakan sama sekali tidak berarti?  Tetapi sekarang kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel,  demikianlah sabda Tuhan, kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar.   Kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri,  demikianlah sabda Tuhan.  Bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kalian,  demikianlah sabda Tuhan semesta alam, sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kalian  pada waktu kalian keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu.  Janganlah takut!”  Dan beginilah sabda Tuhan semesta alam,  ‘Sedikit waktu lagi   Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat.  Aku akan menggoncangkan segala bangsa,  sehingga harta benda semua bangsa datang mengalir.   Maka Aku akan memenuhi rumah ini dengan kemegahan.   Sebab milik-Kulah perak dan emas,  demikianlah sabda Tuhan semesta alam.  Maka kemegahan rumah ini nanti  akan melebihi kemegahannya yang semula,  sabda Tuhan semesat alam,  dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 43:1-4

Berharap dan bersyukurlah kepada Allah, penolong kita.

*Berikanlah keadilan kepadaku, ya Allah, dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh!  Luputkanlah aku dari penipu dan orang curang!

*Sebab Engkaulah Allah tempat pengungsianku. Mengapa Engkau membuang aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?

*Suruhlah terang dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun,

dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu!

*Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah sukacita dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi,

ya Allah, ya Allahku!

Bait Pengantar Injil  Mrk 10:45

Anak Manusia datang untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.

Bacaan Injil  Luk 9:19-22

Pada suatu ketika Yesus sedang berdoa seorang diri.   Maka datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Yesus lalu bertanya kepada mereka,

“Kata orang banyak siapakah Aku ini?”  Mereka menjawab, “Yohanes Pembaptis; ada juga yang mengatakan: Elia; ada pula yang mengatakan:

salah seorang nabi dari zaman dulu telah bangkit.”   Yesus bertanya lagi, “Menurut kalian, siapakah Aku ini?”   Jawab Petrus, “Engkaulah Kristus dari Allah.”  Dengan keras Yesus melarang mereka  memberitakan hal itu kepada siapa pun.  Ia lalu berkata,   “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan   dan ditolak oleh para tua-tua, oleh para imam kepala dan para ahli Taurat, lalu dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.

Pernahkah anda bertanya kepada sesama teman , “Menurutmu siapakah aku ini?” Pernahkah anda merasa berterima kasih kepada teman yang dapat menyebutkan banyak hal mengenai diri anda, baik dipandang dari sisi kelebihan maupun kekurangan? Kekuatan atau kelemahan? Yang sudah berkembang atau yang perlu dikembangkan? Ketika anda mengetahui bahwa teman anda mengungkapkan banyak hal tentang diri anda , maka satu hal yang jelas dan pasti adalah bahwa dia sangat memberi perhatian dan sangat mengenal anda. Hal itu tentu membuat anda merasa gembira karena dipandang sebagai pribadi yang punya arti.  Yesus mau mengetahui sejauh mana para murid mengenal diri-Nya, Ia memulai dengan pertanyaan yang mengarah kepada pendapat publik. “”Kata orang banyak siapakah Aku ini?”  Maka para murid menjawab berdasarkan apa yang mereka dengar dari pendapat orang banyak. Sesudah itu, Yesus mengarahkan pertanyaan kepada para murid  “Menurut kamu, siapakah Aku ini?”  Maka Petrus segera memberikan jawaban pengenalannya dengan berkata,  “Mesias dari Allah” Terlepas dari jawaban Petrus yang tepat, Yesus sendiri menghendaki agar

Pertama, para murid mengenal diri-Nya secara pribadi. Bila dikaitkan dengan tugas mendatang ketika Yesus tidak bersama mereka lagi, maka apa yang akan mereka wartakan tentang diri Yesus haruslah berangkat dari pengenalan pribadi tentang-Nya.

Kedua,  dari jauh hari mereka sudah harus mengenal bahwa Yesus bukan datang untuk menjadi raja yang memakai kuda perang melainkan justru akan mengalami penderitaan dan wafat disalib, bersediakah mereka menerima Mesias seperti itu?

Butir permenungan.

Bagaimana dengan kita yang mengakui Yesus sebagai Tuhan?  Apa kita bangga menjadi pengikut-Nya? Yesus sendiri bersabda  “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. “ (Luk 9:23)  Bangga menjadi pengikut Yesus harus siap menderita dan berjuang,  Sebagai pengikut Yesus , kita sering kali mendapat tantangan yang tidak ringan dari orang lain. “Bagaimana mungkin yang namanya Allah bisa disalib dan mati secara konyol” kata orang yang tidak memahami misteri sengsara, wafat  dan kebangkitan Yesus. Namun demikian , mari kita tetap bangga akan Yesus yang berbelas kasih, yang bersedia mati untuk menebus dosa kita.

Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami  pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. (Pkh 3:11)    Ayat diatas (beserta seluruh perikopnya) merupakan salah satu favorit saya dari seluruh Alkitab. Bagi saya kehidupan memang penuh up & down. Semuanya ada waktunya. Terkadang isaat saya bergumul, saya bertanya kepada Tuhan sampai kapan saya harus begini.  Kapan saya  akan menemukan jalan keluar dari permasalahan yang saya hadapi, entah masalah relasi, finansial, ataupun masa depan? Tetapi setiap saya membaca perikop ini , saya mengalami peneguhan bahwa Tuhan mempunyai waktu-Nya sendiri dan saya harus sabar menunggu, meskipun saya tidak tahu kapan waktunya Tuhan itu.  Dengan tetap percaya kepada-Nya , saya tidak akan pernah menyerah. Karena saya tahu , selalu ada yang menemani saya dan selalu ada pengharapan untuk masa yang akan datang. Saya tidak bisa memaksa  Tuhan untuk membuat semuanya indah saat ini juga. Saya tidak bisa memaksa Tuhan untuk mengambil masalah masalah saya .Yang bisa saya lakukan adalah berjalan bersama Tuhan demi mewujudkan impian dan target masa depan saya. Tuhan mempunyai waktu-Nya sendiri. Bersabar dan bertekunlah dalam kehidupan sehari hari.

Doa.

Ya  Tuhan yang mahapengasih, bantulah kami umat-Mu untuk berani menghadapi konsekwensi dari keputusan kami sebagai pengikut-Mu. Amin

Anak Manusia datang untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *