Renungan Harian Katolik Jumat 6 Desember 2019

521 views

Bacaan Liturgi Jumat 6 Desember 2019

PF S. Nikolaus, Uskup

Bacaan Pertama  Yes 29:17-24

Beginilah firman Tuhan,  “Tidak lama lagi Libanon akan berubah

menjadi kebun buah-buahan, kebun subur selebat hutan. Pada waktu itu

orang-orang tuli akan mendengar sabda sebuah kitab, dan mata orang-orang buta akan melihat, lepas dari kekelaman dan kegelapan. Orang-orang sengsara akan bersukaria di dalam Tuhan  dan orang-orang miskin di antara manusia akan bersorak-sorai  di dalam Yang Mahakudus Allah Israel. Sebab orang yang gagah sombong akan lenyap dan orang pencemooh akan habis. Semua orang yang berniat jahat akan dilenyapkan, yaitu mereka yang begitu saja menyatakan seseorang berdosa  di dalam suatu perkara, yang memasang jerat terhadap orang yang menegur mereka di pintu gerbang, dan yang menyalahkan orang benar dengan alasan yang dibuat-buat. Sebab itu beginilah firman Tuhan,  Allah kaum keturunan Yakub, yang telah membebaskan Abraham, “Mulai sekarang Yakub takkan lagi mendapat malu, dan mukanya tidak lagi pucat.  Sebab keturunan Yakub akan melihat karya tangan-Ku  di tengah-tengah mereka,  dan mereka akan menguduskan nama-Ku. Mereka akan menguduskan Yang Kudus Allah, dan mereka akan gentar kepada Allah Israel. Pada waktu itu orang-orang yang sesat pikiran  akan mendapat pengertian, dan mereka yang bersungut-sungut akan menerima pengajaran. “

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 27:1.4.13-14

Tuhan adalah terang dan keselamatanku.

*Tuhan adalah terang dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?  Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gentar?

*Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, satu inilah yang kuingini:

diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan, dan menikmati bait-Nya.

*Sungguh, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan  di negeri orang-orang yang hidup!  Nantikanlah Tuhan!   Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!   Ya, nantikanlah Tuhan!

Bacaan Injil  Mat 9:27-31

Sekali peristiwa ada dua orang buta mengikuti Yesus sambil berseru-seru,

“Kasihanilah kami, hai Anak Daud!”   Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah,  datanglah kedua orang itu kepada-Nya.  Yesus berkata kepada mereka,   “Percayakah kalian, bahwa Aku dapat melakukannya?”

Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.”  Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata,  “Terjadilah padamu menurut imanmu.”

Maka meleklah mata mereka.  Lalu dengan tegas Yesus berpesan kepada mereka,  “Jagalah, jangan seorang pun mengetahui hal ini.”  Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Yesus ke seluruh daerah itu.

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan

Kegembiraan dan kesedihan terungkap dalam hidup dan perilaku kita. Orang yang sedih, misalnya karena salah satu anggota keluarganya meninggal, akan menangis. Orang yang baru saja menerima surat bahwa lamaran kerjanya diterima, akan mengungkapkan kegembiraan dengan berteriak “ Yes, akhirnya akau mendapat pekerjaan” Tidak puas dengan teriakkan, orang bisa saja memeluk ibu atau bapaknya dengan erat, sambil meneteskan air mata. Itulah salah satu bentuk ungkapan kesedihan atau kegembiraan. Umumnya ungkapan itu spontan, tidak dibuat buat atau tidak dapat dipaksakan.   Bacaan Injil hari ini, menggambarkan ungkapan kegembiraan orang buta yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus, Walaupun dua orang buta sudah diwanti wanti (dipesan dengan sungguh sungguh) oleh Tuhan Yesus untuk tidak memberitahukan kepada yang orang lain, ternyata mereka malah memasyurkan keseluruh daerahnya. Mungkin anda berkomentar, “ Tuhan Yesus itu aneh, orang bahagia kok dilarang omong” Padahal ungkapan kebahagiaan itu spontan, keluar dan meluap dari hati dan diri sendiri. Dari kebutaannya orang menjadi melihat, ini merupakan pengalaman yang sungguh luar biasa. Dari kegelapan melihat  terang , orang bersyukur, bergembira, meluapkan kegembiraannya sehingga memasyurkan Tuhan Yesus.   Bagaimana dengan diri kita yang tidak buta, yang matanya bisa melihat?  Apakah kita mampu bersyukur dan memasyurkan Tuhan Yesus dengan peri laku dan hidup kita? Atau malah sebaliknya, kita membuat Tuhan Yesus “tersalib” kembali, “tertusuk” tombak lagi hati-Nya? Ya, Tuhan Yesus merasa  tersalib kembali karena kata kata kita , karena perilaku kita yang memalukan?  Karena kemalasan dan keteledoran kita. Bukankah kita sebenarnya buta?

Butir permenungan

Nabi Yesaya menyataan bahwa orang pertama yang menanggapi panggilan Allah adalah orang orang sederhana. Mereka adalah para bisu tuli, buta, timpang dan tertindas.  Apakah karena pertama tama mereka  membutuhkan kesembuhan?  Bukan, mereka adalah orang orang yang menyerahkan  seluruh keberadaannya hidupnya kepada Allah. Karena penyerahan diri secara total  (baca : Iman) inilah, mereka disembuhkan. Hal yang mirip tampak dalam kisah penyembuhan dua orang buta. Keduanya berseru kepada Yesus . Kalimat pertama yang diungkapkan adalah  “ Kasihanilah kami, hai Anak Daud” Sepintas tampak aneh , mengapa mereka tidak langsung menyatakan “Sembuhkanlah kami, hai Anak Daud” bukanlah hal yang paling mereka butuhkan adalah kesembuhan dari kebutaan. Ternyata penyerahan diri mereka pada belas kasih Allah , menjadikan mereka sembuh. Sikap penuh harap mengandalkan adanya iman . Iman menjadi landasan dan alasan mengapa kita boleh berharap . Iman itu tidak memaksakan kehendah kita, sebaliknya mempersilahkan Allah bertindak bagi kehidupan kita , Tanpa diminta sekalipun Allah pasti melakukan yang terbaik bagi kita, Maka marilah kita berserah dan mohon belas kasih Allah biarkanlah Allah berkarya selaras kehendak-Nya bagi keselamatan kita.

Doa

Ya Bapa, ajarilah kami agar hidup kami tidak mengecewakan-Mu  karena perilaku kami yang memalukan, Amin

*Tuhan adalah terang dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?  Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gentar?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *