Renungan Harian Katolik Jumat 7 Februari 2020

633 views

Renungan Harian Katolik Berdasarkan Kalender Liturgi Jumat 7 Februari 2020
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I  Sir 47:2-11
Seperti lemak disendirikan untuk korban penghapus dosa,  demikianlah Daud dipungut dari orang-orang Israel. Singa dipermainkan olehnya seolah-olah kambing jantan saja,  dan beruang seakan-akan hanyalah anak domba. Bukankah di masa mudanya ia membunuh seorang raksasa dan mengambil nista dari bangsanya  dengan melemparkan batu dari pengumban dan mencampakkan kecongkakan Goliat?  Karena berseru kepada Tuhan Yang Mahatinggi, yang memberikan kekuatan kepada tangan kanannya,  maka Daud merebahkan orang yang gagah dalam pertempuran, sedangkan tanduk bangsanya ditinggikannya.  Itulah sebabnya ia disanjung-sanjung karena “laksaan”  dan dipuji-puji oleh karena berkat-berkat dari Tuhan, ketika mahkota yang mulia dipersembahkan kepadanya.  Sebab ia membasmi segala musuh di kelilingnya, dan meniadakan orang-orang Filistin, lawannya,  serta mematahkan tanduk mereka hingga hari ini.  Dalam segala tindakannya Daud menghormati Tuhan, dan dengan kata sanjungan kepada Yang Kudus, Yang Mahatinggi. Ia bernyanyi-nyanyi dengan segenap hati, dan mengungkapkan kasihnya kepada Sang Pencipta. Di depan mezbah ditaruhnya kecapi, dengan bunyinya ia memperindah lagu dan kidung. Ia memberikan kemeriahan kepada segala perayaan,  dan hari-hari raya diaturnya secara sempurna. Maka orang memuji-muji Nama Tuhan yang kudus, dan mulai pagi-pagi benar  suara orang bertalu-talu di tempat kudus-Nya.  Tuhan mengampuni segala dosanya  serta meninggikan tanduknya untuk selama-lamanya. Tuhan menjanjikan kerajaan yang lestari, dan menganugerahkan kepadanya takhta yang mulia di Israel!
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 18:31.47.50.51
Mulialah Allah, penyelamatku.
*Jalan Allah itu sempurna, janji Tuhan adalah murni;  Dia menjadi perisai
bagi semua orang yang berlindung pada-Nya.

 *Tuhan itu hidup!  Terpujilah gunung batuku  dan mulialah Allah Penyelamatku!  Maka aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu  di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan;
dan aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.

*Tuhan mengaruniakan keselamatan yang besar  kepada raja yang diangkat-Nya;  dan menunjukkan kasih setia  kepada orang yang diurapi-Nya, yakni Daud dan anak cucunya  untuk selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil  Luk 8:15
Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah  dalam hati yang baik dan tulus ikhlas, dan menghasilkan buah berkat ketabahannya.

Bacaan Injil  Mrk 6:14-29
Pada waktu itu Raja Herodes mendengar tentang Yesus,  sebab nama-Nya memang sudah terkenal, dan orang mengatakan,  “Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati,  dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia.”   Yang lain mengatakan, “Dia itu Elia!”  Yang lain lagi mengatakan,  “Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu.”
Waktu Herodes mendengar hal itu, ia berkata,  “Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya,  dan kini bangkit lagi.”  Memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes  dan membelenggunya di penjara  berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya,  karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri.  Karena Yohanes pernah menegur Herodes,  “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!”   Karena kata-kata itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes  dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat,  sebab Herodes segan akan Yohanes  karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci,  jadi ia melindunginya.  Tetapi setiap kali mendengar Yohanes,  hati Herodes selalu terombang-ambing,  namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.  Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes – pada hari ulang tahunnya – mengadakan perjamuan untuk pembesar, para perwira dan orang-orang terkemuka di Galilea.  Pada waktu itu puteri Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya.
Maka Raja berkata kepada gadis itu,  “Minta dari padaku apa saja yang kauingini,  maka akan kuberikan kepadamu!”  Lalu Herodes bersumpah kepadanya,  “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu,
sekalipun itu setengah dari kerajaanku!”  Anak itu pergi dan menanyakan ibunya,  “Apa yang harus kuminta?”  Jawab ibunya, “Kepala Yohanes Pembaptis!”  Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta,  “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku  kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!”  Maka sangat sedihlah hati raja!  Tetapi karena sumpahnya  dan karena segan terhadap tamu-tamunya,  ia tidak mau menolaknya.  Raja segera menyuruh seorang pengawal  dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes.  Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara.  Ia membawa kepala itu di sebuah talam  dan memberikannya kepada gadis itu, dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.  Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu  mereka datang dan mengambil mayatnya,  lalu membaringkannya dalam kuburan.
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan.

Sekitar bulan Juni 2007, bangsa Indonesia tersentak nuraninya oleh nasib tragis sejumlah guru yang tergabung dalam Komunitas Air Mata Bunda. Mereka diejek, dituduh sok suci, diancam secara fisik, diturunkan atau ditunda kenaikkan pangkatnya, diminta untuk mengundurkan diri, bahkan diperhentikan dari profesinya. Apa kesalahan mereka? Mereka membongkar kebocoran dan kecurangan ujian nasional.  Dalam Injil hari ini kita mendengar kisah kemartiran Santo Yohanes Pembaptis, suatu keberanian yang luar biasa. Demi sebuah prinsip, dia rela menderita, Demi nilai yang dibelanya, dia rela mati ditangan penguasa yang lalim, Raja Herodes bersama Herodias, istrinya. “Tidak halal engkau mengambil istri saudaramu” kata Yohanes menegur Herodes. Tentu Yohanes sudah tahu akibat yang akan menimpa dirinya, karena berani menegur orang yang berkuasa itu. Keberanian untuk menegakkan nilai moral dan religius seperti ini tidak dimiliki oleh banyak orang. Dan Yohanes Pembaptis hanyalah salah satu contoh yang langka. Seperti Daud muda yang berhadapan dengan raksasa Goliat dalam bacaan pertama (Sir 47:2-11). Yohanes tidak gentar menegur penguasa yang secara lalim melanggar hukum Tuhan. Dan, kematiannya adalah kemenangan itu sendiri.  Memperjuangkan kejujuran, nilai nilai moral dan religius menuntut keberanian dan pengorbanan, bahkan nyawa. Darah para martir telah banyak tertumpah demi penegakan kebenaran dan keadilan dalam masyarakat. Santa Agata , gadis belia dari Sisilia, yang kemartirannya kita peringati hari ini, juga telah menjadi korban kelaliman penguasa pada zamannya.

Butir permenungan.

Perayaan dan peringatan para martir seperti yang kita lakukan hari ini ,  mengundang kita untuk merenungkan kembali cara kita menghayati dan mengamalkan iman kita. Ini adalah tantangan yang tidak ringan, khususnya karena posisi kita sebagai orang kecil dan kelompok minoritas. Menjadi pengikut Kristus memang menuntut keberanian.

Doa.

Ya  Tuhan yang mahabaik, ajarilah kami umat-Mu untuk berani memberi kesaksian seperti para martir-Mu. Amin.

Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah  dalam hati yang baik dan tulus ikhlas, dan menghasilkan buah berkat ketabahannya.

2 thoughts on “Renungan Harian Katolik Jumat 7 Februari 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *