Renungan Harian Katolik Kamis 19 Maret 2020

684 views

Kalender Liturgi Kamis 19 Maret 2020

Warna Liturgi: Putih


Bacaan I  2Sam 7:4-5a.12-14a.16
Pada suatu malam  datanglah firman Tuhan kepada Natan,  “Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman Tuhan:  Apabila umurmu sudah genap, dan engkau telah mendapat istirahat bersama nenek moyangmu, Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian,  anak kandungmu,  dan Aku akan mengokohkan kerajaannya.  Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku,  dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya  untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Keluarga dan kerajaanmu  akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku,  takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.”
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 89:2-3.4-5.27.29
Anak cucunya akan lestari untuk selama-lamanya.
*Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya,  hendak menuturkan kesetiaan-Mu turun-temurun.  Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya;  kesetiaan-Mu tegak seperti langit.
*Engkau berkata, “Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku,  Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku:  Aku hendak menegakkan anak cucumu untuk selama-lamanya, dan membangun takhtamu turun-temurun.”
*Dia pun akan berseru kepada-Ku, “Bapakulah Engkau,  Allahku dan gunung batu keselamatanku.  Aku akan memelihara kasih setia-Ku bagi dia
dan perjanjian-Ku dengannya akan Kupegang teguh.”

Bacaan II  Rom 4:13.16-18.22
Saudara-saudara,  Bukan karena hukum Taurat  Abraham dan keturunannya diberi janji  bahwa mereka akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran atas dasar iman.  Kebenaran yang berdasarkan iman itu   merupakan kasih karunia belaka.  Maka janji kepada Abraham itu berlaku bagi semua keturunannya, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham.  Sebab di hadapan Allah Abraham adalah bapa kita semua,  seperti ada tertulis,  “Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa.”  Kepada Allah itulah Abraham percaya,  yaitu Allah yang menghidupkan orang mati  dan yang dengan firman-Nya   menciptakan yang tidak ada menjadi ada.  Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap,  Abraham toh berharap dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa,  sebab Allah telah berfirman kepadanya, “Begitu banyaklah nanti keturunanmu.” Dan hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.
Demikianlah sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil  Mzm 84:5
Berbahagialah orang yang diam di rumah-Mu,  yang memuji-muji Engkau tanpa henti.

Bacaan Injil  Mat 1:16.18-21.24a
Menurut silsilah Yesus Kristus, Yakub memperanakkan Yusuf, suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.  Sebelum Kristus lahir, Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf. sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.   Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati,  dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.  Tetapi ketika Yusuf mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata,  “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu,  sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.  Maria akan melahirkan anak laki-laki,  dan engkau akan menamakan Dia Yesus,  karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya  dari dosa mereka.”  Sesudah bangun dari tidurnya,  Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu
kepadanya.
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan.

Peristiwa mengandungnya Maria merupakan peristiwa panggilan Yusup . Dia bukan sekedar pelengkap , tetapi terlibat langsung pada karya keselamatan. Awalnya , Yusup yang disebut sebagai orang benar itu tidak ingin mempermalukan tunangannya. Jadi, dia berencana menceraikan Maria  secara diam  diam , Tetapi, mendiamkan begitu saja kasus Maria, juga tidak benar. Peristiwa aib tidak boleh dibiarkan begitu saja. Desakan berbagai rencana ini sungguh membingungkan dirinya. Dalam kebingungan itulah , suara Allah hadir, menjelaskan jati diri anak yang dikandung Maria. Dia beriman dan menerima penjelasan itu, lalu memberi nama anak itu Yesus. Tindakan ini memiliki arti memasukkan Yesus dalam garis keturunan Daud. Itulah bentuk awal keterlibatannya. Selanjutnya dia harus senantiasa menjaga imannya , menjaga kemurnian Maria dan menjaga Yesus .  Jawaban Maria “ Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan –Mu  itu” kini juga menjadi jawaban Yusup.   Kita pun dipanggil untuk terlibat langsung dalam karya keselamatan Allah . Untuk itu, kita menjadi guru , pegawai negeri , pegawai bank, ibu rumah tangga, mahasiswa biasa, atau seorang murid sekolah SMA. Lewat karir baik yang kita jalani, Allah mau melibatkan kita dalam menyelamatkan dunia. Selanjutnya , seperti Yusup, saat kita menyatakan Ya, maka ada saja yang harus kita perjuangkan.Misalnya , begitu Ya menjadi guru, maka dikelas ada anak yang sangat membutuhkan perhatian . Saat itulah seorang guru sedang bertaruh panggilannya , mau memperhatikan masalah itu atau mengabaikannya. Seperti Yusup ketika menyatakan Ya pada rahmat, maka dia harus melarikan Maria dan Anaknya ke Mesir , demi keselamatan mereka. Kita pun seperti Yusup.  Syukurlah , bukan hanya tanggung jawab, tetapi juga rahmat menyertai kita.  Ada berbagai macam bentuk rahmat-Nya , seperti saat ditegur, dikuatkan , atau mendapat perlindungan-Nya.  Rahmat harus kita andalkan , agar mengarahkan tindakan. Untuk itu , kita harus belajar mengatakan , “Aku ini hamba Tuhan , terjadilah padaku menurut perkataanmu, itu.”  Saat kita belajar meresapi kalimat itu  maka panggilan Maria dan panggilan Yusup adalah panggilan kita juga. Panggilan untuk menjadi hamba-Nya.

Butir permenungan.

Dalam kisah perikop ini kita mengagumi pribadi Yusup yang tulus hati . Ia tidak mementingkan harga dirinya , melainkan mengarahkan dirinya pada keselamatan Maria dan Anaknya. Selain itu , Yusup adalah pribadi yang sangat peka akan bisikan Tuhan melalui malaikat dalam hidupnya. Ketulusan hati dan kepekaan akan bisikan Tuhan inilah yang memampukan Yusup turut berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah dalam diri Yesus.  Kita bersama sama merayakan masa Adven , masa penantian kita untuk menyambut kelahiran Sang Juru Selamat kita. Dalam penantian ini, kita perlu belajar dari Yusup untuk menjadi pribadi yang tulus  dan peka akan bisikan Tuhan dalam pelayanan kita bagi keluarga kita dan sesama.   Menjadi pribadi yang tulus , menjadikan kita damai dan tetap  bersuka cita dalam pelayanan, ketika pelayanan kita tidak dimengerti, ditolak, dan tidak ada ucapan terima kasih yang ditujukan kepada kita. Menjadi pribadi yang peka akan bisikan Tuhan, menjadikan segala yang kita lakukan dalam pelayanan, senantiasa dibimbing oleh Tuhan. Dengan bimbingan Tuhan kita akan menemukan jalan yang baik dalam hidup dan pelayanan kita keselamatan keluarga kita dan sesama. Untuk hal ini , betapa pentingnya kita mengusahakan saat saat hening untuk berelasi dengan Tuhan dalam kehidupan kita. Mari kita siapkan diri untuk menyambut Sang Juru Selamat kita dengan menjadi pribadi yang tulus hati dan pendengar bisikan Tuhan.

Doa.

Ya Tuhan mampukanlah kami untuk mengubah keadaan sulit  dalam hidup kami menjadi berkat bagi kami dan bagi semua orang. Amin.

Berbahagialah orang yang diam di rumah-Mu,  yang memuji-muji Engkau tanpa henti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *