Renungan Harian Katolik Kamis 3 Oktober 2019

78 views

Bacaan Liturgi Kamis 3 Oktober 2019

Bacaan Pertama  Neh 8:1-4a.5-6.7b-12

Sesudah kembali dari pembuangan, orang-orang Israel telah menetap kembali di kota-kota mereka.  Lalu pada bulan ketujuh berkumpullah seluruh rakyat di lapangan di muka gerbang Air di Yerusalem.  Mereka meminta kepada Ezra, ahli kitab, supaya membawa kitab Taurat Musa,

yakni kitab hukum yang diberikan Tuhan kepada Israel.  Dan pada hari pertama bulan ketujuh itu   Imam Ezra membawa kitab Taurat itu ke depan jemaah, pria, wanita dan semua yang dapat mendengar dan mengerti.

Ia membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di depan pria, wanita dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu. Adapun Ezra, ahli kitab, berdiri di atas mimbar kayu  yang dibuat khusus untuk peristiwa itu. Ia membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang.   Pada waktu ia membuka kitab semua orang bangkit berdiri.

Lalu Ezra memuji Tuhan, Allah yang mahaagung, dan semua orang menjawab, “Amin! Amin,”   sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut, dan sujud menyembah Tuhan dengan muka sampai ke tanah.

Para Lewi menjelaskan hukum itu kepada jemaat, sementara rakyat berdiri di tempatnya.  Bagian-bagian kitab Taurat Allah dibacakan dengan jelas,

dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti.

Lalu Nehemia, kepala daerah, dan imam Ezra, ahli kitab, serta orang-orang Lewi yang mengajar jemaat, berkata kepada seluruh hadirin, ‘Hari ini adalah kudus bagi Tuhan Allahmu. Kalian jangan berdukacita dan menangis!” Karena semua orang itu menangis, ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat.  Lalu berkatalah Nehemia kepada mereka,   “Pergilah, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis; dan berikanlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa!  Sebab hari ini kudus bagi Tuhan kita.   Janganlah bersusah hati, tetapi bersukacitalah karena Tuhan,   sebab sukacita karena Tuhanlah perlindunganmu.”  Juga orang-orang Lewi menyuruh semua orang itu diam  dengan kata-kata,   “Tenanglah! Hari ini hari kudus. Jangan bersusah hati!”  Maka pergilah semua orang untuk makan dan minum,  untuk membagi-bagi makanan dan berpesta ria,   karena mereka mengerti segala sabda yang diberitahukan kepada mereka.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 19:8-11

Titah Tuhan tepat, menyenangkan hati.

*Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang bersahaja.

*Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata ceria.

*Takut akan Tuhan itu suci, tetap untuk selamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil selalu.

*Lebih indah daripada emas, bahkan daripada emas tua; dan lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu-tetesan dari sarang lebah.

Bait Pengantar Injil  Mrk 1:15

Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.

Bacaan Injil  Luk 10:1-12

Pada waktu itu,  Tuhan menunjuk tujuh puluh murid.  Ia mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.  Berkatalah Ia kepada mereka,   “Tuaian banyak, tetapi pekerjanya sedikit!   Sebab itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja ke tuaian itu. Pergilah!  Camkanlah, Aku mengutus kalian seperti anak domba  ke tengah-tengah serigala.  Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan.  Kalau memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu, ‘Damai sejahtera bagi rumah ini.’   Dan jika di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya.

Tetapi jika tidak, maka salammu kembali kepadamu.  Tinggallah dalam rumah itu,   makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu,

sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.  Janganlah berpindah-pindah rumah.  Jika kalian masuk ke dalam sebuah kota dan diterima di situ,  makanlah apa yang dihidangkan kepadamu,  dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ.   Dan katakanlah kepada mereka, ‘Kerajaan Allah sudah dekat padamu.’  Tetapi jika kalian masuk ke dalam sebuah kota dan tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah,  ‘Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami,  kami kebaskan di depanmu.  Tetapi ketahuilah ini: ‘Kerajaan Allah sudah dekat.’   Aku berkata kepadamu, pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.

Disebuah sekolah, seorang anak berkata kepada teman temannya,” Apa yang tidak dapat dibeli dengan uang sekarang ini?  Katakan dan saya akan menyampaikannya kepada orang tua saya. Apa yang tadinya tidak mungkin, dengan uang akan menjadi mungkin” Ini adalah sebuah kesombongan. Anak ini mengira uang adalah segala galanya.   Non scholae,sed vitae discimus, sebuah pepatah Latin yang artinya  “Kita belajar bukan untuk sekolah (memperoleh ijasah) , tetapi untuk hidup” Begitulah Yesus mengajar para murid-Nya, Yesus menggembleng mereka, bukan sekedar pemahaman intelektual namun juga soal hati yang menghayati setiap bulir ajaran-Nya, melalui karya belas kasih pada sesama.   Yesus mengutus murid murid untuk mewartakan Kabar Gembira bahwa setiap orang dicintai Allah dan diberi damai sejahtera. Yesus yang mengenal setiap orang yang dipanggil dan diutus-Nya ingin melihat bagaimana cinta dan damai yang telah mereka rasakan dapat dialami juga oleh setiap orang yang mereka jumpai dalam perutusan.  Bagi Yesus , tidak ada istilah “anak emas” Yesus tidak melihat murid murid-Nya  karena materi, kedudukan dan kepintaran. Bagi Yesus , hal  yang terpenting adalah kesediaan mereka untuk diutus dan keinginan untuk terus belajar. Karena itu, Yesus semakin menantang mereka untuk tidak membawa pundi pundi , bekal  atau kasut. Para murid harus fokus kepada pewartaan  tanpa terikat dan tergantung pada materi Mereka tidak perlu cemas akan hal hal duniawi karena Dia sendiri akan menyertai mereka.

Yesus sudah bernubuat,  “Aku mengutus kamu seperti anak domba ditengah tengah serigala”  Para murid akan mengalami banyak tantangan dan perjuangan. Misalnya berupa penolakan dari orang orang yang mereka jumpai. Namun , tantangan yang lebih berat yaitu menaklukkan keegoisan diri sendiri untuk setia dalam perutusan Yesus.

Butir permenungan.

Bagaimana dengan perutusan kita selama ini ? Tempat pertama perutusan kita mulai dari keluarga . Perutusan dalam keluarga dapat diungkapkan melalui komunikasi antar anggota keluarga, sikap lemah lembut,  tidak mau menang sendiri, rendah hati, saling menerima pribadi lain apa adanya dan saling menjaga kerukunan. Semua ini tidak bisa dibeli dengan uang.

Doa

Ya Tuhan yang mahabaik, kami percaya bahwa Engkau senantiasa menyertai kami umat-Mu sampai akhir zaman. Semoga hatiku terbuka untuk melihat tanda tanda kehadiran-Mu yang menyelamatkan dalam setiap peristiwa hidup yang kami alami.  Amin.

Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *