Renungan Harian Katolik Kamis 5 Desember 2019

454 views

Bacaan Liturgi  Kamis 5 Desember 2019

Bacaan Pertama  Yes 26:1-6

Pada waktu itu nyanyian ini akan dinyanyikan di tanah Yehuda:  “Kita mempunyai kota yang kuat!  Tuhan telah memasang tembok dan benteng

untuk keselamatan kita. Bukalah pintu-pintu gerbangnya, agar masuklah bangsa yang benar dan yang tetap setia. Engkau menjaga orang yang teguh hatinya dengan damai sejahtera,  sebab ia percaya kepada-Mu.

Percayalah kepada Tuhan selama-lamanya, sebab Tuhan Allah adalah gunung batu yang kekal. Kota-kota di atas gunung telah ditaklukkan-Nya;

benteng-benteng yang kuat telah dirobohkan-Nya,  diratakan dengan tanah dan dicampakkan-Nya menjadi debu. Kaki orang-orang sengsara dan telapak orang-orang lemah akan menginjak-injaknya.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 118:1.8-9.19-21.25-27a

Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan.

*Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik!  Kekal abadi kasih setia-Nya.

Lebih baik berlindung pada Tuhan daripada percaya kepada insan!

Lebih baik berlindung pada Tuhan daripada percaya kepada para bangsawan!

*Bukakan aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya,

hendak mengucap syukur kepada Tuhan. Inilah pintu gerbang Tuhan,

orang-orang benar akan masuk ke dalamnya. Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku.

*Ya Tuhan, berilah kiranya keselamatan! Ya Tuhan, berilah kiranya kemujuran! Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan!   Kami memberkati kamu dari dalam rumah Tuhan. Tuhanlah Allah, Dia menerangi kita. Ikatkanlah korban hari raya itu dengan tali pada tanduk-tanduk mezbah.

Bait Pengantar Injil  Yes 55:6

Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya, selama Ia dekat.

Bacaan Injil  Mat 7:21.24-27

Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya,  “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, ‘Tuhan! Tuhan’  akan masuk Kerajaan Surga,  melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga. Semua orang yang mendengar perkataan-Ku dan melakukannya,  ia sama dengan orang bijaksana  yang membangun rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu. Tetapi rumah itu tidak roboh sebab dibangun di atas batu.  Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku  dan tidak melakukannya,  ia sama dengan orang bodoh, yang membangun rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu.   Maka robohlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.

Setiap orang yang percaya kepada Tuhan hendaklah menaruh hidupnya kepada perintah dan ajarannya, sebab ajaran Tuhan seperti pelita yang menerangi langkah manusia, ketika kegelapan melanda kehidupannya.  Ajaran Tuhan merupakan pedoman dan tuntunan untuk menemukan arti dan makna hidup yang sebenarnya. Matius dalam Injil hari ini menjelaskan hal itu. Orang yang percaya kepada Tuhan dengan mendengarkan perkataan dan melaksanakan ajaran-Nya merupakan orang yang bijaksana.  Orang bijaksana diumpamakan dengan orang yang membangun rumah diatas batu, sehingga tidak roboh ketika badai dan banjir melanda. Sedangkan orang yang mengabaikan ajaran Tuhan adalah orang bodoh, mereka membangun rumah diatas pasir. Ketika banjir datang , rumah mereka hancur karena tidak kokoh.  Ajaran Tuhan adalah dasar yang memungkinkan kita bertahan hidup. Ketika badai penderitaan dan cobaan datang setidaknya ada dasar kokoh bagi kita untuk bertahan. Jika kita tidak mempunyai pegangan yang kokoh,  maka kita seperti orang bodoh yang membangun rumah diatas pasir. Ketika badai datang , dengan mudahnya kita hancur dan terbawa badai.  Ketika Yesus disalibkan, hanya satu kekuatannya, yaitu kehendak Allah.  Yesus terbuka terhadap perkataan dan kehendak Allah sehingga Dia begitu kuat dan akhirnya menyelesaikan misi-Nya.

Butir permenungan

Masa penantian penuh harap akan kedatangan Sang Imanuel menjadi kesempatan bagi kita. Dalam masa itu, kita dapat mewujudkan kesiapan hati untuk terbuka menerima hal hal baik dan nilai nilai baru. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah mendasari hidup kita dengan dasar dasar yang kokoh  Itu semua dapat dilakukan layaknya seorang yang akan membangun  rumah. Pembangunan rumah dengan dasar yang kokoh tampaknya menjadi aktual dengan peristiwa gempa yang melanda beberapa daerah dinegara kita ini.  Dalam hal ini , Begawan Arsitek lulusan Jerman  Romo Mangunwijaya (alm) pernah mengingatkan kita untuk membangun rumah dengan menggunakan bahan bahan yang akrab  dengan alam Indonesia , misalnya kayu atau bambu. Romo Mangun ternyata membawa kita kembali pada kearifan lokal warisan nenek moyang. Kita bisa melihat hasil karyanya, komplek Gua Maria Lourdes Sendangsono, rumah rumah dibantaran Kali Code, serta beberapa rumah gaya Jawa dan gaya campuran yang ternyata tahan gempa dan natural. Dengan konsep pembangunan rumah ala Romo Mangun , kita diingatkan untuk peduli dengan alam semesta tempat kita hidup , untuk peka dan tidak membangun “hanya” sekedar berdasarkan trend zaman.  Belajar dari semua itu, bagaimana kita membangun  kehidupan kita? Kekokohan hidup kita senantiasa akan diuji oleh berbagai hal. Siapkah kita bila diri kita sewaktu waktu “roboh” dan menghadap Bapa?  Kenangkanlah para pejuang yang mati karena mereka memperjuangkan  kebenaran dan keadilan. Berdoalah agar harapan akan damai sejahtera sejati (bdk Yesaya 11:6-10) tidak akan pernah padam.

Doa

Ya Bapa yang Mahabaik, limpahkanlah damai sejahtera kepada keluarga kami, agar kami dapat semakin dekat dengan –Mu, dan selalu melaksanakan kehendak-Mu. Amin

Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya, selama Ia dekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *