Renungan Harian Katolik Minggu 22 Maret 2020

737 views

Kalender Liturgi Minggu 22 Maret 2020
Warna Liturgi: Ungu

Bacaan I  1Sam 16:1b.6-7.10-13a
Setelah Raja Saul ditolak,  berfirmanlah Tuhan kepada Samuel, “Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah.  Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu,  sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.”  Ketika anak-anak Isai itu masuk,  dan ketika melihat Eliab, Samuel berpikir,  “Sungguh, di hadapan Tuhan sekarang berdiri yang diurapi-Nya.”  Tetapi berfirmanlah Tuhan kepada Samuel,  “Janganlah terpancang pada paras atau perawakan yang tinggi,  sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”  Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel,   tetapi Samuel berkata kepada Isai,  “Semuanya ini tidak dipilih Tuhan.”  Lalu Samuel berkata kepada Isai,  “Inikah semua anakmu?”  Jawab Isai,  “Masih tinggal yang bungsu,  tetapi ia sedang menggembalakan kambing domba.”  Kata Samuel kepada Isai, “Suruhlah memanggil dia,  sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari.”  Kemudian disuruhnyalah menjemput dia.  Kulitnya kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok.  Lalu Tuhan berfirman,  “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.”  Samuel mengambil tabung tanduknya yang berisi minyak itu,  dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6
Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan.
*Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan . Ia membaringkan aku di padang rumput yang hijau.  Ia membimbing aku ke air yang tenang
dan menyegarkan daku.

 *Ia menuntun aku di jalan yang lurus  demi nama-Nya yang kudus.
Sekalipun berjalan dalam lembah yang kelam, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.  Tongkat gembalaan-Mu, itulah yang menghibur aku.
*Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan segala lawanku.
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak,  pialaku penuh melimpah.
*Kerelaan dan kemurahan-Mu mengiringi aku, seumur hidupku. Aku akan diam di dalam rumah Tuhan  sepanjang masa.

Bacaan II  Ef 5:8-14
Saudara-saudara,  memang dahulu kamu adalah kegelapan,  tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan.  Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang.  Karena terang hanya berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran.  Ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.  Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan kegelapan  yang tidak berbuahkan apa-apa,  tetapi sebaliknya, telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.
Sebab menyebutkan saja apa yang mereka buat di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan.  Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak,  sebab semua yang nampak adalah terang. Itulah sebabnya dikatakan,  “Bangunlah, hai kamu yang tidur, dan bangkitlah dari antara orang mati, maka Kristus akan bercahaya atas kamu.”
Demikianlah sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil  Yoh 8:12b
Akulah terang dunia, sabda Tuhan. Barangsiapa mengikuti Aku mempunyai terang hidup.

Bacaan Injil  Yoh 9:1-41
Sekali peristiwa, ketika Yesus sedang berjalan lewat,  Ia melihat seorang yang buta sejak lahir.  Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya,  “Rabi, siapakah yang berbuat dosa,  orang ini sendiri atau orang tuanya,  sehingga ia dilahirkan buta?”  Jawab Yesus,  “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya,  tetapi karena pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku,  selama masih siang.  Akan datang malam, di mana tak seorang pun dapat bekerja.  Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.”  Sesudah mengatakan semua itu,  Yesus meludah ke tanah, dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah,  lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi  dan berkata kepadanya,  “Pergilah, basuhlah dirimu di kolam Siloam.”  Siloam artinya: “Yang diutus.”  Maka pergilah orang itu. Ia membasuh dirinya,  lalu kembali dengan matanya sudah melek.  Maka tetangga-tetangganya,  dan mereka yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata,  “Bukankah dia ini yang selalu mengemis?”  Ada yang berkata, “Benar, dialah ini!”   Ada pula yang berkata,  “Bukan, tetapi ia serupa dengan dia.”  Orang itu sendiri berkata, “Benar, akulah dia.”  Kata mereka kepadanya, “Bagaimana matamu menjadi melek?”  Jawabnya, “Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah,  mengoleskannya pada mataku,  dan berkata kepadaku:  Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu.  Lalu aku pergi, dan setelah membasuh diri,  aku dapat melihat.”  Lalu mereka berkata kepadanya, “Di manakah Dia?”  Jawabnya, “Aku tidak tahu.”  Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu  kepada orang-orang Farisi.  Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu,  adalah hari Sabat.  Karena itu orang-orang Farisi pun bertanya kepadanya,  bagaimana matanya menjadi melek.  Jawabnya, “Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat.”  Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu,  “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.”  Sebagian pula berkata,  “Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?” Maka timbullah pertentangan di antara mereka.  Lalu kata mereka pula kepada orang yang tadinya buta itu, “Dan engkau, karena Ia telah memelekkan matamu,  apakah katamu tentang Dia?”  Jawabnya, “Ia seorang nabi!”  Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya,  bahwa tadinya ia buta dan baru dapat melihat. Maka mereka memanggil orangtuanya, dan bertanya kepada mereka,  “Inikah anakmu yang kamu katakan lahir buta?  Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?”  Jawab orangtua itu, “Yang kami tahu dia ini anak kami,  dan ia memang lahir buta.  Tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu;  dan siapa yang memelekkan matanya, kami juga tidak tahu.  Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa; ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri.”  Orangtuanya berkata demikian,  karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat  bahwa setiap orang yang mengakui Yesus sebagai Mesias,  akan dikucilkan.  Itulah sebabnya maka orangtua itu berkata,  “Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri.”  Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu,  dan berkata kepadanya,  “Katakanlah kebenaran di hadapan Allah:   Kami tahu bahwa orang itu orang berdosa.”  Jawabnya, “Apakah Dia itu orang berdosa, aku tidak tahu!  Tetapi satu hal yang aku tahu, yaitu: Aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat.”  Kata mereka kepadanya,  “Apakah yang diperbuat-Nya padamu?  Bagaimana Ia dapat memelekkan matamu?” Jawabnya, “Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya.  Mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi?  Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga?”  Sambil mengejek,  orang-orang Farisi berkata kepadanya,  “Engkau saja murid orang itu, tetapi kami murid-murid Musa.  Kami tahu bahwa Allah telah berfirman kepada Musa,  tetapi tentang Dia itu, kami tidak tahu dari mana Ia datang.” Jawab orang itu kepada mereka, “Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang,  padahal Ia telah memelekkan mataku.  Kita tahu bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa,  melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya.  Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta.  Jikalau orang itu tidak datang dari Allah,  Ia tidak dapat berbuat apa-apa.”  Jawab mereka,  “Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa,  dan engkau hendak mengajar kami?”  Lalu mereka mengusir dia ke luar.  Yesus mendengar bahwa orang itu telah diusir ke luar oleh orang-orang Farisi.  Maka, ketika bertemu dengan dia, Yesus berkata,  “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?”  Jawabnya, “Siapakah Dia, Tuhan?  Supaya aku percaya kepada-Nya.”  Kata Yesus kepadanya, “Engkau bukan saja melihat Dia!  Dia yang sedang berbicara dengan engkau, Dialah itu!”  Kata orang itu, “Aku percaya, Tuhan!”  Lalu ia sujud menyembah Yesus.  Kata Yesus, “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi,  supaya barangsiapa tidak melihat dapat melihat,  dan supaya yang dapat melihat menjadi buta.” Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi  yang berada di situ, dan mereka berkata kepada Yesus, “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” Jawab Yesus kepada mereka,  “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa.  Tetapi karena kamu berkata ‘Kami melihat’,  maka tetaplah dosamu.”
Demikianlah Injil Tuhan

Renungan.

Jika saya dilahirkan buta, saya tidak akan mengenal wajah  ayah ibu, wajah orang lain. Saya tidak akan  mampu melihat  indahnya sinar matahari dikala senja atau pagi , melihat aneka ragam warna bunga yang sedang mekar, agungnya sebuah gunung yang menjulang tinggi atau indahnya ngarai diantara perbukitan . Sungguh sunyi hidup ini dan betapa berat derita hidup ini. Barangkali seperti inilah keadaan yang dialami oleh orang buta dalam Injil hari ini.  Orang buta yang dikisahkan dalam Injil hari ini sebenarnya tidak minta supaya bisa melihat. Tetapi Yesus sendiri yang menyembuhkannya. Dia menempuh perjalanan panjang dan berliku untuk sampai pada iman . Yesus bisa saja menyembuhkan dia secara langsung. Namun , Yesus mengolesi matanya dengan adukkan ludah dengan tanah , lalu menyuruh dia membasuhnya di kolam Siloam.  Maka ia dapat  melihat, Ia tidak tahu , siapa  yang menyembuhkannya . Yang ia hadapi adalah para tetangga , orang tuanya serta orang Farisi . Mereka setengah percaya , masa bodoh dan bahkan memojokkannya.  Ketika ditanya bagaimana ia bisa melihat, ia menyebut  “ Orang yang bernama Yesus itu “ mengolesi matanya dengan lumpur dan menyuruhnya membasuh mukanya di kolam Siloam. Ketika orang Farisi bertanya jawabannya makin tegas “ Ia itu nabi “ Tetapi orang Farisi mempersoalkannya karena dilakukan pada hari Sabat. Orang itu bertemu Yesus lagi. Kali ini dia dapat melihat-Nya. Ketika Yesus bertanya, apakah ia percaya kepada “ Anak Manusia “ , orang itu balik bertanya “ Mana orang-Nya “ Yesus menyatakan , bukan saja melihat-Nya tetapi ia sedang berbicara dengan –Nya. Saat itu juga ia langsung bersujud dan berseru “ Aku percaya Tuhan “  Perjalanan iman si buta menggambarkan juga perjalanan iman kita , Tuhan membimbing kita dari kegelapan menjadi terang, Mungkin lewat “tanah” apa saja yang menunjang hidup kita .  Mungkin lewat “air liur:” yang menyembuhkan dan air yang membersihkan . Perjalanan iman kita tidak lewat jalan tol yang bebas hambatan , tetapi melewati jalan yang penuh rintangan. Yesus tidak pernah membiarkan kita berjuang sendiri . Dia hadir  dan menyatakan diri kepada kita  Penuh sukacita kita akan berkata , “Aku percaya Tuhan dan sujud menyembah-Mu.

Doa.

Ya Tuhan, jadikanlah kami umat-Mu, orang yang terbuka dan percaya kepada-Mu , usirlah kegelapan hati yang menyelimuti kami untuk percaya kepada-Mu. Amin.

“Engkau bukan saja melihat Dia! Dia yang sedang berbicara dengan engkau, Dialah itu!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *