Renungan Harian Katolik Minggu 8 September 2019

126 views

Bacaan Liturgi  Minggu 8 September 2019

Bacaan Pertama  Keb 9:13-18

Manusia manakah dapat mengenal rencana Allah, atau siapakah dapat memikirkan apa yang dikehendaki Tuhan?  Pikiran segala makhluk yang fana adalah hina, dan pertimbangan kami ini tidak tetap.  Sebab jiwa dibebani oleh badan yang fana, dan kemah dari tanah memberatkan budi yang banyak berpikir.  Sukar kami menerka apa yang ada di bumi, dan dengan susah payah kami menemukan apa yang ada di tangan, tapi siapa gerangan telah menyelami apa yang ada di surga?  Siapa gerangan dapat mengenal kehendak-Mu, kalau Engkau sendiri tidak menganugerahkan kebijaksanaan, dan jika Roh Kudus-Mu dari atas tidak Kauutus?

Demikianlah diluruskan lorong orang yang ada di bumi, dan kepada manusia diajarkan apa yang berkenan pada-Mu, maka oleh kebijaksanaan mereka diselamatkan.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 90:3-4.5-6.12-13.14.17

Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun temurun.

*Engkau mengembalikan manusia kepada debu, hanya dengan berkata, “Kembalilah, hai anak-anak manusia!”  Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, atau seperti satu giliran jaga di waktu malam.

*Engkau menghanyutkan manusia seperti orang mimpi, seperti rumput yang bertumbuh: di waktu pagi tumbuh dan berkembang,

di waktu petang sudah lisut dan layu.

*Ajarlah kami menghitung hari-hari kami, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.  Kembalilah, ya Tuhan, — berapa lama lagi? — dan sayangilah hamba-hamba-Mu!

*Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita sepanjang hayat.  Kiranya kemurahan Tuhan melimpah atas kami! Teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah!

Bacaan Kedua  Flm 1:9b-10.12-17

Saudara yang terkasih, Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, dan kini dipenjarakan karena Kristus Yesus,  mengajukan permintaan kepadamu

mengenai anak yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus.

Dia, buah hatiku ini, kusuruh kembali kepadamu. Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan demi Injil.  Tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu kaulakukan bukan karena terpaksa, melainkan dengan sukarela.  Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya,  bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih daripada itu, yaitu sebagai saudara terkasih. Bagiku ia sudah saudara, apalagi bagimu, baik secara manusiawi maupun di dalam Tuhan.  Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri.

Demikianlah sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil  Mzm 119:135

Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

Bacaan Injil  Luk 14:25-33

Pada suatu ketika orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Yesus berkata kepada mereka,  “Jika seorang datang kepada-Ku  dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya,  saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan,

bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.  Barangsiapa tidak memanggul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.  Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran belanja, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu?  Jangan-jangan sesudah meletakkan dasar ia tidak dapat menyelesaikannya. Lalu semua orang yang melihat itu akan mengejek dengan berkata, ‘Orang itu mulai membangun, tetapi tidak dapat menyelesaikannya’! Atau raja manakah yang hendak berperang melawan raja lain tidak duduk untuk mempertimbangkan dahulu, apakah dengan sepuluh ribu orang ia dapat melawan musuh yang datang menyerang dengan dua puluh ribu orang?  Jikalau tidak dapat, ia akan mengirim utusan selama musuh masih jauh  untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.  Demikianlah setiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.

Hidup dalam cinta kasih rasanya sudah menjadi ikon untuk orang Katolik. Bahkan kita menyatakan bahwa ajaran utama Yesus adalah kasih kepada Allah dan sesama. Maka kalau hidup kita penuh dengan suasana kasih itu hal yang wajar dan seharusnya. Penegasan untuk hidup dalam cinta kasih dinyatakan oleh Yesus “ Barang siapa tidak memanggul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”  Salib kehidupan satu orang dan lainnya akan sangat berbeda. Seorang kakek yang sudah sakit sakitan selama hampir 19 tahun begitu rindu segera dipanggil Tuhan dan tidak tahan dengan penyakitnya yang sudah lama dan tidak ada harapan sembuh. Seorang ibu keluarga harus menanggung lima anaknya yang masih kecil dengan kerja serabutan setelah ditinggal mati oleh suaminya yang hanya meninggalkan pensiun janda tidak lebih dari 500 ribu rupiah per bulan. Ini pun salib kehidupannya. Pasangan suami isteri yang cukup hangat dan harmonis, aktivis Dewan Paroki, sangat merindukan anak dalam keluarga mereka, namun sudah 15 tahun menikah, Tuhan tidak memberikan anugerah anak. Ini pun sebuah salib keluarga yang sebetulnya secara materi kecukupan.

Butir permenungan.

Yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku. Yesus bicara tentang syarat syarat mengikuti Dia, Hanya satu saja , totalitas. Idenya sederhana, kalau orang sungguh berkomitment dan memberikan diri secara total, situasi apapun akan menjadi bahagia untuk dia. Namun totalitas bukan perkara mudah. Apa yang ditunjukkan oleh Yesus dalam Injil memberikan gambaran tentang kesulitan itu, Yang pertama adalah memikul salib, Meski kita menyadari bahwa itu satu satunya jalan   untuk mengikuti Yesus , bukankah pernah juga kita berharap supaya salib hidup kita dienyahkan dari jalan hidup kita, atau setidaknya dikurangi, diringankan, didispensasi atau apapun yang mengurangi rasa menderita. Yang kedua adalah cara berpikir. Tidak jarang sebenarnya kita berada dalam situasi situasi sulit dalam hidup kita disaat kita juga harus membuat keputusan keputusan sulit.. Dalam situasi itu , kita bias saja mempercayai pemikiran dan kekuatan kita sendiri sedangkan sebetulnya musuh yang dihadapi jauh lebih kuat.  Tuhan mengingatkan kita untuk berani menanggalkan keyakinan berlebihan atas kekuatan diri sendiri  dan member ruang kepada Tuhan utuk bekerja. Pengajaran Yesus sekaligus mengajak kita berefleksi tentang kelekatan. Masalah pokoknya bukan pada barangnya , atau orang tuanya, atau keluarganya, atau yang dicintai, tetapi pada ego dan kebutuhan kita , pada cinta diri dan kerasnya tembok kebanggaan yang kita bangun sendiri.

Doa.

Ya Yesus , jadikanlah aku sebagai pengikut-Mu yang senantiasa hidup sesuai dengan kehendak-Mu. Amin.

Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *