Renungan Harian Katolik Rabu 19 Februari 2020

864 views

Renungan Harian Katolik Berdasarkan Kalender Liturgi Rabu 19 Februari 2020
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I  Yak 1:19-27

Saudara-saudara yang terkasih, ingatlah hal ini:  setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar,  tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.  Sebab amarah manusia tidak dibenarkan oleh Allah.  Maka buanglah segala sesuatu yang kotor  dan kejahatan yang demikian banyak itu,  dan terimalah dengan lemah lembut  sabda yang tertanam dalam hatimu,  yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.  Hendaklah kalian menjadi pelaksana sabda,  dan bukan hanya pendengar. Sebab jika tidak demikian, kalian menipu diri sendiri.  Sebab jika orang hanya mendengar sabda saja  dan tidak melakukannya, ia itu seumpama orang  yang sedang mengamat-amati mukanya dalam cermin. Sesudah memandangi dirinya sesaat, ia lalu pergi, dan segera lupalah ia bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna,  yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melaksanakannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.  Kalau ada orang yang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya,  ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. Ibadah sejati dan tidak tercela di hadapan Allah, Bapa kita ialah  mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka,  dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemari oleh dunia.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 15:2-3ab.3cd-4ab.5

Tuhan, siapa boleh diam di gunung-Mu yang kudus?
*Yaitu orang yang berlaku tidak bercela,  yang melakukan apa yang adil
dan mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,  yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya.
*Yang tidak berbuat jahat terhadap teman, dan tidak menimpakan cela kepada tetangganya;  yang memandang hina orang-orang tercela
tetapi menjunjung tinggi orang-orang yang takwa.
*Yang tidak meminjamkan uang dengan makan riba  dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.  Siapa yang berlaku demikian,
tidak akan goyah selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil  Ef 1:17-18

Semoga Bapa Tuhan kita Yesus Kristus  menerangi kata hati kita,  supaya kita memahami pengharapan  yang terkandung dalam panggilan kita.

Bacaan Injil Hari Ini Mrk 8:22-26

Pada suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Betsaida. Di situ orang  membawa kepada Yesus seorang buta   dan mereka memohon supaya Ia menjamah dia. Yesus lalu memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata si buta, dan meletakkan tangan di atasnya. Ia bertanya, “Sudahkah kaulihat sesuatu?”  Orang itu memandang ke depan, lalu berkata, “Aku melihat orang!  Kulihat mereka berjalan-jalan,  tetapi tampaknya seperti pohon-pohon yang berjalan.”  Yesus kemudian meletakkan tangan-Nya lagi pada mata orang itu.  Maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh,  sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.   Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya  dan berkata, “Jangan masuk ke kampung!”
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan Hari Ini.

Setiap orang pasti pernah sakit , entah sakit ringan atau sakit berat . Proses penyembuhan manusia dari sakitnya juga bisa lambat atau cepat.  Injil hari ini berkisah tentang Yesus menyembuhkan orang  buta di Betsaida . Cara Yesus menyembuhkan orang buta ini terkesan agak unik , dimana Yesus meludahi matanya dan meletakkan tangan atasnya , dan bertanya  “ Sudahkah kau lihat sesuatu ? “ Orang buta itu berkata  “ Aku melihat orang , sebab melihat mereka berjalan jalan , tetapi tampaknya seperti pohon pohon “ Lalu Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu maka dia dapat melihat dengan jelas . Mengapa Yesus tidak sekali saja menyembuhkan dia ? Mengapa harus dua kali padahal Dia mempunyai kuasa yang luar biasa . Jawabannya adalah Yesus hendak mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu membutuhkan proses . Untuk  mencapai sesuatu yang diharapkan , orang harus melangkahi tahap demi tahap.  Dalam hidup ini seringkali kita melakukan kesalahan atau dosa yang membuat hati sesama kita terluka dan menjauhkan kita dari Tuhan dan sesama. Namun Tuhan tidak pernah meninggalkan kita , Tuhan ingin menyembuhkan kita dari dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan itu. Tuhan tidak langsung menyembuhkan keseluruhannya. Tuhan membiarkan kita untuk datang kepada-Nya , menyesali segala dosa dan mengakuinya dihadapan-Nya , melalui Sakramen Pertobatan . Karena itu Sakramen Pertobatan bisa dilihat sebagai tahapan awal untuk kita kembali memperbaiki relasi kita dengan Tuhan , sesama , dan alam ciptaan. Mari kita datang kepada Yesus memohon rahmat penyembuhan melalui tahapan niat , penyesalan , dan mengakui kesalahan , agar kita di bebaskan dan disembuhkan.

Butir permenungan.

Bagi orang yang optimis semua yang tidak mungkin selalu mempunyai harapan. Bagi orang yang pesimis semua yang mudah bias terasa sangat sulit. Bagi orang yang berpendidikan , semua kesulitan akan menjadi tantangan. Bagi orang beriman tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Manusia yang merencanakan, Allah yang menentukan , jika Dia mau apa pun bisa  kita lakukan.  Penyembuhan orang buta yang dilakukan oleh Yesus  adalah salah satu contoh bahwa Dia  bisa memenuhi kerinduan hati kita .Ia membuat orang buta itu melihat dengan baik dan jelas, mau mengatakan kepada kita bahwa Allah selalu berbuat yang terbaik. Allah tidak memberkati kita untuk hidup biasa biasa saja. Ia mau agar kita menjadi pribadi yang terbaik dan bisa melakukan yang terbaik sesuai dengan peran panggilan kita masing masing. Pantas dicatat dan diperhatikan , Yesus tidak hanya membuat si buta melihat, tetapi melihat dengan jelas. Kata jelas hendaknya membuat kita bertanya balik kepada diri sendiri, apakah kita sudah menjadi Katolik yang jelas? Apakah kita sudah hidup dengan iman yang jelas dan memberi kesaksian iman yang jelas? Kita tahu, tapi sering tak mau tahu.  Setiap karya penyembuhan , perkataan memohon orang sakit tersebut kepada Yesus . Benar kalau dikatakan bahwa dimana ada iman , disitu ada mukjizat, kesembuhan dan keselamatan. Dari fihak Yesus, Ia selalu penuh belas kasih tetapi manusia selalu pilih kasih . Sikap pilih kasih inilah yang sering menghalangi berkat Allah dalam diri kita. Allah memberi kita lebih, bahkan berkelimpahan, tetapi kita berbuat sesuai selera . Akhirnya meski Allah memberi kita kuasa, kuasa iti tidak berbuah.  Mestinya kita bisa berbuat banyak  , akhirnya bisa tidak berbuat apa apa. Jadi mari lebih terbuka kepada Allah , supaya setiap kita datang kepada-Nya, kita pulang menjadi berkat bagi sesama.

Doa.

Ya Tuhan sembuhkanlah kami dari segala jenis penyakit dan kesalahan yang telah kami buat dan kami alami dalam hidup ini . Amin .

Semoga Bapa Tuhan kita Yesus Kristus  menerangi kata hati kita, supaya kita memahami pengharapan  yang terkandung dalam panggilan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *