Renungan Harian Katolik Rabu 6 November 2019

73 views

Bacaan Liturgi Rabu 6 November 2019

Bacaan Pertama  Rom 13:8-10

Saudara-saudara,  Janganlah berhutang sesuatu kepada siapa pun,  tetapi  hendaklah kamu saling mengasihi.  Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.  Karena firman berikut ini: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini, serta segala firman lain mana pun juga sudah tersimpul dalam firman ini:   ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’  Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia.  Karena itu kasih itu kegenapan hukum Taurat.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 112:1-2.4-5.9

Orang baik menaruh belaskasihan dan memberi pinjaman.

*Berbahagialah orang yang takwa pada Tuhan, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; keturunan orang benar akan diberkati.

*Bagi orang benar ia bercahaya laksana lampu di dalam gelap, ia pengasih dan penyayang serta berlaku adil. Orang baik menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, ia melakukan segala urusan dengan semestinya.

*Ia murah hati, orang miskin diberinya derma; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan.

Bait Pengantar Injil  1Ptr 4:14

Berbahagialah kalian, jika dinista karena nama Kristus, sebab Roh Allah ada padamu.

Bacaan Injil  Luk 14:25-33

Pada suatu ketika

orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.  Sambil berpaling Yesus berkata kepada mereka,  “Jika seorang datang kepada-Ku  dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya,  saudara-saudarinya, bahkan nyawanya sendiri,  ia tidak dapat menjadi murid-Ku.  Barangsiapa tidak memanggul salibnya dan mengikuti Aku,  ia tidak dapat menjadi murid-Ku.  Sebab siapakah di antaramu, yang mau membangun sebuah menara,  tidak duduk membuat anggaran belanja dahulu,  apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu?  Jangan-jangan sesudah meletakkan dasar  ia tidak dapat menyelesaikannya.  Lalu semua orang yang melihat itu akan mengejek dengan berkata,  ‘Orang itu mulai membangun, tetapi tidak dapat menyelesaikannya.’   Atau raja manakah yang hendak berperang melawan raja lain,  tidak duduk mempertimbangkan dulu  apakah dengan sepuluh ribu orang ia dapat melawan musuh  yang datang menyerang dengan dua puluh ribu orang?  Jika tidak dapat, ia akan mengirim utusan selama musuh masih jauh  untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.   Demikianlah setiap orang di antaramu  yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya,  tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan

Hidup dalam cinta kasih rasanya sudah menjadi ikon untuk orang Katolik. Bahkan kita menyatakan bahwa ajaran utama Yesus adalah kasih kepada Allah dan sesama. Maka kalau hidup kita penuh dengan suasana kasih itu hal yang wajar dan seharusnya. Penegasan untuk hidup dalam cinta kasih dinyatakan oleh Yesus “ Barang siapa tidak memanggul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”  Salib kehidupan satu orang dan lainnya akan sangat berbeda. Seorang kakek yang sudah sakit sakitan selama hampir 19 tahun begitu rindu segera dipanggil Tuhan dan tidak tahan dengan penyakitnya yang sudah lama dan tidak ada harapan sembuh. Seorang ibu keluarga harus menanggung lima anaknya yang masih kecil dengan kerja serabutan setelah ditinggal mati oleh suaminya yang hanya meninggalkan pensiun janda tidak lebih dari 500 ribu rupiah per bulan. Ini pun salib kehidupannya. Pasangan suami isteri yang cukup hangat dan harmonis, aktivis Dewan Paroki, sangat merindukan anak dalam keluarga mereka, namun sudah 15 tahun menikah, Tuhan tidak memberikan anugerah anak. Ini pun sebuah salib keluarga yang sebetulnya secara materi kecukupan.

Butir butir permenungan.

Yesus memberikan affirmasi pemuridan . Seseorang yang memutuskan menjadi murid Yesus , harus berani meninggalkan segala galanya termasuk keluarga, harta, kesenangan, bersedia memaggul salib dan siap menyerahkan nyawanya. Nampaknya tidak ada tawar menawar , Yesus bahkan menggunakan kata yang sangat keras   “Jika seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudarinya, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. “ untuk meyakinkan ketegasan sikap bagi para pengikut-Nya.   Kerasnya tuntutan Yesus untuk meluruskan visi hidup pribadi kita dengan mengenakan visi Yesus sendiri. Setiap orang harus memiliki spirit of detachment, semangat melepaskan segala galanya demi memperoleh kebahagiaan didalam Allah.  Tidak ada damai, kebahagiaan tanpa salib.  Atau damai , kebahagiaan tanpa salib bukanlah berasal dari Yesus tetapi dari diri sendiri, seperti yang dikatakan oleh Paus Fransiskus. Bagaimana dengan anda? Apakah anda siap memiliki visi Yesus dengan meninggalkan segala kesenangan anda? Apakah yang menjadi prioritas hidup anda saat ini?

Doa.

Ya Yesus , jadikanlah aku sebagai pengikut-Mu yang senantiasa hidup sesuai dengan kehendak-Mu. Amin.

Berbahagialah kalian, jika dinista karena nama Kristus, sebab Roh Allah ada padamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *