Renungan Harian Katolik Rabu 9 Oktober 2019

86 views

Bacaan Liturgi Rabu 9 Oktober 2019

PF S. Yohanes Leonardus, Imam

PF S. Dionisius, Uskup dkk. Martir

Bacaan Pertama  Yun 4:1-11

Yunus sangat kesal hatinya dan marah-marah, karena Tuhan mengasihi kota Niniwe.  Maka berdoalah ia kepada Tuhan, “Ya Tuhan, bukankah telah kukatakan, ketika aku masih di negeriku!  Aku tahu bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya, yang menyesali malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.  Itulah sebabnya aku melarikan diri ke Tarsis. Maka sekarang, ya Tuhan, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.”  Tetapi Tuhan bersabda,  “Layakkah engkau marah?”  Yunus telah keluar dari kota Niniwe dan tinggal di sebelah timurnya.  Di situ ia mendirikan sebuah pondok dan duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu.  Lalu atas penentuan Tuhan Allah  tumbuhlah sebatang pohon jarak yang menaungi kepala Yunus, agar ia terhibur dari kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu.  Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah pula datanglah seekor ulat,  yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu.  Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah, bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus; lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati,

Ia berkata, “Lebih baiklah aku mati daripada hidup.”   Tetapi Tuhan bersabda kepada Yunus,  “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawab Yunus, “Selayaknyalah aku marah sampai mati.”  Tuhan lalu bersabda, “Engkau sayang kepada pohon jarak itu.  Padahal tidak sedikit pun engkau berjerih payah dan tidak pula engkau menumbuhkannya!  Pohon itu tumbuh dalam satu malam dan binasa pula dalam satu malam.  Nah, mana mungkin   Aku tidak sayang akan kota Niniwe yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, dengan ternaknya yang begitu banyak?  Padahal mereka itu tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri!”

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 86:3-6.9-10

Engkaulah Allah,  yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia.

*Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari.Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku. *Ya Tuhan, Engkau sungguh baik dan suka mengampuni, kasih setia-Mu berlimpah bagi semua yang berseru kepada-Mu.  Pasanglah telinga kepada doaku, ya Tuhan, dan perhatikanlah suara permohonanku.  Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan; mereka akan memuliakan nama-Mu.  Tuhan, sungguh besarlah Engkau!   Engkau melakukan keajaiban-keajaiban, hanya Engkaulah Allah!

Bait Pengantar Injil  Rom 8:15

Kalian akan menerima Roh Roh pengangkatan menjadikan anak;

dalam Roh itu kita berseru, ‘Abba, ya Bapa.’

Bacaan Injil  Luk 11:1-4

 Pada waktu itu Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya,

“Tuhan, ajarlah kami berdoa,  sebagaimana Yohanes telah mengajar murid-muridnya.”  Maka Yesus berkata kepada mereka,  “Bila kalian berdoa, katakanlah:  ‘Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berilah kami setiap hari makanan yang secukupnya,  dan ampunilah dosa kami, sebab kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami;

dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan

Kebutuhan untuk berdoa dan mendoakan orang pada zaman sekarang ini terasa semakin perlu. Dimasa yang penuh dengan persaingan, ketidak pastian dan yang ditandai dengan egoisme ini manusia perlu peneguhan dan mendapatkan jaminan. Manusia tentu ingin bertahan ditengah situasi hidup yang demikian.  Sayangnya , banyak orang mencarinya lewat ilmu pengetahuan dan dengan mengumpulkan harta sebanyak banyaknya. Padahal seringkali justru disanalah timbul banyak persoalan . Alih alih semakin diteguhkan dan beroleh kepastian, orang malah semakin jauh dari Tuhan dan sesama. Ilmu pengetahuan dan kekayaan bukanlah jawaban. Jika demikian cara apakah yang perlu ditempuh agar kita beroleh peneguhan? Jawabannya adalah berdoa. Doalah sumber kekuatan , dan peneguhan. Doalah yang memberi jaminan karena didalamnya ada harapan. Hari ini kita mendengarkan Injil tentang doa Bapa Kami versi Injil Lukas (11 : 1-4). Kita percaya bahwa doa yang penuh kuasa dan refleksi mendalam ini diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri ketika para murid meminta-Nya supaya mengajarkan sebuah doa. Para murid memerlukan sebuah doa karena mereka telah menyaksikan betapa doa telah memberikan kekuatan dan kuasa dalam kehidupan Yesus.   Doa  “Bapa Kami “ adalah doa inti yang diajarkan Yesus sendiri. Setiap kata dalam doa “Bapa Kami” bisa menjadi permenungan tersendiri. Namun disini , mari kita renungkan satu kata pertama yang paling besar pengaruhnya yaitu : ” Bapa ” , Tuhan tidak lagi  disapa dengan nama nama yang asing , atau dengan kata ganti yang menunjukkan seolah olah Tuhan itu jauh. Sebutan “ Bapa ”  mengantar manusia berada tepat di pangkuan Bapa, seperti anak di pangkuan ayahnya, yang kuat tetapi penuh kasih untuk menghidupi, membimbing dan melindungi, ia hadir disini bersama kita. Panggilan “ Bapa ”  juga menghancurkan tembok pembatas antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi. Tuhan bukan hanya milik bangsa tertentu, melainkan milik setiap orang.  Kita semua yang telah mengimani Kristus, telah diangkat dalam roh oleh Roh Kudus untuk bersama sama menjadi anak anak Bapa.  Konsekuensinya adalah kita semua bersatu sebagai saudara dalam satu Bapa yaitu Bapa di Surga. Yesus,  Putra Bapa, menjadi Saudara sulung bagi  kita. Dan sebagai anak , kita membawa sifat  bawaan  dari Bapa Ilahi, yaitu kasih. Kasih inilah  yang menjadi bukti nyata bahwa kita adalah anak anak Bapa. Kasih – Nya sungguh agung atas kita dan kesetiaan – Nya  kekal untuk selama lamanya. Tugas kita sekarang adalah mewartakan kasih itu kepada semua orang , agar semakin banyak orang yang diselamatkan dan dipersatukan dengan Bapa.

Butir permenungan.

Yesus  mengajarkan doa yang lebih dahulu mengedepankan kehendak Bapa, baru dilanjutkan permohonan kita. Dengan berdoa “dikuduskan nama-Mu” dan  “datanglah kerajaan – Mu” , kita mohon agar Bapa menyatakan kebaikan-Nya dan kemahakuasaan-Nya berdaya guna didunia ini. Pengudusan nama Allah dan penegakan kerajaan-Nya itu harus menjadi fokus hidup kita. Doa kita tidak boleh membelokkan kehendak Allah agar sesuai keinginan kita, tetapi menyelaraskan kemauan kita dengan kehendak – Nya. Dengan itu permohonan kita akan kebutuhan pokok sehari hari menjadi pas . Kita mohon kepada Bapa, Pencipta dan Pemelihara segala makhluk ciptaan , makanan demi mempertahankan hidup dimasa sekarang. Kita mohon kepada Putra, Juru Selamat dan Penebus dosa, pengampunan atas kesalahan kesalahan dimasa lalu. Kita mohon kepada Roh Kudus , Penghibur, Penerang, dan Pembimbing, perlindungan dari pencobaan yang siap menghadang perjalanan hidup kita dimasa mendatang.  Dan Yesus mengajar kita untuk menaruh semua kebutuhan pokok dari seluruh periode waktu hidup kita dihadapan Bapa , Putra  dan Roh Kudus.  Injil mengingatkan kita kembali bahwa berdoa tidak mengenal situasi hidup , tetapi harus terus menerus dilakukan selama kita masih bernafas. Karena  , doa adalah nafas hidup kita .

Doa.

Ya Yesus , ingatkanlah kami untuk rajin berdoa tanpa henti – hentinya dalam hidup harian kami . Amin .

Kalian akan menerima Roh Roh pengangkatan menjadikan anak; dalam Roh itu kita berseru, ‘Abba, ya Bapa.’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *