Renungan Harian Katolik Sabtu 14 Maret 2020

554 views

Renungan Harian Katolik berdasarkan Kalender Liturgi Sabtu 14 Maret 2020
Warna Liturgi: Ungu

Bacaan I  Mi 7:14-15.18-20
Nabi berkata,  “Ya Tuhan, dengan tongkat-Mu gembalakanlah umat-Mu ,
kambing domba milik-Mu sendiri.  Mereka terpencil, mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan.  Biarlah mereka merumput di Basan dan di Gilead seperti pada zaman dahulu kala.  Perlihatkanlah kepada kami tindakan-tindakan ajaib seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir.  Adakah Allah lain seperti Engkau, yang mengampuni dosa-dosa dan memaafkan pelanggaran yang dilakukan oleh sisa-sisa milik-Nya sendiri?  Yang tidak murka untuk selama-lamanya, melainkan berkenan kepada kasih setia?  Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.   Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub  dan kasih-Mu kepada Abraham  sebagaimana telah Kaujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyang kami  sejak zaman purbakala!
Demikianlah Sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 103:1-2.3-4.9-10.11-12
Tuhan adalah penyayang dan pengasih.
*Pujilah Tuhan, hai jiwaku!  Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!  Pujilah Tuhan, hai jiwaku,  janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya!
*Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu,  yang menyembuhkan segala penyakitmu!  Dialah yang menebus hidupmu dari liang kubur, dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat!
*Tidak terus menerus Ia murka, dan tidak untuk selamanya Ia mendendam.
Tidak pernah Ia memperlakukan kita  setimpal dengan dosa kita,  atau membalas kita setimpal dengan kesalahan kita.
*Setinggi langit dari bumi,  demikian besarnya kasih setia Tuhan  atas orang-orang yang takut akan Dia!  Sejauh timur dari barat,  demikian pelanggaran-pelanggaran kita dibuang-Nya.

Bait Pengantar Injil  Luk 15:18
Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku  dan berkata kepadanya,
“Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa.”

Bacaan Injil  Luk 15:1-3.11-32
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa  biasa datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya,  “Ia menerima orang-orang berdosa  dan makan bersama-sama dengan mereka.”   Maka Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya,  ‘Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita  yang menjadi hakku.’  Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu  di antara mereka. Beberapa hari kemudian  anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu  lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu  dengan hidup berfoya-foya.  Setelah dihabiskannya harta miliknya,  timbullah bencana kelaparan di negeri itu  dan ia pun mulai melarat.  Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babi. Lalu ia ingin mengisi perutnya  dengan ampas yang menjadi makanan babi itu,  tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya.  Lalu ia menyadari keadaannya, katanya:  ‘Betapa banyak orang upahan bapaku  yang berlimpah-limpah makanannya,  tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku  dan berkata kepadanya:  Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa;  aku tidak layak lagi disebutkan anak Bapa;  jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.’  Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya.  Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihat dia,  lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.  Ayah itu berlari mendapatkan dia  lalu merangkul dan mencium dia.  Kata anak itu kepadanya:  Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa,  aku tidak layak lagi disebutkan anak Bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya,  ‘Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik,  dan pakaikanlah kepadanya;  kenakanlah cincin pada jarinya, dan sepatu pada kakinya.  Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.  Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali,  ia telah hilang dan didapat kembali.  Maka mulailah mereka bersukaria.  Tetapi anaknya yang sulung sedang berada di ladang.  Ketika ia pulang dan dekat ke rumah,  ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian.  Lalu ia memanggil salah seorang hamba  dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu, ‘Adikmu telah kembali,     dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali anak itu dengan selamat.’  Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.  Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya,  ‘Telah bertahun-tahun aku melayani Bapa,  dan belum pernah aku melanggar perintah Bapa,  tetapi kepadaku  belum pernah Bapa memberikan seekor anak kambing pun  untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak Bapa  yang telah memboroskan harta kekayaan Bapa  bersama dengan pelacur-pelacur,  maka Bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.’ Kata ayahnya kepadanya,  ‘Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku,  dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.  Kita patut bersukacita dan bergembira  karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali,  ia telah hilang dan didapat kembali.”
Demikianlah Sabda Tuhan.

Renungan.

Andre , narapidana LP Lowokwaru, Malang Jatim merasa senang karena tidak lama lagi dia akan menghirup udara bebas setelah mendekam selama 5 tahun karena kasus narkoba. Selama didalam penjara, dia sungguh menyadari dan menyesali perbuatannya yang merusak dirinya dan mencemarkan nama baik keluarga serta menghancurkan orang lain . Setelah keluar dari penjara, dia berniat akan bertobat dan menjadi orang baik.  Namun, setelah dia bebas dari penjara, keluarga, lingkungan dan Gereja dan masyarakat ternyata tidak mau menerimanya. Hal ini yang membuat dia sedih dan tertekan . Dia ingin hidup baru tetapi keluarga dan masyarakat tidak memberi kesempatan kepadanya untuk memperbarui diri.  Orang sering memberi stigma atau cap jelek pada seseorang berbuat kesalahan atau dosa, untuk seterusnya dia dianggap sebagai pendosa yang harus dijauhi. Padahal orang itu sudah bertobat dan kembali kejalan yang benar. Hal ini yang membuat orang berpikir, tidak ada gunanya bertobat dan hidup baik karena masyarakat toh tetap tidak menerimanya. Keadaan ini yang menyebabkan orang kembali melakukan kejahatan yang sama.  Apakah Allah juga selalu mengingat dosa dosa manusia dan tidak mau menerima orang berdosa kembali kepada-Nya. Tidak.Dalam Injil hari ini, Allah justru digambarkan sebagai seorang Bapa yang rindu menantikan anaknya yang durhaka kembali pulang kerumahnya. Ia adalah sosok pribadi yang pengampun, yang tidak mengingat ingat dosa dan kesalahan anaknya. Dia mau menerima anaknya yang berdosa.  Bagi Allah , apa yang telah terjadi biarlah berlalu. Yang penting orang mau memulai hidup baru bersama Dia. Kesadaran  akan besarnya kerahiman Allah yang mengatasi dosa dan kesalahan manusia inilah yang hendaknya menggerakkan kita untuk datang kepada Allah. Dengan rendah hati kita mohon kerahiman dan pengampunan  dari Allah melalui Sakramen Tobat.

Butir permenungan.

Seberapa pun besarnya dosa kita, kalau kita mau sungguh mengakui, menyesali dan mohon ampun kepada Allah, maka Dia akan mengampuni dosa kita dan menerima kita kembali sebagai anak anak-Nya. Pada masa Retret Agung menyambut Pesta Kebangkitan Tuhan Yesus Sang  Kerahiman , mari kita merayakan Kerahiman Allah lewat Sakramen Tobat.

Doa.

Ya Tuhan yang maharahim, berilah kami umat-Mu i kesadaran untuk lebih sering menerima Sakramen Tobat. Amin.

Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku  dan berkata kepadanya,
“Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *