Renungan Harian Katolik Sabtu 4 Juli 2020

783 views

Renungan Harian Katolik Kalender Liturgi Sabtu 4 Juli 2020
PF S. Elisabet dari Portugal
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I  Am 9:11-15
Tuhan bersabda,  “Pada hari itu  Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh.  Aku akan menutup pecahan dindingnya,  dan akan mendirikan kembali reruntuhannya.  Aku akan membangunnya kembali seperti di zaman dahulu kala,  supaya mereka menguasai sisa-sisa bangsa Edom  dan segala bangsa yang Kusebut milik-Ku,”   demikianlah sabda Tuhan yang melakukan hal ini.  “Sungguh, waktunya akan datang,”  demikianlah sabda Tuhan, “bahwa pembajak dan penuai akan susul-menyusul,  demikian juga pengirik buah anggur dan penabur benih.  Gunung-gunung akan mengalirkan anggur baru, dan segala bukit akan kebanjiran.  Aku akan memulihkan kembali umat-Ku Israel; mereka akan membangun kota-kota yang lengang  dan mendiaminya.  Mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan minum anggurnya.  Mereka akan membuat kebun buah-buahan dan makan buahnya.  Maka Aku akan menanam mereka di tanah mereka, dan mereka tidak akan dicabut lagi  dari tanah yang telah Kuberikan kepada mereka,”  sabda Tuhan, Allahmu.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 85:9.11-12.13-14
Tuhan berbicara tentang damai kepada umat-Nya.
*Aku ingin mendengar apa yang hendak difirmankan Allah!  Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai  kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya,  supaya mereka jangan kembali kepada kebodohan?
*Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan berpelukan.  Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit.
*Tuhan sendiri akan memberikan kesejahteraan,  dan negeri kita akan memberi hasilnya.  Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya,  dan damai akan menyusul di belakangnya.

Bait Pengantar Injil  Yoh 10:27
Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan.  Aku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku.

Bacaan Injil  Mat 9:14-17
Sekali peristiwa datanglah murid-murid Yohanes  kepada Yesus dan berkata, “Kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi mengapa murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka,  “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita  selama mempelai itu bersama mereka?  Tetapi akan tiba waktunya mempelai itu diambil dari mereka,  dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”  Tak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian,  kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua,  karena jika demikian  kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang  dan kantong itu pun hancur.  Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru,
dan dengan demikian, terpeliharalah kedua-duanya.”
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan.

Setiap agama memiliki tradisi puasa yang dikaitkan dengan soal makan dan minum. Pertanyaannya, bagaimana kah berpuasa yang benar menurut ajaran Gereja Katolik? Apa alasan kita berpuasa dan berpantang? Bagi orang Katolik,puasa dan pantang adalah tanda pertobatan, ungkapan penyangkalan diri dan kehendak untuk mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai silih bagi dosa kita.  Dalam masa Pra Paskah , puasa, pantang dan doa disertai amal kasih. Karena itu pantang dan puasa merupakan latihan rohani yang mendekatkan kita pada Tuhan dan sesama., dan bukan tujuan lain, seperti supaya tetap langsing, sakti, menghemat dan sebagainya.  Jika kita faham mengenai tujuan berpuasa, kita akan menjadi bijaksana dan tidak akan bertanya seperti murid murid Yohanes, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” . latar belakang pertanyaan tersebut adalah aturan yang ketat tentang waktu puasa. Dengan  kata lain, pelaksanaan puasa harus lahir dari hati bukan dari aturan belaka.  Bagi Yesus, kesempatan ini adalah saat yang tepat untuk mengajar mereka mengenai  puasa yang benar. Puasa mestinya dilakukan karena kebutuhan misalnya masa perkabungan atau penantian. Yesus menggambarkan masa perkabungan itu adalah saat mempelai diambil dari tengah tengah para sahabat. Saat itulah mereka akan berpuasa, dan mempelai itu adalah Yesus Kristus. Selagi Sang Mempelai bersama para murid-Nya, tentu mereka tidak berpuasa.

Butir permenungan.

Kita perlu menyadari dan memahami bahwa puasa juga menyangkut soal  menyelaraskan sikap dan kehendak kita dengan kehendak Allah sebagai mana ditegaskan Nabi Yesaya :” Berpuasa yang Kukehendaki ialah: Engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk; membagi-bagikan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian, dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!   Mari kita melakukan puasa dan pantang yang dikehendaki Allah, dan bukan selera kita.

Doa.

Ya Tuhan yang mahabaik, bimbinglah dan tuntunlah kami umat-Mu agar dapat melakukan puasa dan pantang sesuai dengan kehendak-Mu. Amin.

Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan.  Aku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *