Renungan Harian Katolik Sabtu 8 Februari 2020

759 views

Renungan Harian Katolik Berdasarkan Kalender Liturgi Sabtu 8 Februari 2020
PF S. Yosefina Bhakti, Perawan PF S. Hieronimus Emilianus
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I  1Raj 3:4-13
Pada suatu hari Raja Salomo pergi ke Gibeon  untuk mempersembahkan kurban  sebab di situlah bukit pengurbanan yang paling besar;  seribu kurban bakaran ia persembahkan di atas mezbah itu. Di Gibeon itu Tuhan menampakkan diri kepada Salomo  dalam mimpi pada waktu malam. Bersabdalah Allah, “Mintalah apa yang kauharapkan dari pada-Ku!” Lalu Salomo berkata,  “Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar  kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia, benar dan jujur terhadap Engkau!  Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu  dengan memberikan kepadanya seorang anak  yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini. Sekarang, ya Tuhan, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini
menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman. Kini hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya.  Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara  untuk menghakimi umat-Mu dengan tepat,  dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?”  Tuhan sangat berkenan bahwa Salomo meminta hal yang demikian.  Jadi bersabdalah Allah kepada Salomo, “Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian  dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan  atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum,  maka Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu!  Sungguh, Aku memberikan kepadamu  hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorang pun seperti engkau, dan sesudah  engkau takkan bangkit seorang pun seperti engkau.  Namun yang tidak kauminta  pun akan Kuberikan kepadamu,  baik kekayaan maupun kemuliaan,  sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorang pun  seperti engkau di kalangan raja-raja.”
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 119:9.10.11.12.13.14
Ajarkanlah ketetapan-Mu kepadaku, ya Tuhan.
*Bagaimanakah kaum muda mempertahankan hidupnya tanpa cela?
Dengan mengamalkan firman-Mu.
*Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-Mu.
*Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.
*Terpujilah Engkau, ya Tuhan; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.
*Dengan bibirku aku menceritakan  segala hukum yang Kauucapkan.
*Aku bergembira atas peringatan-peringatan-Mu,  melebihi segala harta.

Bait Pengantar Injil  Yoh 10:27
Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, sabda Tuhan.  Aku mengenal mereka, dan mereka mengikut Aku.

Bacaan Injil  Mrk 6:30-34
Pada waktu itu Yesus mengutus murid-murid-Nya mewartakan Injil. Setelah menunaikan tugas itu mereka kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya  semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.  Lalu Yesus berkata kepada mereka,  Memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi,  sehingga makan pun mereka tidak sempat. Maka pergilah mereka mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat, dan mereka mengetahui tujuannya. Dengan mengambil jalan darat  segeralah datang orang dari semua kota”Marilah ke tempat yang sunyi,  supaya kita sendirian, dan beristirahatlah sejenak!”  ke tempat itu dan mereka malah mendahului Yesus.  Ketika mendarat, Yesus melihat jumlah orang yang begitu banyak, Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Yesus mengajarkan banyak hal kepada mereka.
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan.

Mereka yang belajar dan bekerja pasti memiliki waktu istirahat. Siswa siswi yang bersekolah mempunyai waktu libur. Orang dewasa yang bekerja memiliki waktu cuti. Sayangnya ada orang yang bekerja terus hingga waktu cutinya pun “diuangkan”  Waktu cuti itu seharusnya digunakan untuk beristirahat supaya nanti bisa bekerja diganggu waktu cutinya dengan alasan apa pun.  Para murid Yesus kembali dari tugas perutusan. Yesus melihat dengan jeli bahwa mereka sebenarnya lelah, butuh kelegaan: penat, butuh istirahat. Mereka manusia biasa yang lemah dan rapuh, butuh diisi supaya tetap sehat dan penuh semangat untuk karya berikutnya. Yesus mengingatkan mereka akan pentingnya waktu  istirahat untuk dengan diri sendiri dan bersua dengan Bapa di Surga. Waktu istirahat ini perlu supaya mereka tidak visi , tetap punya motivasi luhur. Ternyata waktu mereka beristirahat , orang banyak datang minta pelayanan. Maka Yesus mengubah rencana untuk beristirahat dan meninggalkan kenyamanan waktu  senggang untuk melayani orang banyak. Waktu istirahat adalah saat manusia menikmati hidupnya sebagai manusia, Istirahat  Ini bukanlah saat diam pasif untuk menganggur dan berleha leha tetapi untuk menguduskan hari menjadi hari Tuhan yang pada saat sama adalah hari manusia karena manusia dibebaskan dari beban kerja serta diberi kesempatan untuk menikmati hidup. Waktu libur bukanlah saat mengasihani dan memanjakan diri, tetapi saat diam menggali energi agar bisa tetap hidup dan bekerja, Waktu istirahat hanya boleh diganggu kalau tanggung jawab kemanusiaan memanggil , pelayanan menanti.

Butir permenungan.

Pekerjaan yang kita lakukan dapat mempengaruhi suasana hati, Bila pekerjaan kita baik, suasana hati akan gembira. Bila pekerjaan tidak berhasil suasana hati akan kecewa. Keberhasilan bisa membuat lupa diri dan kegagalan bisa membuat putus asa. Setelah mendengar laporan pekerjaan yang dilakukan oleh para murid-Nya, Yesus menyadari bahwa pekerjaan pekerjaan yang telah mereka lakukan selama ini telah mempengaruhi suasana hati mereka. Boleh jadi pengaruh yang para murid alami adalah pengaruh yang membuat hati mereka tidak lagi bersih. Oleh karena itu Yesus berkata kepada mereka  “Marilah ke tempat yang sunyi,  supaya kita sendirian, dan beristirahatlah sejenak!” Yesus mengajak para murid mengambil jarak dengan pekerjaan  dan mengambil waktu untuk tenang dan beristirahat agar mampu membersihkan hati mereka kembali. Hati yang bersih diperlukan agar orang bertindak secara sadar dan bijaksana. Mereka yang berhati bersih dapat mempertimbangkan sebuah pekerjaan secara bijaksana dan tidak terbawa emosi.  Mereka tahu mana yang benar atau tidak, Hati yang bersih terbuka mengenal kehendak Allah dan peka akan kebutuhan yang lebih besar.

Doa.

Ya Tuhan yang mahabaik, sadarkanlah umat- Mu untuk memahami hari istirahat, hari Minggu untuk menghadap Engkau dan melayani sesama kami. Amin.

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, sabda Tuhan.  Aku mengenal mereka, dan mereka mengikut Aku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *