Renungan Harian Katolik Selasa 11 Agustus 2020

748 views

Renungan Harian Katolik Kalender Liturgi Selasa 11 Agustus 2020
PW S. Klara, Perawan
Warna Liturgi: Putih

Bacaan I  Yehezkiel 2:8-3:4

Tuhan bersabda kepadaku,  “Hai, anak manusia, dengarkanlah sabda-Ku kepadamu. Janganlah membantah seperti kaum pemberontak ini. Ngangakanlah mulutmu dan makanlah apa yang Kuberikan kepadamu.” Aku melihat, ada tangan yang terulur kepadaku, dan sungguh, dipegang-Nya sebuah gulungan kitab.  Ia Membentangkannya di hadapanku.  Gulungan kitab itu ditulisi timbal balik dan di sana tertulis nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah dan rintihan . Sabda-Nya kepadaku,  “Hai anak manusia, makanlah apa yang engkau lihat di sini;  makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada kaum Israel.”  Maka kubukalah mulutku dan diberikan-Nya gulungan kitab itu kumakan. Lalu sabda-Nya kepadaku,  “Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan ini  dan isilah perutmu dengannya.”  Lalu aku memakannya  dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku.  Tuhan bersabda lagi,  “Hai anak manusia, mari, pergilah! dan sampaikanlah sabda-Ku kepada mereka.”
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 119:14.24.72.103.111.131

Betapa manisnya janji Tuhan bagi langit-langitku.
* Aku bergembira atas peringatan-peringatan-Mu, melebihi segala harta.
*Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, dan kehendak-Mu menjadi penasehat bagiku.
*Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih berharga dari pada ribuan keping emas dan perak.
*Betapa manisnya janji-Mu bagi langit-langitku,  melebihi madu bagi mulutku.
*Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku  untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku.
*Mulutku kungangakan dan mengap-mengap, sebab aku mendambakan perintah-perintah-Mu.

Bait Pengantar Injil  Mat 11:29

Terimalah beban-Ku dan belajarlah daripada-Ku,  sebab Aku lemah lembut dan rendah hati.

Bacaan Injil  Matius 18:1-5.10.12-14

Sekali peristiwa  datanglah murid-murid dan bertanya kepada Yesus, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?”  Maka Yesus memanggil seorang anak kecil, dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata, “Aku berkata kepadamu:  Sungguh, jika kalian tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.  Sedangkan barangsiapa merendahkan diri  dan menjadi seperti anak kecil ini,  dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.  Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Malaikat-malaikat mereka di surga  selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.”   Lalu Yesus bersabda lagi, Bagaimana pendapatmu?  Jika seorang mempunyai seratus ekor domba  dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan  lalu pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu, sungguh, jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat.  Demikian juga  Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang.”
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan Katolik.

Seorang imam pernah bersyering dalam pesta dua puluh lima tahun imamatnya : “ Saya tidak punya banyak talenta khusus ketika saya menjadi seorang imam. Namun Tuhan memberi saya hati yang selalu siap ditempatkan dimanapun dan kapanpun. Tuhan memberi saya hati yang selalu siap menerima situasi. Dan saya sungguh sadar bahwa saya hanyalah abdi Tuhan yang siap mengabdi kepada-Nya. Biarlah Tuhan yang semakin dikenal”  Yesus dalam Injil hari ini menekankan pentingnya kerendahan hati bagi setiap orang yang mau mengikuti Dia. Kerendahan hati merupakan jalan yang menghantar seseorang kepada kekudusan. Mungkin sangat menarik kalau kita mengerti arti kata kerendahan hati. Kerendahan hati (dalam bhs Inggris ; humility) berasal dari kata Latin ; humus. Yang artinya tanah atau bumi. Jadi, kerendahan hati sebenarnya adalah sikap menempatkan diri “membumi” ke tanah. Sikap rendah hati membuat kita selalu berharap dan bergantung pada rahmat  Tuhan. Maka sangat tepat jika Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya  ditengah para rasul. Seorang anak kecil memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi.  Dewasa ini banyak orang mengidentikkan diri mereka dengan apa yang mereka miliki entah itu jabatan, kedudukan atau harta. Semakin tinggi jabatan yang dimiliki, semakin  banyak harta yang dimiliki, semakin orang tersebut merasa paling hebat bahkan lebih hebat dari Tuhan. Yesus mengajak kita pada hari ini untuk lebih melihat kedalam diri kita masing masing. Kita akan sadar bahwa sebenarnya kita ini bukanlah siapa siapa.

Butir permenungan

Maka sebagai orang Kristiani, kita diundang untuk mau bertobat dengan mengubah cara berpikir dan cara berperi laku kita yang selama ini cenderung egois, terlalu mementingkan diri sendiri dan sombong. Kita diundang untuk belajar dari seorang anak kecil. Pelajaran yang terutama dari seorang anak kecil ialah sikap tampil apa adanya tanpa kepalsuan, cinta damai, bebas dari segala niat jahat. Santo Agustinus pernah berkata , tiga ciri dari orang yang bijaksana adalah yang pertama  rendah hati, yang kedua rendah hati, Yang ketiga rendah hati.  Mari kita mengejar kekudusan dengan belajar untuk rendah hati.

Doa.

Allah Bapa sumber kedamaian , kami umat-Mu memuji syukur karena telah menerima Roh Yesus . Kami mohon , jadikanlah kiranya kami putra dan putri-Mu terkasih serta saksi kedamaian-Mu . Amin.

Terimalah beban-Ku dan belajarlah daripada-Ku,  sebab Aku lemah lembut dan rendah hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *