Renungan Harian Katolik Selasa 14 Januari 2020

275 views

Renungan Harian Katolik Berdasarkan Kalender Liturgi  Selasa 14 Januari 2020
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I  1Sam 1:9-20
Sekali peristiwa  setelah keluarga Elkana makan dan minum di rumah Allah di Silo,  berdirilah Hana, isteri Elkana,  sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci Tuhan. Dengan pedih hati Hana berdoa kepada Tuhan   sambil menangis tersedu-sedu.  Kemudian Hana bernazar, dan berseru:  “Tuhan semesta alam, jika Engkau sungguh-sungguh memperhatikan sengsara hamba-Mu ini, dan tidak melupakan hamba-Mu ini,  tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada Tuhan  untuk seumur hidupnya.  Dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.”    Hana terus-menerus berdoa di hadapan Tuhan,  dan Eli mengamat-amati mulutnya.  Oleh karena Hana berdoa dalam hati  dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak,  sedangkan suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka Hana itu mabuk.  Eli lalu berkata kepadanya,  “Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk?  Sadarkanlah dirimu dari mabukmu itu.”   Tetapi Hana menjawab, “Bukan, tuanku,  aku tidak minum anggur ataupun minuman yang memabukkan.  Aku ini seorang wanita yang sangat bersusah hati.  Aku sedang mencurahkan isi hatiku di hadapan Tuhan.  Janganlah anggap hambamu ini seorang wanita dursila, karena besarnya cemas dan sakit hatiku,  aku berdoa demikian lama.”  Maka Elia berkata kepada Hana,  “Pergilah dengan selamat,  dan semoga Allah Israel memberikan kepadamu   apa yang engkau mohon dari pada-Nya.”   Maka berkatalah Hana,   “Semoga hambamu ini mendapat belas kasih dari padamu.”   Maka keluarlah Hana.  Ia mau makan, dan mukanya tidak muram lagi.   Keesokan harinya  Elkana dan seluruh keluarga bangun pagi-pagi.   Mereka sujud menyembah di hadapan Tuhan, lalu pulang ke rumahnya di Rama.   Ketika Elkana bersetubuh dengan Hana, isterinya,  Tuhan ingat kepadanya.   Maka setahun kemudian mengandunglah Hana,  dan melahirkan seorang anak laki-laki.  Anak itu diberinya nama Samuel,
sebab katanya: “Aku telah memintanya dari Tuhan.”
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  1Sam 2:1.4-5.6-7.8abcd
Hatiku bersukaria karena Tuhan, penyelamatku.
*Hatiku bersukaria karena Tuhan,  aku bermegah-megah karena Allahku.
Mulutku mencemoohkan musuhku, aku bersukacita karena pertolongan-Mu.
*Busur para pahlawan telah patah,  tetapi orang-orang lemah dipersenjatai kekuatan.  Orang yang dulu kenyang kini harus mencari nafkah, tetapi yang dulu lapar kini boleh beristirahat. Orang yang mandul melahirkan tujuh anak, tetapi orang yang banyak anaknya menjadi layu.
*Tuhan berkuasa mematikan dan menghidupkan, Ia berkuasa menurunkan ke alam maut dan mengangkat dari sana. Tuhan membuat miskin dan membuat kaya, Ia merendahkan, dan meninggikan juga.
*Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia di antara para bangsawan, dan memberi dia kursi kehormatan.

Bait Pengantar Injil  1Tes 2:13
Sambutlah sabda Tuhan, bukan sebagai perkataan manusia,  melainkan sebagaimana sebenarnya, sebagai sabda Allah.

Bacaan Injil  Mrk 1:21b-28
Pada suatu malam Sabat  Yesus masuk ke dalam rumah ibadat di kota Kapernaum  dan mengajar di sana.  Orang-orang takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat.  Orang itu berteriak,  “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami?
Aku tahu siapa Engkau: yakni Yang Kudus dari Allah.”  Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya,  “Diam, keluarlah dari padanya!” Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu,  dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya.  Mereka semua takjub,  sehingga mereka memperbincangkannya, katanya,  “Apa ini? Suatu ajaran baru?  Guru ini berkata-kata dengan kuasa.   Roh-roh jahat pun Ia perintah, dan mereka taat kepada-Nya.”   Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Yesus
ke segala penjuru di seluruh daerah Galilea.
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan.

Hatiku bersukaria karena Tuhan, penyelamatku , demikian bunyi refren Mazmur tanggapan hari ini. Orang bersukacita karena mengalami kekuasaan Allah yang menaungi dirinya,  Bacaan pertama mengisahkan bagaimana Hana mengalami kuasa Allah melalui doa yang dipanjatkannya di Bait Suci. Pengalaman Hana menunjukkan betapa doa mempunyai kuasa yang sungguh luar biasa. Tradisi Perjanjian Lama menunjukkan bahwa dalam kesesakan, orang lari kepada Allah melalui doa. Dalam doa mereka mengkomunikasikan pengalaman hidupnya kepada Allah . Itulah doa yang sejati, yang berkaitan langsung dengan situasi konkret   hidup manusia.  Doa Hana disampaikan dalam kesunyian hati, bukan lagi mulut yang berkata kata , tetapi hatilah yang berkata kata. Doa hati itulah yang ternyata mempunyai kekuatan yang luar biasa. Sering kita bisa jadi banyak berdoa dengan kata kata yang panjang, dan banyak, tetapi tidak disertai dengan hati yang diarahkan sepenuhnya kepada Allah . Novena kita buat berulang ulang demi memohon ujub tertentu, Lalu kita begitu mudah kecewa ketika merasa doa yang sudah panjang dan melelahkan itu ternyata tidak langsung dikabulkan Tuhan, Sebenarnya, kita boleh berbicara kepada Allah pun sudah merupakan suatu anugerah. Dari sebab itu, doa kita bernilai bukan karena panjang dan banyaknya kata yang terucap, bukan dari seberapa banyak  permohonan dalam doa itu yang sudah terkabul, Doa menjadi bernilai ketika kita  menjadikannya sebagai kesempatan mengkomunikasikan pengalaman hidup keseharian kita kepada Allah.

Butir permenungan

Bukankah kita sering meragukan kuasa doa hanya karena doa kita rasanya tak terjawab ? Bukankah hati kita sering merasa begitu kering sehingga kita sulit berdoa? Kemudian kita merasa jenuh, bosan, bahkan patah semangat untuk berdoa. Mengapa tidak kita bawa saja kekeringan itu , kebosanan dan kejenuhan itu sebagai bahan doa kita?  Bukankah itu kenyataan hidup kita saat itu?

Doa.

Ya Tuhan, ajarilah kami berdoa disertai dengan hati yang diarahkan sepenuhnya kepada Allah . Amin

Sambutlah sabda Tuhan, bukan sebagai perkataan  manusia,  melainkan sebagaimana sebenarnya,  sebagai sabda Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *