Renungan Harian Katolik Selasa 23 Juni 2020

448 views

Renungan Harian Katolik Kalender Liturgi Selasa 23 Juni 2020
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I   2Raj 19:9b-11.14-21.31-35a.36
Pada waktu kota Yerusalem dikepung,  Sanherib, raja Asyur, mengirim utusan kepada Hizkia, raja Yehuda. Ia berpesan,  “Beginilah harus kamu katakan kepada Hizkia, raja Yehuda:  Janganlah Allahmu yang kaupercaya itu memperdayakan engkau  dengan menjanjikan bahwa  Yerusalem tidak akan diserahkan ke tangan raja Asyur.  Sesungguhnya engkau telah mendengar apa yang dilakukan raja-raja Asyur terhadap segala negeri, yakni bahwa mereka telah menumpasnya.  Masakan engkau ini akan dilepaskan?  Hizkia menerima surat itu dari tangan para utusan, lalu membacanya.  Kemudian pergilah ia ke rumah Tuhan  dan membentangkan surat itu di hadapan Tuhan. Hizkia berdoa di hadapan Tuhan demikian,  “Ya Tuhan, Allah Israel, yang bertakhta di atas kerubim!  Hanya Engkau sendirilah Allah segala kerajaan di bumi.  Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi.  Condongkanlah telinga-Mu, ya Tuhan, dan dengarkanlah;  bukalah mata-Mu dan lihatlah, ya Tuhan; dengarkanlah perkataan Sanherib yang telah dikirimkannya  untuk mengaibkan Allah yang hidup.  Ya Tuhan, memang raja-raja Asyur telah memusnahkan bangsa-bangsa!  Mereka pun telah menaruh para allah mereka ke dalam api,  sebab mereka bukanlah Allah, hanya buatan manusia, kayu dan batu;  sebab itu dapat dibinasakan orang.  Maka sekarang, ya Tuhan, Allah  kami, selamatkanlah kiranya kami dari tangannya, supaya segala kerajaan di bumi mengetahui,  bahwa hanya Engkau sendirilah Allah, ya Tuhan.”   Lalu Nabi Yesaya bin Amos menyuruh orang kepada Hizkia mengatakan, “Beginilah sabda Tuhan, Allah Israel:  ‘Apa yang telah kaudoakan kepada-Ku mengenai Sanherib, raja Asyur, telah Kudengar.’ Inilah sabda yang telah diucapkan Tuhan mengenai dia,  ‘Anak dara, yaitu puteri Sion, telah menghina engkau,  telah mengolok-olokkan engkau;  dan puteri Yerusalem telah geleng-geleng kepala di belakangmu. Dari Yerusalem akan keluar orang-orang yang tertinggal  dan dari gunung Sion orang-orang yang terluput.  Cemburu Tuhan semesta alamlah yang akan melakukan hal ini.’  Maka beginilah sabda Tuhan mengenai raja Asyur,  ‘Ia tidak akan masuk ke kota ini dan tidak akan menembakkan panah ke sana. Ia juga tidak akan mendatanginya dengan perisai dan tidak akan menimbun tanah menjadi tembok  untuk mengepungnya.  Melalui jalan dari mana ia datang, ia pun akan pulang, tetapi ke kota ini, ia tidak akan masuk,’  demikianlah sabda Tuhan. Aku akan membela kota ini untuk  menyelamatkannya,  demi Aku dan demi Daud, hamba-Ku’.”  Maka pada malam itu keluarlah Malaikat Tuhan,  membunuh seratus delapan puluh lima ribu orang  di dalam perkemahan Asyur.  Sebab itu berangkatlah Sanherib, raja Asyur; ia pulang lalu tinggal di kota Niniwe.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 48:2-3a.3b-4.10-11
Allah menegakkan kotanya untuk selama-lamanya.
*Agunglah Tuhan dan sangat terpuji  di kota Allah kita!  Gunung-Nya yang kudus, yang menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi.
*Gunung Sion, pusat kawasan utara,  itulah kota Raja Agung.  Dalam puri-purinya   Allah memperkenalkan diri sebagai benteng.
*Dalam bait-Mu, ya Allah, ya Tuhan, kami renungkan kasih setia-Mu.
Nama-Mu, ya Allah, sampai ke ujung bumi;  demikian pulalah kemasyhuran-Mu;  tangan kanan-Mu penuh dengan keadilan.

Bait Pengantar Injil  Yoh 8:12
Akulah cahaya dunia;  siapa yang mengikuti Aku, ia hidup dalam cahaya abadi.

Bacaan Injil  Mat 7:6.12-14
Dalam khotbah di bukit Yesus berkata,  “Janganlah kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing,  dan janganlah kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injak dengan kakinya,  lalu babi itu berbalik mengoyak kamu.  Segala sesuatu yang kamu kehendaki diperbuat orang kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.  Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.  Masuklah melalui pintu yang sempit itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan,  dan banyak orang telah masuk melalui pintu dan jalan itu. Tetapi sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kehidupan, dan sedikitlah orang yang menemukannya.”
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan.

Nasehat haruslah datang dari orang bijak, orang bijak mempunyai pengetahuan luas dan pengalaman cukup, serta hidupnya seimbang. Kita patut mendengarkan nasihat dari mulut orang seperti itu karena mempunyai makna keabadian.  Dari bacaan I, nasihat diberikan kepada para penguasa yang mengalami persoalan tekanan politik akan pentingnya doa, yang menghadirkan Tuhan. Bahwa Tuhan akan menjawab doa yang disampaikan dengan tulus dan penuh iman . Tuhan menjadi benteng dan gunung batu perlindungan dari musuh jahat.   Dalam Injil hari ini, Yesus memberi beberapa nasehat praktis tentang hidup,

Pertama, barang yang kudus jangan diberikan pada anjing. Percuma, menawarkan nilai nilai itu kepada anjing karena pasti tidak akan dihargai.

Kedua, mutiara yang berharga, jangan pula dilemparkan kepada babi, karena binatang itu hanya tahu makan dan makan. Babi dapat mengira mutiara itu biji bijian enak, tetapi ketika tahu bahwa itu bukan makanan , babi itu akan marah dan menyerang. ( kedua binatang  itu  merupakan gambaran orang yang tidak mengerti nilai nilai kekudusan dan keindahan).

Ketiga, kehendak baik, janganlah hanya diarahkan pada diri sendiri, tetapi apa yang baik, yang kamu harapkan terjadi pada diri sendiri, perbuatlah itu dan terjadilah itu pada sesamamu juga.

Keempat,  pintu dan jalan menuju kehidupan sejati, itu sesak dan sempit. Untuk melaluinya orang harus banyak berjuang dengan tekad yang kuat, Kalau hanya cari mudahnya, jalan itu jalan lebar dan banyak orang menempuhnya tetapi akan membawa kepada kebinasaan.

Kelima, hati hati terhadap nabi nabi palsu, yang menyesatkan dengan janji janji indah akan hidup instan. Mereka menyamar dan menipu sebagai domba domba yang kelihatan tulus , tetapi sebenarnya kejam seperti serigala. Dari buahnya tentu kita dapat melihat bagaimana pohonnya.  Kita dinasehatkan untuk bijak dalam menghayati dan mengamalkan iman kita. Disatu pihak , kita diajak untuk bijak dalam berelasi dengan orang orang yang tidak seiman, khususnya dengan mereka yang tidak bisa menghargai “mutiara” yang kita miliki. Dilain pihak , kita diundang untuk peka dan terbuka kepada teguran dan bimbingan Tuhan.

Butir permenungan.

Belajar dari St, Aloisius Gonzaga, kita berani bertaruh pada nasehat kehendak Tuhan meskipun banyak kesulitan. Kita perlu tekun berdoa dan berjaga dengan tulus, memelihara nilai nilai berharga yakni kekudusan dan keindahan Ilahi, mempraktekkan hidup dengan mencintai sesama seperti diri sendiri . Itulah jalan benar menuju kehidupan sejati.

Doa.

Ya Tuhan yang maha pengasih, bimbinglah umat-Mu  untuk bertindak bijak dalam menyikapi masalah kami sehari hari. Amin.

Akulah cahaya dunia;  siapa yang mengikuti Aku, ia hidup dalam cahaya abadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *