Renungan Harian Katolik Senin 11 November 2019

84 views

Bacaan Liturgi Senin 11 November 2019

PW S. Martinus dr Tours, Uskup

Bacaan Pertama  Keb 1:1-7

Kasihilah kebenaran, hai para penguasa dunia.  Hendaklah pikiranmu tertuju kepada Tuhan dengan tulus ikhlas,  dan carilah Dia dengan tulus hati.  Ia membiarkan diri-Nya ditemukan  oleh orang yang tidak mencobai-Nya.  Ia menampakkan diri kepada semua  yang tidak menaruh syak wasangka terhadap-Nya. Pikiran bengkang-bengkung menjauhkan dari Allah, dan oran bodoh yang menguji kekuasaan-Nya pasti dienyahkan.

Sebab kebijaksanaan tidak masuk ke dalam hati keruh,  dan tidak pula tinggal dalam tubuh yang dikuasai dosa. Roh pendidik yang suci menghindarkan tipu daya,  dan pikiran pandir dijauhinya. Sebab kebijaksanaan adalah roh yang sayang akan manusia, tetapi si penghojat tidak dibiarkannya  terluput dari hukuman karena ucapan bibirnya.  Memang Allah menyaksikan hati sanubarinya, benar-benar mengawasi isi hatinya  dan mendengarkan ucapan lidahnya. Sebab roh Tuhan memenuhi seluruh ,  dan Dia yang merangkum segala-galanya  tahu apa saja yang disuarakan.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 139:1-10

Tuntunlah aku di jalan yang kekal, ya Tuhan.

*Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;  Engkau mengetahui apakah aku duduk atau berdiri,   Engkau mengerti pikiranku dari jauh.  Engkau memeriksa aku kalau aku berjalan dan berbaring,  segala jalanku Kaumaklumi.

*Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan,  sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan.  Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku,   dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.

Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu,  terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.

*Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu,  ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?   Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana;  jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati,  Engkau pun ada di situ.*Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,  di sana pun tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.

Bait Pengantar Injil  Flp 2:15-16

Hendaklah di dunia ini kalian bersinar seperti bintang-bintang  sambil berpegang pada firman kehidupan.

Bacaan Injil  Luk 17:1-6

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,   “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan!   Tetapi celakalah orang yang menyebabkannya. Lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada ia menyesatkan salah seorang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jika saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia.

Dan jika ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jika ia berbuat dosa terhadapmu tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata, ‘Aku menyesal,’  engkau harus mengampuni dia.”  Lalu para rasul berkata kepada Tuhan,   “Tambahkanlah iman kami!”  Tetapi Tuhan menjawab,   “Jika kalian memiliki iman sebesar biji sesawi, kalian dapat berkata kepada pohon ara ini,   ‘Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut,’   maka pohon itu akan menurut perintahmu.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.

Yesus meminta agar kita memberikan pengampunan kepada saudara kita yang menyesali kesalahannya dan memohon ampun kepada kita ; “ …… dan jikalau ia menyesal , ampunilah dia “ (ay 3) . Dalam pengalaman hidup kita , mengampuni bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan . Ini bisa dimengerti karena secara lahiriah , kita tidak mendapatkan ganjaran apapun karena tindakan pengampuan itu. Namun secara rohaniah kita mendapatkan banyak.

Pengampunan  itu bukan soal perasaan. Tetapi soal keputusan. Ia bukan soal saya merasa  kasihan padanya maka saya mengampuninya. Karena sebagaimana kita pahami  bersama bahwa perasaan itu selalu berubah. Apakah kita tidak mau mengampuni bila kita tidak mempunyai perasaan kasihan padanya? Jadi mengampuni itu bukan soal perasaan, itu soal keputusan. Artinya saya dengan sadar memutuskan untuk mengampuni entah apapun  jua perasaan yang berkecamuk dalam hati saya. Kita mengambil keputusan untuk mengampuni karena kita tahu bahwa Yesus mengajarkan hal itu. Dan lagi , kita pun sadar bahwa bila kita tidak mau mengampuni , bila kita menyimpan rasa sakit hati dan dendam kesumat didalam hati kita, maka hal itu akan menghancurkan kita. Maka kita memutuskan dengan sadar untuk mengampuni tidak dengan hati menggrundel , tetapi mengampuni sebagaimana Allah mengampuni kita dari hati.  Kalau kita akhirnya memutuskan untuk mengampuni , baiklah kita sadari bahwa pengampunan yang telah kita lakukan itu membebaskan kita dan orang yang kita ampuni itu dari belenggu dendam dan rasa bersalah , membuat kita mampu mencintai dan bertumbuh. Akhirnya pengampunan itu menyembuhkan hubungan kita dan jiwa kita juga.

Butir permenungan.

Kita dapat mengungkapkan kemurahan hati melalui banyak cara. Salah satunya adalah mengampuni sesama yang bersalah. Tuhan Yesus mengajar kita untuk murah hati dalam mengampuni “Jagalah dirimu, Jikalau saudaramu berbuat dosa , tegorlah dia dan jika ia menyesal ampunilah dia. Bahkan ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari  dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia. (Lukas 17:3-4)  Pengampunan orang orang Kristiani adalah pengampunan yang tidak kenal waktu . “Tujuh kali tujuh kali”  (ay 4) adalah ucapan simbolis yang berarti setiap kali. Setiap kali saudara kita berbuat dosa pengampunan hendak tetap diberikan kepadanya.  Mengampuni adalah kata yang mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah untuk dilaksanakan. Meski setiap hari kita berdoa “ Bapa Kami” , ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami. Toh kita masih susah juga untuk mengampuni. Mengampuni kesalahan sesama yang kecil dan ringan mungkin tidak terlalu sulit. Namun tidaklah demikian dengan kesalahan yang besar dan berat dan sering terjadi. Apakah masih perlu untuk mengampuni orang yang terus menerus melakukan kesalahan ? Pengampunan tetap diberikan selama kesalahan dan dosa terus terjadi. Pengampunan yang terus menerus itu adalah ungkapan iman. Hanya orang yang sungguh sungguh memiliki iman dan kasih yang mendalam yang bisa terus mengampuni sesama dengan murah hati. Karena itu , kita perlu memohon rahmat iman seperti para murid  “Tuhan , tambahkanlah iman kami” (Lukas 17:5)

Doa.

Ya Tuhan,  kami sering disakiti karena kesalahan dan dosa sesama. Berilah kami hati yang luas untuk mengampuni dan menerima kembali mereka. Jadikanlah hati kami seperti hati-Mu yang murah hati dalam mengampuni. Amin.

Hendaklah di dunia ini kalian bersinar seperti bintang-bintang  sambil berpegang pada firman kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *