Renungan Harian Katolik Senin 15 Juni 2020

147 views

Renungan Harian Katolik Kalender Liturgi Senin 15 Juni 2020 
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I  1Raj 21:1-16
Nabot, orang Yizreel, mempunyai kebun anggur di Yizreel,  di samping istana Ahab, raja Samaria. Berkatalah Ahab kepada Nabot,  “Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu,  supaya kujadikan kebun sayur sebab letaknya dekat rumahku.  Sebagai gantinya akan kuberikan kebun anggur yang lebih baik, atau jika engkau lebih suka, akan kubayar harga kebun itu dengan uang.”  Jawab Nabot kepada Ahab,  “Semoga Tuhan mencegah aku   memberikan milik pusaka leluhurku kepadamu.”  Lalu masuklah Ahab ke dalam istananya dengan kesal hati.   Ia gusar karena perkataan Nabot, orang Yizreel itu,   “Aku tidak akan memberikan milik pusaka leluhurku kepadamu.”  Maka berbaringlah raja di tempat tidurnya  dan menelungkupkan mukanya;  ia tidak mau makan.  Lalu datanglah Izebel, isterinya, dan berkata kepadanya,  “Apa sebabnya hatimu kesal, sehingga engkau tidak makan?”  Lalu jawab Ahab kepadanya,  “Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizreel itu, ‘Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang  atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kepadamu kebun anggur sebagai gantinya.’  Tetapi sahutnya,  Tidak akan kuberikan kepadamu kebun anggurku itu.”  Kata Izebel, isterinya, kepadanya,  “Bukankah engkau yang menjadi raja atas Israel?   Bangunlah, makanlah, dan biarlah hatimu gembira!   Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot,  orang Yizreel itu.”  Izebel lalu menulis surat atas nama Ahab,  memeteraikannya dengan meterai raja, lalu mengirim surat itu kepada tua-tua dan pemuka-pemuka   yang diam sekota dengan Nabot.  Dalam surat itu ditulisnya demikian,   “Maklumkanlah puasa  dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat.   Suruh jugalah dua orang dursila duduk menghadapinya,  dan mereka harus naik saksi terhadap dia, dengan mengatakan,   ‘Engkau telah mengutuk Allah dan raja.  Sesudah itu bawalah dia ke luar   dan lemparilah dia dengan batu sampai mati.”  Para tua-tua dan pemuka yang tinggal sekota dengan Nabot  melakukan seperti yang diperintahkan Izebel kepada mereka.  Mereka memaklumkan puasa  dan menyuruh Nabot duduk paling depan di antara rakyat. Kemudian datanglah dua orang, yakni orang-orang dursila itu,  lalu duduk menghadapi Nabot.  Orang-orang dursila itu naik saksi terhadap Nabot di depan rakyat,  katanya, “Nabot telah mengutuk Allah dan raja.”  Sesudah itu mereka membawa Nabot ke luar kota,  lalu melempari dia dengan batu sampai mati. Kemudian mereka menyuruh orang kepada Izebel,  “Nabot sudah dilempari sampai mati.”  Segera sesudah mendengar, bahwa Nabot sudah dilempari sampai mati,  berkatalah Izebel kepada Ahab, “Bangunlah,  ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, menjadi milikmu, karena Nabot yang menolak memberikannya kepadamu  dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi; ia sudah mati.”  Ketika Ahab mendengar, bahwa Nabot sudah mati, ia segera bangun  dan pergi ke kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya.
Demikanlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 5:2-3.5-6.7
Indahkanlah keluh kesahku, ya Tuha.
*Berilah telinga kepada perkataanku, ya Tuhan,  indahkanlah keluh kesahku.  Perhatikanlah teriakku minta tolong,  ya Rajaku dan Allahku,
sebab kepada-Mulah aku berdoa.
*Engkau bukanlah Allah yang berkenan akan kefasikan;  orang jahat takkan menumpang pada-Mu.  Pembual tidak akan tahan di depan mata-Mu;  Engkau benci terhadap semua orang yang melakukan kejahatan.
*Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong,
Tuhan jijik melihat penumpah darah dan penipu.

Bait Pengantar Injil  Mzm 119:105
Sabda-Mu adalah pelita bagi kakiku,  dan cahaya bagi jalanku.

Bacaan Injil  Mat 5:38-42
Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata,  “Kalian mendengar, bahwa dahulu disabdakan,  ‘Mata ganti mata; gigi ganti gigi.’ Tetapi Aku berkata kepadamu,  ‘Janganlah kalian melawan orang yang berbuat jahat kepadamu.  Sebaliknya, bila orang menampar pipi kananmu, berilah pipi kirimu. Bila orang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu , serahkanlah juga jubahmu. Bila engkau dipaksa mengantarkan seseorang berjalan  sejauh satu mil,  berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berikanlah kepada orang apa yang dimintanya, dan jangan menolak orang  yang mau meminjam sesuatu dari padamu.”
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan.

Banyak orang yang sangat membanggakan gelarnya Prof, Dr, Ir, dan masih dibelakangnya MA, Msc, MM dst.  Tetapi tidak semua menyadari bahwa gelar itu memiliki konsekwensi yang tinggi, jika seorang Profesor, Doktor lagi, tidak pernah dapat membuat kalimat yang lengkap atau kalimat kalimat dari mulutnya selalu membingungkan , maka orang akan komentar profesor kok kayak begitu dst…… Kita ini sudah menjadi murid Kristus. Kita ini sudah menjadi anak anak Perjanjian  Baru, artinya orang orang yang sudah hidup dalam alam Perjanjian Baru yang seluruh tolok ukurnya adalah Yesus Kristus Tuhan kita. Pada Injil hari ini , Yesus menunjukkan hukum Perjanjian Baru yang intinya hidup dengan kasih dan murah hati, tidak mendendam tetapi suka mengampuni. Hukum “mata ganti mata, gigi ganti gigi” adalah hukum Perjanjian Lama. Itu tidak berlaku lagi untuk para murid Kristus. Dewasa ini kita menyaksikan banyak aksi kekerasan dipicu oleh rasa dendam satu sama lain. Orang memahami bahwa kekerasan harus dibalas kekerasan, sehingga bisa menjadi sumber permasalahan terus menerus. Banyak kelompok berseteru dan mengorbankan orang lain. Di tengah situasi seperti itu Yesus memanggil kita untuk menunjukkan belas kasih yang tampak dalam pengampunan, penerimaan dan pengabdian diri kepada sesama. Belas kasih mendorong kita untuk melakukan sesuatu bukan pertama tama untuk kepentingan diri sendiri , tetapi untuk kebaikan orang lain.  Salah satu tanda bagi kita bahwa kita sudah murid Kristus adalah nama baptis. Kita sudah memiliki nama baptis sebagai tanda kalau kita murid Kristus yang mestinya juga hidup menurut hukum Perjanjian Baru.  Masalahnya apakah kita sungguh telah menyadari arti nama baptis kita ? Dengan nama baptis yang biasanya nama orang kudus itu, kita mestinya hidup sesuai dengan hukum Perjanjian Baru , yakni bermurah hati dan suka mengampuni.

Butir permenungan.

Sayangnya , masih banyak dari  antara kita yang sudah baptis ini masih suka mendendam dan sulit mengampuni  Bahkan ada orang Kristiani yang sampai berkata  Aku tidak bisa memaafkan kesalahan dia…. apa orang itu lupa ya kalau dia sudah dibaptis,  lupa ya kalau nama baptis itu membawa konsekwensi mesti menghidupi nilai nilai Injil , hukum Perjanjian Baru.  Padahal pengampunan adalah keutamaan yang membimbing kita untuk mencapai sukacita, ketenangan dan damai sejahtera dalam diri kita dan sesama.

Doa.

Ya Tuhan yang mahapengasih dan penyayang, berilah kami umat-Mu hati yang mudah untuk mengampuni sesama kami, walaupun kami difihak yang benar.   Amin.

Sabda-Mu adalah pelita bagi kakiku,  dan cahaya bagi jalanku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *