Renungan Harian Katolik Senin 25 November 2019

297 views

Bacaan Liturgi Senin 25 November 2019

PF S. Katarina dr Aleksandria, Perawan dan Martir

Bacaan Pertama  Dan 1:1-6.8-20

Pada tahun ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda,  datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, dan mengepung kota itu. Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda,  dan juga sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah  ke dalam tangan Raja Nebukadnezar.

Nebukadnezar membawa semuanya itu ke tanah Sinear,  ke dalam rumah dewanya  dan perkakas-perkakas itu dimasukkannya  dalam perbendaharaan dewanya.   Lalu Nebukadnezar bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang muda Israel, yang berasal dari keturunan raja  atau dari kaum bangsawan.  Pemuda-pemuda itu hendaknya tidak bercela, berperawakan baik, memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan luas, dan mempunyai pengertian tentang ilmu.  Pendek kata hendaknya orang-orang yang cakap untuk bekerja  dalam istana raja.   Hendaknya mereka diajar tulisan dan bahasa orang Kasdim.  Dan raja menetapkan bagi mereka  jatah makanan setiap hari dari santapan raja, dan jatah minuman dari anggur yang biasa diminum raja.  Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja.  Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. Tetapi Daniel bertekad untuk tidak menajiskan diri   dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja. Maka ia meminta kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan diri.  Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel  kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu,  namun katanya,  “Makanan dan minuman telah ditetapkan oleh raja sendiri. Aku takut, kalau-kalau tuanku raja berpendapat   bahwa kalian kelihatan kurang sehat   dibandingkan dengan pemuda-pemuda lain  yang sebaya dengan kalian.   Nanti akulah yang dipersalahkan oleh raja, oleh karena kalian.  Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang,   yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya,  “Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini   selama sepuluh hari, dan biarlah kami diberikan sayur sebagai makanan  dan air sebagai minuman.  Sesudah itu bandingkanlah perawakan kami  dengan perawakan pemuda-pemuda yang makan dari santapan raja.  Kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini   sesuai dengan pendapatmu.”  Permintaan Daniel itu dikabulkannya.   Maka diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari.   Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik,   dan mereka kelihatan lebih gemuk daripada pemuda lain yang telah makan dari santapan raja.  Maka selanjutnya  penjenang itu selalu menyisihkan makanan dan minuman  yang disediakan bagi mereka  dan memberikan sayur kepada mereka.  Kepada keempat pemuda itu  Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian  tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat,   sedang Daniel juga mempunyai pengertian  tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi.  Setelah lewat waktu yang ditetapkan raja,  mereka sekalian harus dibawa menghadap,   maka dibawalah mereka oleh pemimpin pegawai istana itu  menghadap Raja Nebukadnezar.  Raja bercakap-cakap dengan mereka semua. Di antara mereka tidak didapati yang setara dengan Daniel,   Hananya, Misael dan Azarya.  Maka bekerjalah mereka itu pada raja. Dalam tiap-tiap masalah yang menuntut kebijaksanaan dan pengertian, dan yang ditanyakan raja kepada mereka,  ternyata mereka sepuluh kali lebih cerdas   daripada semua orang berilmu dan semua ahli jampi  di seluruh kerajaannya.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  T.Dan 3:52-56

*Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah leluhur kami.

   U: Kepada-Mulah pujian selama segala abad.

*Terpujilah nama-Mu yang mulia dan kudus.

   U: Kepada-Mulah pujian selama segala abad.

*Terpujilah Engkau dalam Bait-Mu yang mulia dan kudus.

   U: Kepada-Mulah pujian selama segala abad.

*Terpujilah Engkau di atas takhta kerajaan-Mu.

   U: Kepada-Mulah pujian selama segala abad.

*Terpujilah Engkau yang mendugai samudera raya.

   U: Kepada-Mulah pujian selama segala abad.

*Terpujilah Engkau di bentangan langit.

   U: Kepada-Mulah pujian selama segala abad.

Bait Pengantar Injil  Mat 24:42a.44

Berjaga-jagalah dan bersiap-siaplah,   sebab Anak Manusia datang pada saat yang tidak kalian duga.

Bacaan Injil  Luk 21:1-4

Di bait Allah, tatkala mengangkat muka,   Yesus melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka  ke dalam peti persembahan.  Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu.   Maka Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu,  sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak  daripada semua orang itu.  Sebab mereka semua memberi persembahannya  dari kelimpahannya,  tetapi janda ini memberi dari kekurangannya,  bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.

Kita mengenal pepatah lain “do ut des” artinya saya memberi supaya saya diberi. Secara manusiawi , hal ini tidaklah buruk, asal orang yang diberi itu membalasnya dengan lkhlas. Kebijaksanaan dalam pepatah ditujukan untuk mengingatkan orang yang hanya bisa meminta dan tidak pernah memberi. Memberi dalam sebuah persembahanpun kadang tidak luput dari nuansa paket “ do ut des” Kapan memberi itu disebut persembahan? Ketika pemberian itu tidak didasarkan pada harapan agar dibalas , tetapi pada cinta kasih dan iman sejati. Kita memberi dengan kerelaan  hati,  Selanjutnya kita serahkan kepada kehendak Tuhan. Kapan kita akan menerima dan dalam bentuk apa, Kita dapat menerima kebaikan Tuhan yang mempunya cara sendiri untuk mengganjar orang yang bermurah hati, bahkan untuk yang berani bertaruh akan kebaikan Tuhan, yakin suatu saat akan mendapatkan anugerah lebih besar berlipat ganda.  Persembahan hati mempunyai nilai ilahi, yaitu dengan memberi sesuatu yang berharga berarti kita mengumpulkan harta di surga (Mat  6:20)  Memberi adalah tanda kasih, indah namun menuntut kurban. Ada rasa sakit didalamnya, karena memberi berarti melepaskan sesuatu dari yang dimilikinya. Semakin berharga yang kita lepaskan, semakin berat rasanya memberi. Tidak heran Bunda Teresa dari Kalkuta mengatakan bahwa mencintai  berarti memberi sampai terasa sakit. Ketika  orang bersedia memberi , meskipun terasa sakit namun melakukannya dengan tulus, ada cinta didalamnya.  Dalam Injil hari ini, Yesus memuji persembahan janda miskin. Meskipun sang janda hanya mempersembahkan uang dua peser, namun dia memberi dari kekurangannya, Dibalik persembahannya tersembunyi pengorbanan yang besar, Dia  mempersembahkan uang yang sangat berarti bagi hidupnya, Orang orang lain mungkin memberi persembahan yang jauh lebih besar darinya. Meski demikian mereka memberi kelebihan. Persembahan itu tidak mengganggu kenyamanan hidup mereka.  Pada peringatan Santa Perawan Maria dipersembahkan kepada Allah hari ini , kita diajak merenungkan bahwa persembahan bukan melulu berupa barang, bangunan, atau uang , tetapi lebih berharga lagi kalau yang dipersembahkan diri pribadi kita , hati seutuhnya dan seluruh kehidupan kita.

Butir permenungan

Persembahan janda miskin ini menyadarkan  kita , sering kita menyatakan mencintai Tuhan, Beranikah kita mempersembahkan sesuatu yang berharga untuk-Nya? Di tengah kesibukan, bersediakah kita memberi waktu untuk  berdoa   dan bergabung dalam pelayanan rohani? Relakah kita mempersembahkan sebagian penghasilan kita untuk mendukung karya misi Gereja? Cinta tidak berhenti dengan kata kata belaka. Ibarat pohon, cinta menjadi penuh ketika berbuah. Berbuah berarti berbagi berkah bagi sesama, terutama yang membutuhkan, Memang itu sakit namun sangat indah.

Doa

Ya Tuhan , ajarilah kami membuktikan kasih kami kepada-Mu melalui persembahan diri yang tulus demi perkembangan Kerajaan Kasih-Mu di dunia ini. Amin.

Berjaga-jagalah dan bersiap-siaplah,   sebab Anak Manusia datang pada saat yang tidak kalian duga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *