Renungan Harian Katolik Senin 27 Juli 2020

269 views

Renungan Harian Katolik Kalender Liturgi  Senin 27 Juli 2020
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I  Yer 13:1-11
Beginilah sabda Tuhan kepadaku,   “Pergilah membeli ikat pinggang lenan,  dan ikatkanlah pada pinggangmu, tetapi jangan kaucelupkan ke dalam air!”  Maka aku membeli ikat pinggang seperti yang disabdakan Tuhan, lalu kuikatkan pada pinggangku. Sesudah itu datanglah sabda Tuhan kepadaku untuk kedua kalinya,  “Ambillah ikat pinggang yang telah kaubeli,  yang sekarang ada pada pinggangmu itu. Pergilah segera ke sungai Efrat,  dan sembunyikanlah di sana, di celah-celah bukit batu!”  Maka pergilah aku dan menyembunyikannya di tepi sungai Efrat  sebagaimana diperintahkan Tuhan kepadaku.  Sesudah beberapa lama bersabdalah Tuhan kepadaku,  “Pergilah segera ke sungai Efrat,
dan ambillah dari sana ikat pinggang yang Kuperintahkan kausembunyikan di sana!”  Maka pergilah aku ke sungai Efrat,  lalu aku menggali dan mengambil ikat pinggang itu dari tempat aku menyembunyikannya. Tetapi ternyata ikat pinggang itu sudah lapuk, tidak berguna lagi untuk apa pun.  Lalu datanglah sabda Tuhan kepadaku,”Beginilah sabda Tuhan,  ‘Demikianlah  Aku akan menghapuskan kecongkakan Yehuda dan Yerusalem.  Bangsa yang jahat ini enggan mendengarkan sabda-Ku. Mereka mengikuti kedegilan hatinya  dan mengikuti allah lain  untuk beribadah dan bersujud kepada mereka. Bangsa yang jahat ini akan menjadi seperti ikat pinggang  yang tidak berguna untuk apa pun. Sebab seperti ikat pinggang melekat pada pinggang seseorang, demikianlah tadinya segenap kaum Israel dan segenap kaum Yehuda   Kulekatkan kepada-Ku,’  demikianlah sabda Tuhan,  ‘supaya mereka itu menjadi umat,  yang ternama, terpuji dan terhormat bagi-Ku.  Tetapi mereka itu tidak mau mendengar’.”
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Ul 32:18-19.20-21
Engkau telah melupakan Allah yang melahirkan dikau.
*Hai umat, engkau telah melalaikan Gunung batu yang memperanakkan dikau,  dan melupakan Allah yang melahirkan dikau.  Ketika Tuhan melihat hal itu, maka Ia menolak mereka,  karena Ia sakit hati oleh anak-anaknya lelaki dan perempuan.

*Tuhan bersabda,  “Aku hendak menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka,  dan melihat bagaimana kesudahan mereka,  sebab mereka itu suatu angkatan yang bengkok, anak-anak yang tidak mempunyai kesetiaan.

*Mereka membangkitkan cemburu-Ku dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan sakit hati-Ku dengan berhala mereka.  Sebab itu Aku akan membangkitkan cemburu mereka   dengan yang bukan umat,
dan akan menyakiti hati mereka dengan bangsa yang bebal.

Bait Pengantar Injil  Yak 1:18
Dengan rela hati Allah telah melahirkan kita  oleh sabda kebenaran,
supaya kita menjadi anak sulung ciptaan-Nya.

Bacaan Injil  Mat 13:31-35
Sekali peristiwa Yesus membentangkan perumpamaan ini,  “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh,  sesawi itu lebih besar dari pada sayuran lain, bahkan menjadi pohon,  sehingga burung-burung di udara datang bersarang  pada cabang-cabangnya.”  Dan Yesus menceriterakan perumpamaan ini lagi,  “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang wanita  dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat  sampai seluruhnya beragi.”  Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak  dalam perumpamaan, dan Ia tidak menyampaikan apa pun kepada mereka   kecuali dengan perumpamaan.  Dengan demikian digenapilah sabda nabi, “Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan,   Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi   sejak dunia dijadikan.”
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan.

Setiap kali mengikuti Misa diparoki itu, saya selalu hampir tidak mendapat tempat duduk. Umat yang datang sangat banyak. Saya heran akan hal itu. Gerejanya kecil dan tidak mewah. Imam yang memimpin bukanlah tokoh terkenal, bukan dosen apalagi teolog. Dia tidak memiliki karisma penyembuhan yang bisa yang bisa didatangi oleh ribuan umat. Ia juga bukan pengkhotbah ulung, tetapi umat tidak berhenti datang , seolah disana mereka menemukan surga yang memberikan sukacita dan damai.  Saya memberanikan diri untuk bertanya kepada beberapa umat. Mereka memberi tahu saya bahwa daya tarik yang membuat umat betah dan selalu datang adalah keramahan dan perhatian pastor paroki terhadap umatnya. Setiap kali menyapa umat , ia tidak pernah lupa menebarkan senyum, Ia selalu mengunjungi umat terutama yang sakit dan yang lansia. Saya tidak menduga bahwa daya tarik paroki tersebut hanyalah senyuman dan gembala yang sederhana.  Apa yang dilakukan oleh pastor paroki tersebut adalah contoh dari ajaran Yesus dalam Injil hari ini tentang Kerajaan Surga. Kita sering berpikir bahwa Kerajaan Surga itu tampak dalam hal hal yang besar , spektakuler dan heboh. Nyatanya , Kerajaan Surga itu tumbuh dan berkembang dari hal hal yang kecil seperti senyuman dan perhatian yang diberikan oleh pastor paroki tersebut. Seperti burung burung yang berlindung diatas pohon sesawi yang tumbuh besar, demikian juga umat beriman merasa aman , damai dan tenteram berada di paroki tersebut. Disana mereka menemukan Tuhan . Bukankah ini wujud Kerajaan Surga yang kita cari dan nantikan itu?   Adalah salah besar jika kita berfikir bahwa Kerajaan Surga itu melulu berhubungan dengan sesuatu yang akan terjadi nanti atau berpikir bahwa Kerajaan Surga itu merupakan ide atau gagasan teologis saja. Kerajaan Surga itu ada sekarang dan hadir ditengah tengah kita dalam hidup bersama dengan orang lain. Bahkan kita sendiripun bisa menjadi alat yang dipakai oleh Tuhan untuk menampilkan Kerajaan-Nya sebab kita inilah ragi dan benih sesawi itu. Karenanya , sambil merenungkan Injil hari ini , kita perlu bertanya dalam hati  “Benih apa yang sudah saya taburkan untuk menampilkan Kerajaan Surga dalam hidup sehari hari?

Butir permenungan.

Pertanyaan untuk kita renungkan, sudah berapa kali kita menolak Yesus  dalam pengalaman hidup selama ini?  Dalam relasi kita dengan sesama, mungkin kita pun sering menolak Yesus yang hadir dalam diri sesama. Alasannya , karena kita lebih cenderung menilai seseorang dari tampilan fisik, apa statusnya, apa yang dipakainya, dan dari keluarga mana orang itu berasal, bagaimana latar belakang pendidikan dan sebagainya. Sebagai anggota Gereja , persekutuan umat Allah, hendaknya kita juga menyadari  bahwa kita diselamatkan bukan karena status status yang kita miliki, melainkan karena iman yang dihayati melalui perbuatan perbuatan baik yang kita lakukan baik terhadap Tuhan maupun sesama.  Pesan Injil hari ini mengajak kita untuk membuka pintu hati kita sehingga Yesus dapat  berdiam selamanya dalam hati dan hidup kita. Mari kita menerima kehadiran Tuhan yang tersamar hadir dalam diri sesama , tanpa harus melihat dan mempertimbangkan latar belakang hidup mereka.

Doa.

Ya Tuhan yang mahabaik, bantukah kami umat-Mu untuk dapat selalu membuka hati untuk menerima Tuhan yang hadir dalam diri sesama disekitar kita. Amin.

Dengan rela hati Allah telah melahirkan kita  oleh sabda kebenaran, supaya kita menjadi anak sulung ciptaan-Nya.

One thought on “Renungan Harian Katolik Senin 27 Juli 2020

  1. Puji Tuhan,saya sangat senang,bisa belajar lebih mengerti tentang Firman Tuhan. Moga akan menjadi lebih baik lagi buat pribadi2 yg merindukan belas kasih Tuhan dan menjadi pribadi yg baik dihadapan Tuhan dan sesama.. Tuhan Yesus Memberkati 🙏♥️

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *