Renungan Harian Katolik Senin 3 Agustus 2020

440 views

Renungan Harian Katolik Kalender Liturgi Senin 3 Agustus 2020
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I  Yeremia 28:1-17
Peristiwa ini terjadi di kota Yerusalem pada awal pemerintahan Zedekia, raja Yehuda, yaitu dalam bulan yang kelima tahun yang keempat.  Nabi Hananya bin Azur, yang berasal dari Gibeon, berkata kepadaku di rumah Tuhan, di depan mata para imam dan seluruh rakyat:  “Beginilah sabda Tuhan semesta alam, Allah Israel:  ‘Aku telah mematahkan penindasan raja Babel.  Dalam dua tahun ini  segala perkakas rumah Tuhan yang telah diambil dari rumah ini oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang diangkutnya ke Babel,  akan Kukembalikan ke tempat ini. Juga Yekhonya bin Yoyakim, raja Yehuda, beserta semua orang buangan dari Yehuda yang dibawa ke Babel akan Kukembalikan ke tempat ini,’ demikianlah sabda Tuhan. Sungguh, Aku akan mematahkan penindasan raja Babel itu!”  Lalu berkatalah nabi Yeremia kepada nabi Hananya  di depan para imam dan seluruh rakyat  yang berdiri di rumah Tuhan.  Kata nabi Yeremia, “Amin! Moga-moga Tuhan berbuat demikian! Moga-moga Tuhan menepati perkataan-perkataan  yang kaunubuatkan itu  dengan mengembalikan perkakas-perkakas rumah Tuhan  dan semua orang buangan dari Babel ke tempat ini.  Hananya, dengarkanlah perkataan yang hendak kukatakan kepadamu dan kepada seluruh rakyat ini. Nabi-nabi yang ada sebelum aku dan sebelum engkau dari dahulu kala telah bernubuat kepada banyak negeri  dan terhadap kerajaan-kerajaan yang besar  tentang perang dan malapetaka dan penyakit sampar. Tetapi mengenai seorang nabi  yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat itu digenapi, maka barulah ketahuan,  bahwa nabi itu benar-benar diutus oleh Tuhan.”  Kemudian nabi Hananya mengambil gandar yang terpasang pada tengkuk nabi Yeremia, lalu mematahkannya. Berkatalah Hananya di depan seluruh rakyat,  “Beginilah sabda Tuhan,  ‘Dalam dua tahun ini  begitu jugalah Aku akan mematahkan kuk Nebukadnezar, raja Babel, dari tengkuk segala bangsa!”  Kemudian pergilah nabi Yeremia dari sana.  Dan sesudah nabi Hananya mematahkan gandar  dari tengkuk nabi Yeremia, bersabdalah Tuhan kepada Yeremia,  “Pergilah katakanlah kepada Hananya,  ‘Beginilah sabda Tuhan:  Engkau telah mematahkan gandar kayu,  tetapi Aku akan membuat gandar besi sebagai gantinya!’  Sebab beginilah sabda Tuhan semesta alam, Allah Israel,  ‘Kuk besi akan Kutaruh ke atas tengkuk segala bangsa ini, sehingga mereka takluk kepada Nebukadnezar, raja Babel. Sungguh mereka akan takluk kepadanya!  Malahan binatang-binatang di padang telah Kuserahkan kepadanya’.”  Lalu berkatalah nabi Yeremia kepada nabi Hananya,  “Dengarkanlah, hai Hananya!  Tuhan tidak mengutus engkau,  dan engkau telah membuat bangsa ini percaya kepada dusta. Sebab itu beginilah sabda Tuhan,  ‘Sungguh, Aku menyuruh engkau pergi dari muka bumi. Tahun ini juga engkau akan mati,  sebab engkau telah menghasut rakyat murtad kepada Tuhan.”  Maka matilah nabi Hananya dalam tahun itu juga, pada bulan yang ketujuh.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm. 119:29,43,79,80,95,102

Ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku, ya Tuhan.

  • Jauhkanlah jalan dusta dari padaku, dan karuniakanlah aku Taurat-Mu.
  • Janganlah sekali-kali mencabut firman kebenaran dari mulutku, sebab aku berharap kepada hukum-hukum-Mu.
  • Biarlah berbalik kepadaku orang-orang yang takut kepada-Mu, orang-orang yang tahu peringatan-peringatan-Mu.
  • Biarlah hatiku tulus dalam ketetapan-ketetapan-Mu, supaya jangan aku mendapat malu.
  • Orang-orang fasik menantikan aku untuk membinasakan aku; tetapi aku hendak memperhatikan peringatan-peringatan-Mu.
  • Aku tidak menyimpang dari hukum-hukum-Mu, sebab Engkaulah yang mengajar aku.

Bait Pengantar Injil Yoh 1:49b

“Rabi, Engkau Anak Allah, Engkaulah raja israel.”

Bacaan Injil  Matius 14:22-36

Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret.Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya. Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan.

Menyaksikan Yesus yang berjalan di atas air telah menggerakkan Petrus untuk bertindak dalam iman. Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air untuk mendapatkan Yesus. Dia semakin jauh dari perahu yang menjamin keamanannya. Tiba-tiba Petrus kelihatan kehilangan fokusnya pada Yesus yang memanggilnya untuk berjalan di atas air untuk mendapati-Nya.

Ketika Yesus menolong Petrus, Ia berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Mat 14:31). Sebenarnya kita tidak lebih hebat daripada Petrus! Apa yang kita lihat dalam diri Petrus seringkali kita lihat juga dalam diri kita masing-masing. Seperti Petrus kita seringkali mulai bertindak dengan penuh semangat untuk mengikuti jejak Kristus. Namun, dalam salah satu titik pada jalan yang kita tempuh bersama Tuhan, mata kita melihat sesuatu yang berada di luar diri Yesus dan kita pun luput melihat siapa sebenarnya Yesus itu.

Walaupun mengetahui, bahkan menyaksikan atau mengalami sendiri, apa yang telah dilakukan Yesus dalam hidup kita atau orang-orang lain, kita membiarkan diri kita ditimpa rasa ragu-ragu. Kita lupa bahwa jika Tuhan memanggil kita, Dia menyediakan segalanya yang diperlukan guna menanggapi panggilan-Nya itu.

Percayalah bahwa yang mengundang kita untuk datang kepada-Nya dan mengatakan “jangan takut” adalah Kristus yang bangkit. Ia akan membebaskan, menyembuhkan, memperkuat diri kita, dan menopang kita terus selagi kita berjalan di atas air kehidupan yang bergelombang akibat badai. Ini adalah janji yang akan terwujud dalam semua orang yang mau berjalan dalam iman.

Doa.

“Ya Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk berjalan dalam dunia yang penuh gejolak ini dengan iman yang teguh kepada-Mu dan tolonglah aku, agar aku dapat menjadi murid-Mu yang baik. Amin.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *