Renungan Harian Katolik Senin 7 Oktober 2019

77 views

Bacaan Liturgi Senin 7 Oktober 2019

PW SP Maria, Ratu Rosario

Bacaan Pertama  Yun 1:1-17;2:10

Datanglah sabda Tuhan kepada Yunus bin Amitai demikian, “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan berserulah terhadap mereka, sebab kejahatannya telah sampai kepada-Ku.”  Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis,   jauh dari hadapan Tuhan. Ia pergi ke Yafo, dan di sana mendapat sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan.  Tetapi Tuhan menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur.  Awak kapal menjadi takut; masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang segala muatan ke dalam laut  untuk meringankan kapal.   Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah, dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak.  Datanglah nakhoda mendapatkannya sambil berkata,   “Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allahmu itu akan mengindahkan kita,  sehingga kita tidak binasa.”  Lalu berkatalah mereka satu sama lain,   “Marilah kita buang undi,   supaya kita tahu, karena siapa kita ditimpa malapetaka ini.”   Mereka membuang undi, dan Yunuslah yang kena.  Maka berkatalah mereka kepadanya,   “Beritahu kami, karena siapa kita ditimpa malapetaka ini.   Apa pekerjaanmu dan dari mana engkau datang?  Manakah negerimu dan dari bangsa manakah engkau?”   Sahut Yunus kepada mereka,   “Aku ini seorang Ibrani. Aku takwa pada Tuhan, Allah yang menguasai langit, yang telah menjadikan laut dan daratan.”  Orang-orang itu menjadi sangat takut, lalu berkata kepadanya,   “Apa yang telah kauperbuat?”   Sebab orang-orang itu tahu, bahwa ia telah melarikan diri, jauh dari hadapan Tuhan.  Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka.   Bertanyalah mereka, “Akan kami apakan dikau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi?  Sebab laut semakin bergelora.”  Sahut Yunus kepada mereka,   “Angkatlah aku dan campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kalian lagi. Sebab aku tahu, karena akulah badai besar ini menyerang kalian.”   Lalu berdayunglah orang-orang itu dengan sekuat tenaga  untuk membawa kapal itu kembali ke darat,  tetapi mereka tidak sanggup,   sebab laut semakin bergelora menyerang mereka.   Lalu berserulah mereka kepada Tuhan, katanya,   “Ya Tuhan, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa  karena nyawa orang ini,  dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami  darah orang yang tidak bersalah,  sebab Engkau, Tuhan, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki.”

Kemudian mereka mengangkat Yunus dan mencampakkannya ke dalam laut. Maka laut berhenti mengamuk.  Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada Tuhan, lalu mempersembahkan kurban sembelihan kepada Tuhan serta mengikrarkan nazar.  Maka atas penentuan Tuhan datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus. Dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu  tiga hari tiga malam lamanya.  Lalu bersabdalah Tuhan kepada ikan itu, dan ikan itu pun memuntahkan Yunus ke darat.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Yun 2:2.3.4.5.8

Engkau mengangkat nyawaku dari dalam liang kubur.

*Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku.   Dari tengah-tengah alam maut aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.

*Engkau telah melemparkan daku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan,

lalu aku terangkum oleh arus air;   segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.

*Aku berkata, “Telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?”

*Ketika jiwaku letih lesu dalam diriku, teringatlah aku kepada Tuhan,

dan sampailah doaku kepada-Mu,  ke dalam bait-Mu yang kudus.

Bait Pengantar Injil  Yoh 13:34

Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan;  yaitu supaya kamu saling mengasihi,  sama seperti Aku telah mengasihi kamu.

Bacaan Injil  Luk 10:25-37

Pada suatu ketika  seorang ahli kitab berdiri hendak mencobai Yesus,

“Guru, apakah yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?”   Jawab Yesus kepadanya,  “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat?  Apa yang kaubaca di sana?”  Jawab orang itu,  “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu. dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”  Kata Yesus kepadanya,  “Benar jawabmu itu. Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”  Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata lagi, “Dan siapakah sesamaku manusia?”  Jawab Yesus,   “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya, dan sesudah itu meninggalkannya setengah mati.  Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu. Ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.  Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu.   Ketika melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.  Lalu datanglah ke tempat itu seorang Samaria yang sedang dalam perjalanan.

Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.  Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian  ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri  lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.  Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya, ‘Rawatlah dia, dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya waktu aku kembali.’  Menurut pendapatmu siapakah di antara ketiga orang ini, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”  Jawab orang itu,  “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Yesus berkata kepadanya,

“Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan

Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati merupakan salah satu perumpamaan indah yang hanya terdapat didalam Injil Lukas. Yesus mengisahkan perumpamaan ini di tengah masyarakat Yahudi yang pada waktu itu kebingungan dengan kaburnya definisi “sesama”  Sesama dapat diartikan sebagai saudara sekandung, semarga, sesuku, ataupun sebangsa. Selain itu, orang yang mempunyai relasi baik dengan mereka (meskipun tidak sesuku) dapat juga disebut sebagai sesama. Yesus sendiri mempunyai pengajaran yang jelas bahwa semua orang tanpa kecuali adalah sesama kita. Itu berarti , mereka yang memusuhi kita pun dapat kita sebut  sebagai sesama. Rupanya ajaran Yesus ini masih sulit diterima oleh rekan sebangsanya. Karena itulah,Yesus mengisahkan perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Orang Samaria adalah suku bangsa yang tinggal di Palestina namun dipandang rendah oleh bangsa Yahudi, bahkan dianggap kafir. Alasannya , mereka adalah keturunan Yahudi yang sudah tidak murni lagi karena mengadakan perkawinan dengan bangsa bangsa lain.  “Menurut pendapatmu siapakah di antara ketiga orang ini, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” (ay 36)  Kali ini Yesus yang bertanya . Yesus hendak membongkar pola pikir ahli Taurat. Yesus tidak menjawab pertanyaan, “Siapakah sesamaku?”  Yesus malah balik bertanya , “Bagi siapakah kamu telah menjadi sesama?  Apakah kamu telah menjadi sesama bagi orang orang menderita disekitarmu?” Dan ini masih bisa dilanjutkan, “Ataukah kamu menjadi sesama hanya bagi orang orang sekelompokmu?”   Pertanyaan ahli Taurat ini tidak sulit dijawab. Tetapi, pertanyaan Yesus barangkali akan membawa kita ke sudut dimana kita hanya bisa tertunduk malu karena belum menjadi sesama bagi banyak orang. Kita cenderung memilih milih . Atau kita barangkali lebih terikat pada jadwal dan kesibukan kita. Apapun alasannya, kalau kita mau jujur, masih banyak hal yang kita jadikan alasan untuk tidak menjadi sesama bagi orang orang disekitar kita, khususnya mereka yang menderita. Kita perlu belajar mengubah itu , kalau mau memperoleh hidup yang kekal. Dan ini ditujukan kepada kita.

Butir permenungan.

Injil hari ini sangat menyentuh inti dari kehidupan beriman yaitu  “Iman yang dihidupi dengan perbuatan kasih”  Iman adalah rahmat, supaya rahmat itu tidak sia sia  maka perlu usaha untuk memelihara dan mengembangkannya sehingga berdaya guna  bagi keselamatan sendiri dan orang lain. “ Iman tanpa perbuatan adalah mati”, kata Rasul Jakobus.  Ia menambahkan “Jika ia tahu berbuat baik dan tidak melakukannya maka ia berdosa”  Relasi yang intim dengan Allah harus berbuah kebajikan yang manis terhadap sesamanya.  Doa, Ekaristi, aktivitas rohani harusnya menjadi spirit sekaligus penggerak untuk mewujudkan iman atau menjadi daya dorong seseorang untuk membagikan kasih Allah kepada sesama. Kedekatan dengan Allah justru menambah kekuatan kita untuk mewujudkan kasih, menumbuhkan kepekaan terhadap sesama, dan menimba kebaikan untuk sesama.

Doa.

Allah  Bapa yang Mahabaik, kasih – Mu yang bernyala nyala membangkitkan gairah iman kami umat – Mu. Ajarilah kami umat – Mu untuk mewujudkan kasih yang benar terhadap sesama, bukan dengan kata kata saja melainkan terlebih dengan perbuatan nyata.  Amin.

Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan;  yaitu supaya kamu saling mengasihi,  sama seperti Aku telah mengasihi kamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *