Renungan Katolik Jumat 5 April 2019

74 views

Bacaan Liturgi Jumat 5 April 2019

PF S. Vinsensius Ferrer, Imam

Bacaan Pertama  Keb 2:1a.12-22

Orang-orang fasik berkata satu sama lain, karena angan-angan mereka tidak tepat,  “Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya dosa-dosa terhadap pendidikan kita.  Ia membanggakan mempunyai pengetahuan tentang Allah, dan menyebut dirinya anak Tuhan.  Bagi kita ia merupakan celaan atas anggapan kita;

melihat dia saja sudah berat rasanya bagi kita. Sebab hidupnya sungguh berlainan dari kehidupan orang lain, dan lain dari lainlah langkah lakunya. Kita dianggap olehnya sebagai orang yang tidak sejati, dan langkah laku kita dijauhinya seolah-olah najis adanya.

Akhir hidup orang benar dipujinya bahagia, dan ia bermegah-megah bahwa bapanya ialah Allah.  Coba kita lihat apakah perkataannya benar, dan ujilah apa yang terjadi waktu ia pulang. Jika orang yang benar itu sungguh anak Allah, niscaya Allah akan menolong dia

serta melepaskannya dari tangan para lawannya. Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya.  Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan. Demikianlah mereka berangan-angan,

tapi mereka sesat, karena telah dibutakan oleh kejahatan mereka.

Maka mereka tidak tahu akan rahasia-rahasia Allah, tidak yakin akan ganjaran kesucian, dan tidak menghargakan kemuliaan bagi jiwa yang murni.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 34:17-18.19-20.21.23

Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati.

*Wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan akan mereka dari muka bumi.  Apabila orang benar itu berseru-seru, Tuhan mendengarkan;  dari segala kesesakannya mereka Ia lepaskan.

*Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.  Kemalangan orang benar memang banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu.

*Ia melindungi segala tulangnya, tidak satu pun yang patah. Tuhan membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya  tidak akan menanggung hukuman.

Bait Pengantar Injil  Mat 4:4b

Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.

Bacaan Injil  Yoh 7:1-2.10.25-30

Yesus berjalan keliling Galilea; Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea,

karena di sana orang-orang Yahudi berusaha membunuh-Nya.

Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun.  Sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu,

Ia pun pergi juga ke sana, tidak terang-terangan tetapi diam-diam.

Beberapa orang Yerusalem berkata,  “Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh?  Lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa, dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus?  Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, padahal bila Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya.”  Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru,   “Memang Aku kamu kenal, dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri,

tetapi diutus oleh Dia yang benar, yang tidak kamu kenal.  Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia, dan Dialah yang mengutus Aku.”

Mereka berusaha menangkap Yesus, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba.

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.

Kisah yang disuguhkan Injil Yohanes pada hari ini memperlihatkan kepada kita bagaimana ketidaksenangan beberapa orang Yahudi berkembang menjadi skenario untuk membunuh Yesus. Mereka ingin menghukum Yesus melalui jalan kematian yang memalukan. Berhadapan dengan situasi yang sulit ini  Yesus ingin menjauh dari Yudea ,tempat dimana orang orang Yahudi ingin membunuh-Nya. Namun akhirnya , Ia kesana juga dengan tidak terang terangan.

Satu sisi hidup-Nya yang menarik adalah bahwa Ia memilih untuk tidak memperlihatkan Diri sebagai Pribadi yang hebat. Ia tidak memperlihatkan Diri sebagai sosok yang gagah berani memberikan perlawanan kepada orang orang Yahudi. Sisi lain hidup-Nya yang menarik adalah Ia tetap setia mengajarkan kebenaran meskipun orang orang Yahudi ingin menangkap-Nya.  Apa yang dialami oleh Yesus bisa terulang dalam sejarah masa kini. Kita masih ingat bagaimana Uskup Oscar Romero, pejuang hak hak kaum miskin, dibunuh saat merayakan Ekaristi. Martin Luther king Jr. , tokoh yang  memperjuangkan kesamaan hak, juga dibunuh.  Sebagai murid Yesus  kita diajak untuk meneladani hidup-Nya, yaitu memperjuangkan kebenaran tanpa kekerasan. Memang salah satu resiko yang harus diterima oleh para pejuang kebenaran adalah mengalami ancaman sebagaimana yang Yesus alami. Bukankah Ia pernah berkata bahwa para pengikut-Nya  akan mengalami penganiayaan seperti yang Ia alami ? Mari kita ulurkan tangan kita  pada Tuhan dan mohon agar kita siap dan tidak takut meneruskan apa yang sudah diperjuangkan-Nya bersama dengan semua orang yang berkehendak baik.

Butir permenungan

Dulu saya memelihara seekor anjing yang saya beri nama Boni, saya sangat menyayanginya karena ia sangat lucu dan pintar. Sepulang kerja , saya selalu bermain dengannya. Menyisir bulunya yang panjang dan menggendongnya. Dan Boni sangat menikmati. Perlahan namun pasti Boni mulai mengenal bila tuannya pulang, memanggil ataupun marah. Bila mendengar suara kendaraan saya pulang ia dengan cepat duduk dan menunggu didepan pintu. Istri dan anak saya terkadang kalah cepat darinya. Bila ia melakukan kesalahan seperti buang air sembarangan , saat saya pulang , ia dengan wajah tertunduk duduk diatas koran yang biasa digunakan untuk buang air . Karena seperti itulah saya biasa menghukumnya, uniknya bila saya memanggil dengan nada tertentu ia akan segera datang . Ini tidak dapat ditiru oleh siapapun karena Boni sudah mengenal suara tuannya.

Injil hari ini menegaskan kembali bahwa Yesus menghendaki kita semua untuk mengenal siapa Dia dan Bapa yang mengutus-Nya. Kita tidak sekedar tahu asal usul Yesus, tanggal hari lahir-Nya yang kita rayakan , kapan Ia wafat, dan berapa hari setelahnya bangkit. Namun terlebih dari itu, kita perlu mengenal siapa Dia bagi kita. Ini semua tidak akan terjadi kalau kita tidak belajar berjalan bersama-Nya setiap hari dan mulai mempercayakan diri sepenuhnya kepada-Nya. Pengalaman bersama-Nya itulah yang membuat kita mengenal-Nya sebagai Allah yang menyertai hidup kita , yang tidak pernah meninggalkan , yang selalu menolong tepat pada waktunya dan yang mengampuni segala kesalahan kita tanpa memandang besarnya kesalahan itu.

Apakah kita sudah mengenal-Nya? Apakah kita sudah berjalan bersama-Nya hari ini?

Doa.

Ya Tuhan yang mahabaik, berilah kami umat-Mu kekuatan dan keberanian untuk meneruskan apa yang sudah diperjuangkan-Nya bersama dengan semua orang yang berkehendak baik.  Amin.

Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah