Renungan Katolik Kamis 7 Februari 2019

63 views

Kalender Liturgi Kamis 7 Feb 2019

Bacaan I  Ibr 12:18-19.21-24
Saudara-saudara, kalian tidak datang ke gunung yang dapat disentuh,
dan tidak menghadapi api yang menyala-nyala. Kalian tidak mengalami kekelaman, kegelapan atau angin badai; kalian tidak mendengar bunyi sangkakala dan suara yang dahsyat yang membuat mereka yang mendengarnya memohon, supaya suara itu jangan lagi berbicara kepada mereka. Sungguh, mereka tidak tahan mendengar sabda itu,
sehingga Musa berkata, “Aku sangat ketakutan dan sangat gemetar.”
Sebaliknya kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi. Kalian telah datang kepada beribu-ribu malaikat,
suatu kumpulan meriah, dan kepada jemaat anak-anak sulung,
yang namanya terdaftar di surga; kalian telah sampai di hadapan Allah,
yang menghakimi semua orang, dan kepada roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna. Dan kalian telah datang kepada Yesus, Pengantara Perjanjian Baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan Mzm 48:2-3a.3b-4.9.10-11
Dalam bait-Mu, ya Allah, Kami mengenangkan kasih setia-Mu.
*Agunglah Tuhan dan sangat terpuji di kota Allah kita! Gunung-Nya yang kudus, yang menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi.
*Gunung Sion, pusat kawasan utara, itulah kota Raja Agung. Dalam puri-purinya  Allah memperkenalkan diri sebagai benteng.
*Apa yang kita dengar, sungguh kita lihat, di kota Tuhan semesta alam,
di kota Allah kita; Allah menegakkannya untuk selama-lamanya.
*Dalam bait-Mu, ya Allah, kami renungkan kasih setia-Mu. Nama-Mu, ya Allah, sampai ke ujung bumi; demikian pulalah kemasyhuran-Mu; tangan kanan-Mu penuh dengan keadilan.

Bait Pengantar Injil  Mrk 1:15
Kerajaan Allah sudah dekat.   Percayalah kepada Injil.

Bacaan Injil  Mrk 6:7-13
Sekali peristiwa, Yesus memanggil kedua belas murid dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,
dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, kecuali tongkat;  roti pun tidak boleh dibawa,  demikian pula bekal dan uang dalam ikat pinggang;  mereka boleh memakai alas kaki,
tetapi tidak boleh memakai dua baju.  Kata Yesus selanjutnya kepada murid-murid itu,  “Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu.
Kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu, dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan bebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.”
Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat.
Mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak,  dan menyembuhkan mereka.
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Mengapa kita harus merasul? Itu kan tugasnya para pastor, bruder,dan suster. Kita ini sudah hidup susah, pekerjaan tidak menentu, masih disuruh merasul lagi. Mending kalau ada honor, sarana saja tidak disediakan, siapa mau? Ya, merasul dianggap tugasnya kaum berjubah saja.

Yesus mengutus kedua belas muridnya pergi berdua dua dengan pesan: “ Jangan membawa apa apa dalam perjalanan……” Yesus ingin agar mereka sepenuhnya mengandalkan Allah, mereka hanya boleh membawa yang minimal, tongkat dan alas kaki untuk bergerak cepat. Mereka boleh menerima uluran tangan dari orang yang menawarkan tumpangan, tetapi tidak boleh pilih pilih tumpangan yang enak. Jika ditolakpun mereka harus menerima dengan lapang dada, lalu pergi dan kebaskan debu sebagai peringatan, Pengebasan debu adalah kebiasaan orang orang Yahudi yang terpaksa harus melewati daerah orang orang kafir. Dengan pengebasan itu mereka membuang segala kotoran dari daerah itu yang menajiskan dan mendatangkan  hukuman Allah.  Maka sehubungan dengan pengutusan para murid , pengebasan debu merujuk pada peringatan agar orang merenungkan sikapnya dalam menanggapi pemberitaan Injil, Menolak pemberitaan itu berarti menolak tawaran penyelamatan Allah. Untuk itulah Yesus mengutus para murid pergi  berdua dua . Berdua dua penting demi terjaminnya kebenaran sebuah kesaksian (bdk. Ul 17:6 , Bil 35:50) . Berdua dua  dapat meringankan beban pekerjaan dan derita kegagalan. Berdua dua menjauhkan diri dari kesombongan pribadi atas kesuksesan. Warta yang sama dari dua orang pun jauh lebih meyakinkan.

Yesus mengutus para murid pergi merasul berdua dua dan tidak melakukannya seorang diri saja. Karena itu mari kita bekerja sama , baik yang berjubah maupun yang tidak berjubah dalam memberitakan Injil. Merasul bukan melulu pekerjaan kaum berjubah saja, melainkan menjadi pekerjaan semua murid Kristus dengan lebih mengandalkan bantuan Allah dari pada kemampuan  diri sendiri dan kelengkapan sarana.

Butir permenungan.

Anda pasti pernah mendengar kata “duta besar” , walau jarang sekali berjumpa dengan orangnya. Tugasnya sebagai utusan resmi  sebuah negara, mewakili negara itu. Sebenarnya anda pun pernah menjadi “duta” yaitu ketika disuruh untuk menyampaikan pesan atau barang tertentu kepada seseorang. Anda harus menyampaikan persis seperti yang ditugaskan. Peran anda saat itu adalah sebagai duta/utusan. Yesus juga punya duta, yaitu . Kata rasul artinya duta/utusan. Jadi, Yesus punya 12 duta. Mereka diutus berdua dua. Tujuannya agar mereka yakin dan tidak takut karena berdua. Dan orang lainpun yakin akan kesaksian mereka karena kesaksian dua orang lebih sah daripada seorang saja. Yesus memberi kuasa untuk menyembuhkan orang sakit dan kuasa atas roh roh jahat. Yesus memberi utusan-Nya kuasa yang Dia miliki.

Namun , rasul Yesus berbeda dengan duta besar sebuah negara. Mereka tidak boleh membawa apa apa dalam  perjalanan, tidak boleh membawa roti, bekal atau uang. Tongkat boleh dibawa karena itu penting dalam perjalanan untuk mengusir ular dan kalajengking yang sering dijumpai di padang gurun Israel. Mereka harus yakin dan tergantung pada Yesus saja, bukan pada barang yang dibawa. Hasilnya luar biasa banyak orang bertobat dan banyak orang sakit menjadi sembuh.

Kita pun menjadi duta Yesus masa kina. Kita telah menerima Roh Kudus ketika di babtis dan krisma. Kini kita diutus menjadi saksi-Nya dan untuk membagikan kasih-Nya kepada sesama. Pada setiap akhir misa , Imam berkata “ marilah kita pergi, kita diutus”. Marilah kita menjalankan tugas sebagai duta / utusan Tuhan , dan sungguh sungguh tergantung kepada-Nya sehingga kita bisa melihat betapa besar kuasa-Nya.

Doa.

Ya Tuhan yang mahabaik, berilah kami umat-Mu kemampuan bekerja sama  untuk memberitakan Injil dengan mengandalkan bantuan-Mu. Amin. .

Kerajaan Allah sudah dekat.   Percayalah kepada Injil.