Renungan Katolik Minggu 11 November 2018

94 views

Renungan Katolik Minggu 11 November 2018

Bacaan Liturgi  Minggu 11 November 2018

Bacaan Pertama  1Raj 17:10-16

Sekali peristiwa Nabi Elia bersiap-siap, lalu pergi ke Sarfat. Ketika ia tiba di dekat gerbang kota itu, tampaklah seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Elia berseru kepada perempuan itu, “Cobalah, ambilkan aku sedikit air dalam kendi untuk kuminum!” Ketika perempuan itu pergi mengambil air, Elia berseru lagi, “Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti!”  Perempuan itu menjawab,   “Demi Tuhan, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli.

Sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api,

sebentar lagi aku pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku,

dan setelah memakannya, maka kami akan mati.”  Tetapi Elia berkata kepadanya,   “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu.  Sebab beginilah firman Tuhan, Allah Israel:

Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis, dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktunya Tuhan  menurunkan hujan ke atas muka bumi.”  Maka pergilah perempuan itu, berbuat seperti yang dikatakan Elia.  Maka Elia, perempuan itu dan anaknya mendapat makanan beberapa waktu lamanya.  Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang  sesuai dengan firman Tuhan yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 146:7.8.9a.9bc-10

Pujilah Tuhan, hai jiwaku!

*Dialah yang menegakkan keadilan bagi orang yang diperas, dan memberikan roti kepada orang-orang yang lapar. Tuhan membebaskan orang-orang yang terkurung.

*Tuhan membuka mata orang buta, Tuhan menegakkan orang yang tertunduk, Tuhan mengasihi orang-orang benar.  Tuhan menjaga orang-orang asing.

*Anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. Tuhan itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun!

Bacaan Kedua  Ibr 9:24-28

Saudara-saudara, Kristus telah masuk ke dalam tempat kudus bukan yang buatan tangan manusia, yang hanya merupakan gambaran dari tempat kudus yang sejati, tetapi ke dalam surga sendiri untuk menghadap hadirat Allah demi kepentingan kita. Ia pun tidak berulang-ulang masuk untuk mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Agung setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus  mempersembahkan darah yang bukan darahnya sendiri.  Sebab kalau demikian,  Kristus harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang ternyata, pada zaman akhir ini,   Ia hanya satu kali saja menyatakan diri untuk menghapuskan dosa lewat kurban-Nya.  Seperti manusia ditetapkan Allah untuk mati hanya satu kali saja,

dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengurbankan diri-Nya  untuk menanggung dosa banyak orang.

Sesudah itu   Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang menantikan Dia.

Demikianlah sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil  Mat 5:3

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.

Bacaan Injil  Mrk 12:38-44 

Pada suatu hari, dalam pengajaran-Nya, Yesus berkata kepada orang banyak,  “Waspadalah terhadap ahli-ahli Taurat! Mereka suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar. Mereka suka menduduki tempat-tempat terdepan di rumah ibadat dan tempat terhormat dalam perjamuan. Mereka mencaplok rumah janda-janda sambil mengelabui orang dengan doa yang panjang-panjang.  Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

Pada suatu hari lain, sambil duduk berhadapan dengan peti persembahan, Yesus memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu.   Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar.  Lalu datanglah seorang janda miskin. Ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka Yesus memanggil para murid-Nya dan berkata kepada mereka, “Aku berkata kepadamu,

sesungguhnya janda miskin itu memberi lebih banyak  daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.  Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda itu memberi dari kekurangannya;  semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.

Menjadi orang Katolik berarti menjadi pewarta kabar gembira tentang kehidupan Yesus kepada sesama. Bekerja dengan mewartakan Injil adalah tugas mulia dari para pengikut Kristus. Namun tidak jarang si pewarta kabar gembira  mengalami tantangan yang berakibat penderitaan, menemui kegagalan karena ditolak pewartaannya. Memang disaat seperti itu, dibutuhkan penguasaan diri agar tidak emosi, kesabaran dan ketekunan untuk terus bekerja tanpa putus asa. Dibalik semua itu haruslah disadari bahwa pelayanan kita bukanlah untuk mencari popularitas diri melainkan hanya demi Kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa.  Dengan demikian pada akhirnya kita dapat berseru dengan pemazmur   “Mulutku akan menceritakan keselamatan yang datang dari-Mu, ya Tuhan.”

Dalam Injil Markus ditegaskan agar berhati hati terhadap ahli Taurat dan orang Farisi yang suka berjalan jalan memakai jubah dan suka menerima penghormatan dipasar, yang suka duduk ditempat terbaik di rumah ibadat dan tempat terhormat di tempat perjamuan , yang menelan rumah janda janda dan mengelabui mata orang dengan doa yang panjang panjang,

Tidaklah gampang melaksanakan karya pelayanan dengan tulus hati dan penuh kesabaran dan ketekunan. Kadang kita jatuh dalam usaha mencari keuntungan dan pujian diri. Karya dalam pelayanan kehidupan kita semua diukur dengan upah dan penghargaan. Inilah tantangan bagi seorang pewarta kabar gembira. Sudahkah kita melayani Tuhan dalam mewartakan kabar gembira dengan kerendahan hati dan tidak mencari keuntungan diri sendiri?  Baiklah bersama pemazmur kita belajar tekun dan rendah hati sebagai seorang pewarta yang beriman, mulutku akan menceritakan keselamatan yang datang dari Tuhan dengan segala kerendahan hati.

Butir permenungan.

Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda itu memberi dari kekurangannya;  semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.

Ada banyak kelompok yang mengajarkan tentang doktrin tabur tuai. Seberapa banyak kita memberi, akan mendatangkan berkat berkat bagi kita. Hal ini membuat banyak orang berlomba lomba memberi persembahan, baik secara materi maupun dalam bentuk pelayanan agar mendapatkan berkat yang dijanjikan.Motivasi seperti ini sangat disayangkan karena merusak persembahan yang dinaikkan kepada Tuhan . Persembahan yang dibawa kepada Tuhan bukan karena dari rasa cinta dan kehausan kepada-Nya, melainkan karena ada keinginan daging.  Jumlah dalam memberi bukan yang utama bagi Tuhan, Sekalipun si kaya dapat memberi jumlah yang lebih banyak, tapi hal itu biasa saja baginya karena ia memiliki lebih. Berbeda dengan janda yang memberi jauh lebih sedikit, namun yang sedikit itu merupakan seluruh miliknya. Perbuatan janda itu dipakai untuk menggambarkan pemberian yang terbaik dan total kepada Tuhan . Sikap hati seperti inilah yang menjadikan persembahan kita menyenangkan hati Tuhan . Sikap hati yang ingin selalu memberi yang terbaik karena rasa cinta kepada Tuhan adalah persembahan yang berkenan bagi-Nya.

Bagaimana sikap hati kita dalam memberikan persembahan kepada Tuhan , baik secara materi maupun dalam pelayanan?

Doa.

Ya Tuhan yang mahabaik, bantulah kami umat-Mu untuk berani menjadi pewarta yang beriman dan tangguh. Amin.

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,  karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.

Oleh : Albertus Joseph Noegroho