Renungan Katolik Minggu 16 September 2018

136 views

Bacaan Liturgi Minggu 16 September 2018

Bacaan Pertama  Yes 50:5-9a
Tuhan Allah telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabuti janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. Tetapi Tuhan Allah menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Maka aku meneguhkan hatiku seperti teguhnya gunung batu, karena aku tahu bahwa aku tidak akan mendapat malu.
Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku berperkara? Biarlah ia mendekat kepadaku! Sungguh, Tuhan Allah menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah?
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 116:1-2.3-4.5-6.8-9
Aku boleh berjalan di hadapan Tuhan, di negeri orang-orang hidup.
*Aku mengasihi Tuhan, sebab Ia mendengarkan suara dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidup aku akan berseru kepada-Nya.
*Tali-tali maut telah melilit aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan. Tetapi aku menyerukan nama Tuhan,
“Ya Tuhan, luputkanlah kiranya aku!” *Tuhan adalah pengasih dan adil,
Allah kita maha penyayang. Tuhan memelihara orang-orang sederhana;
aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya!
*Tuhan, Engkau telah meluputkan aku dari maut; Engkau telah meluputkan mataku dari air mata, dan kakiku dari tersandung. Aku boleh berjalan di hadapan Tuhan, di negeri orang-orang hidup.

Bacaan Kedua  Yak 2:14-18
Saudara-saudaraku, apakah gunanya kalau seorang mengatakan bahwa ia beriman, tetapi tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Misalnya saja, seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari. Kalau seorang dari antara kamu berkata kepadanya,  ‘Selamat jalan!
Kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang’ tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang diperlukan tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman! Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya mati.
Tetapi mungkin ada orang berkata, ‘Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan’, aku akan menjawab dia, “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku
dari perbuatan-perbuatanku.”
Demikianlah sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil  Gal 6:14
Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.

Bacaan Injil  Mrk 8:27-35
Pada suatu hari Yesus bersama murid-murid-Nya pergi ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?” Para murid menjawab, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi.”

Yesus bertanya lagi kepada mereka, “Tetapi menurut kamu, siapakah Aku ini?” Maka Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias!” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia. Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan.

Ia akan ditolak oleh tua-tua, oleh imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh, dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur Dia. Maka berpalinglah Yesus, dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya, “Enyahlah Iblis! Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya, dan berkata kepada mereka, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.
Demikianlah sabda Tuhan.

RENUNGAN

Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.  Mengapa Yesus harus disalibkan?  Itu salah  satu pertanyaan yang coba dijawab oleh Paulus, Tidak ada jawaban yang pasti, tapi bagi Paulus, peristiwa penyaliban Yesus adalah hikmat Allah yang tidak mudah dimengerti manusia. (1Kor 1:23-24). Peristiwa salib sebagai jalan penyelamatan memang tidak mudah difahami jika tidak ada iman.

Bagi kita salib menjadi tanda kasih Allah yang total.  Berani sengsara dan menderita demi keselamatan  orang lain, rupanya menjadi suatu keutamaan yang diajarkan-Nya kepada kita, Dengan salib-Nya, Yesus menjadi teladan kesabaran, kerendahan hati, keberanian, ketulusan dan kasih yang total. Tidak heran jika Paulus begitu terkesan dengan misteri Salb, bahkan dia berani  bersaksi : Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. (Gal 6:14). Kemegahan Paulus dibangun atas kesadaran bahwa Yesus Kristus  telah mati bagi umat manusia demi keselamatan umat manusia. Paulus mewujudkannya  kemegahan itu dengan mengikuti jalan-Nya. Kebaikan Allah dalam Kristus dibalasnya dengan kebaikan kepada sesama, menjadi pewarta yang tangguh, bahkan rela kehilangan nyawanya  Demi Kristus dan Injil-Nya Baginya  : Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. ( Flp 1:21)

Tidak mudah bagi kita untuk meneladani Santo Paulus,  Kita dapat meneladan usahanya untuk membalas kasih Allah . Jika Kristus dan banyak orang telah rela berkorban untuk kita, mengapa kita masih ragu ragu untuk berkorban  bagi Allah  dan sesama?

Butir permenungan.

Setiap kita pasti punya teman, sahabat, ataupun saudara . Kita tidak dapat menyebut mereka sahabat, atau saudara apabila kita tidak mengenal mereka secara baik. Untuk itu dibutuhkan pengenalan secara lebih mendalam Tanpa pengenalan secara mendalam, maka relasi itu akan terasa hambar dan garing. Dalam hubungan dengan Tuhan pun demikian.. Pengenalan akan diri-Nya dengan baik, membantu kita untuk mengerti apa yang menjadi kehendak-Nya  dalam hidup kita.  Hari ini Tuhan bertanya kepada kita , menurut kamu siapakah Aku ini?   Pertanyaan ini menuntut suatu jawaban yang tegas dan pengalaman pribadi yang mendalam dengan –Nya.

Petrus dengan tegas menjawab Yesus adalah Mesias. Mesias dalam kehendak Petrus pun berbeda dengan kehendak Yesus.  Bagi Yesus , gelar Mesias yang diberikan pada –Nya berarti siap mengalami penderitaan , penolakan, disiksa dan dibunuh namun Ia bangkit sesudah tiga hari . Itulah jalan keselamatan yang dipilih dan ditempuh oleh Mesias untuk menyelamatkan kita. Jalan ini sulit namun mau dijalankan oleh Yesus . Jalan yang sulit itu juga sekaligus diteruskan kepada kita pengikut-Nya . Akan tetapi kita sering kali seperti Petrus yang menarik Yesus kesamping untuk mengikuti jalan kita . Kita sering takut kehilangan nyawa  (harta, kepastian, ketenteraman) kita. Lebih baik aman menjalankan tugas rutin kita dari pada repot repot seperti Yesus yang menjadi Anak Manusia yang menderita karena mau membebaskan orang orang dari penindasan. Yesus menderita karena Dia Mesias yang sebenarnya.

Doa.

Tuhan Yesus, bantulah kami dalam usaha mengenal-Mu secara lebih mendalam , serta mengerti apa yang menjadi kehendak-Mu bagiku. Amin.

Aku sekali-kali tidak mau bermegah,
selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus,
sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.

Oleh : Albertus Joseph Noegroho