Renungan Katolik Minggu 23 September 2018

62 views

Bacaan Liturgi Minggu 23 September 2018

Bacaan Pertama  Keb 2:12.17-20
Orang-orang fasik berkata satu sama lain, “Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan, serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya dosa-dosa terhadap pendidikan kita. Coba kita lihat apakah perkataannya benar, dan ujilah apa yang terjadi waktu ia berpulang. Jika orang yang benar itu sungguh anak Allah, niscaya Allah akan menolong dia serta melepaskannya dari tangan para lawannya. Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya. Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya,
sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan.”
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 54:3-4.5.6.8
Tuhanlah yang menopang aku.
*Ya Allah, selamatkanlah aku karena nama-Mu, berilah keadilan kepadaku karena keperkasaan-Mu! Ya Allah, dengarkanlah doaku,
berilah telinga kepada ucapan mulutku!
*Sebab orang-orang yang angkuh bangkit menyerang aku, orang-orang yang sombong ingin mencabut nyawaku; mereka tidak mempedulikan Allah.
*Sesungguhnya, Allah adalah penolongku; Tuhanlah yang menopang aku. Dengan rela hati aku akan mempersembahkan kurban kepada-Mu,
aku akan bersyukur sebab baiklah nama-Mu, ya Tuhan.

Bacaan Kedua  Yak 3:16 – 4:3
Saudara-saudara yang terkasih, di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.
Tetapi hikmat yang dari atas itu pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran itu ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai. Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah dari hawa nafsumu yang saling bergulat di dalam dirimu? Kamu mengingini sesuatu tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh. Kamu iri hati, tetapi tidak mencapai tujuan, lalu kamu bertengkar dan berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta akan kamu gunakan untuk memuaskan hawa nafsu.
Demikianlah sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil  2Tes 2:14
Allah telah memanggil kita lewat Injil, sehingga kita boleh menikmati kemuliaan Yesus Kristus, Tuhan kita.

Bacaan Injil  Mrk 9:30-37
Setelah Yesus dimuliakan di atas gunung, Ia dan murid-murid-Nya melintas di Galilea. Yesus tidak mau hal itu diketahui orang, sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia. Tetapi tiga hari setelah dibunuh, Ia akan bangkit.”
Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada Yesus. Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika sudah di rumah, Yesus bertanya kepada para murid itu, “Apa yang kamu perbincangkan tadi di jalan?” Tetapi mereka diam saja; sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan menjadi pelayan dari semuanya.” Yesus mengambil seorang anak kecil ke tengah-tengah mereka. Kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka, “Barangsiapa menerima seorang anak seperti ini demi nama-Ku, ia menerima Aku. Dan barangsiapa menerima Aku,
sebenarnya bukan Aku yang mereka terima, melainkan Dia yang mengutus Aku.”
Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.

Perdebatan tentang siapa yang terbesar tampaknya sering terjadi dalam kehidupan manusia, Orang yang satu menganggap diri lebih kuat, lebih pintar, lebih kaya dari orang orang lain. Karena setiap orang merasa lebih unggul daripada yang lainnya, maka terjadilah persaingan yang tidak sehat, yang bahkan berlanjut dengan tawuran, perang saudara dan lain lain.  Tampaknya jarang sekali orang berebut menjadi pelayan, tetapi lebih senang menjadi orang terkemuka yang selalu dilayani, yang selalu mau  dihormati. Tidak heran kalau orang lebih suka mengikuti acara makan makan dari pada acara bakti sosial.  Mental seperti ini tentu sangat bertentangan dengan nilai Injil.

Pada hari ini Yesus dengan sangat baik mengajarkan kita tentang hal ini. Kita diminta untuk bersikap rendah hati dan menjadi pelayan yang siap menerima siapa saja baik yang kecil , yang terpinggirkan , yang papa, maupun mereka yang dianggap berpengaruh oleh masyarakat. Kita berlomba lomba untuk menjadi pelayan bagi sesama, membantu sesama yang tidak berdaya, menghibur mereka yang putus asa. Kita harus siap menerima mereka yang sangat tidak diperhatikan oleh masyarakatnya. Dengan berbuat demikian , kitalah yang terbesar diantara semua yang ada.

Bagaimana sikap kita terhadap sesama yang menderita, yang tersisihkan, yang dianggap sampah masyarakat?  Apakah kita hanya siap dilayani orang lain? Atau kita hanya siap melayani orang tertentu saja? Atau siap melayani siapa saja yang membutuhkan?

Butir permenungan.

Perikop hari ini tentang perumpamaan benih yang jatuh di berbagai jenis tanah. Namun saya ingin mengajak kita untuk lebih merenungkan tentang buah yang dihasilkan. Dari berbagai hal, buah selalu menceritakan tentang adanya proses yang mendahuluinya.Hampir bisa dikatakan bahwa tidak ada buah yang instan. Semua selalu melalui proses pertumbuhan terlebih dahulu , baru menghasilkan buah. Demikian pula dengan buah rohani dalam hidup kita. Berawal dari benih firman yang jatuh dalam hidup kita. Firman itu tidak akan bertumbuh bila tidak disimpan dalam hati yang baik serta dengan tekun melakukannya. Maka firman Tuhan hari ini jelas berkata bahwa benih yang jatuh ditanah yang baik akan menghasilkan buah dalam ketekunan, sedang ketekunan berceritera tentang sebuah proses, kesetiaan dan daya tahan. Salah satu buah yang dihasilkan adalah karakter. Karena dalam menghasilkan karakter Kristiani ini membutuhkan proses kesetiaan dan daya tahan yang tinggi. Mari kita menghasilkan buah agar Bapa kita dipermuliakan. Apakah kita sudah menghasilkan buah dalam hidup saya?

Doa.

Ya Tuhan yang mahabaik, jadikanlah kami umat-Mu menjadi pelayan-Mu, pelayan sesama dan jauhkanlah dari diri  kami  keinginan untuk dilayani. Amin.

Allah telah memanggil kita lewat Injil, sehingga kita boleh menikmati kemuliaan Yesus Kristus, Tuhan kita.

Oleh : Albertus Joseph Noegroho