Renungan Katolik Minggu 4 November 2018

66 views

Bacaan Liturgi Minggu  4 November 2018

Bacaan Pertama  Ul 6:2-6

Sekali peristiwa Musa berkata kepada bangsanya, “Seumur hidup hendaknya engkau dan anak cucumu takut akan Tuhan, Allahmu, serta berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu, dengarlah, hai orang Israel!

Lakukanlah ketetapan dan perintah itu dengan setia, supaya baiklah keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan Tuhan, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Dengarlah, hai orang Israel:

Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!  Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan segenap kekuatanmu!

Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 18:2-3a.3bc-4.47.51ab

Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan, kekuatanku.

*Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan, kekuatanku!  Ya Tuhan, bukit batuku, kubu pertahanan dan penyelamatku.

*Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku! Terpujilah Tuhan, seruku; maka aku pun selamat dari para musuhku.

*Tuhan itu hidup! Terpujilah Gunung Batuku, dan mulialah Allah Penyelamatku,Tuhan mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya;  Ia menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya.

Bacaan Kedua Ibr 7:23-28

Saudara-saudara, dalam jumlah yang besar kaum Lewi telah menjadi imam, karena mereka dicegah oleh maut untuk tetap menjabat imam.

Tetapi Yesus tetap selama-lamanya; maka imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain.  Karena itu Yesus sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang demi Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup lestari untuk menjadi Pengantara mereka.

Imam Agung seperti inilah yang kita perlukan; yaitu saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang telah terpisah dari orang-orang berdosa, dan ditinggikan mengatasi segala langit; yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan kurban

untuk dosanya sendiri, dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya.

Hal itu sudah dilakukan Yesus satu kali untuk selama-lamanya,

yakni ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban.

Hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi imam agung. Tetapi sesudah hukum Taurat itu, diucapkanlah sumpah, yang menetapkan Anak yang sudah sempurna sampai selama-lamanya menjadi Imam Agung.

Demikianlah sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil  Yoh 14:23

Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku.

Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya.

Bacaan Injil  Mrk 12:28b-34

Pada suatu hari datanglah seorang ahli Taurat kepada Yesus dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”   Yesus menjawab, “Perintah yang paling utama ialah: Dengarlah, hai orang Israel,

Tuhan Allah kita itu Tuhan yang esa!   Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu.  Dan perintah yang kedua ialah:

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama dari pada kedua perintah ini.”

Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Guru, tepat sekali apa yang Kaukatakan, bahwa Allah itu esa, dan tidak ada Allah lain kecuali Dia.

Memang mengasihi Dia dengan segenap hati, dengan segenap pengertian, dan dengan segenap kekuatan, serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakar dan persembahan.”  Yesus melihat betapa bijaksana jawab orang itu. Maka Ia berkata kepadanya,   “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Dan tak seorang pun masih berani menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.

Cinta tidak mengenal sebagian, tetapi melibatkan seluruh diri pribadi . Seorang anak sedang asyik bermain bola ditengah lapangan. Ia tidak terusik panasnya terik  matahari. Lupa makan dan minum. Ia seakan menjadi satu dengan bola itu. Hal yang sama berlaku untuk orang yang mencintai apa yang dikerjakannya: Pelukis yang sedang menggambar pemandangan seakan bersatu dengan alam dihadapannya, petani yang tidak mengenal lelah mengerjakan ladang, perawat yang sedang sepenuh hati melayani pasien, seorang pekerja sosial yang tekun melayani orang miskin, mereka ini mencintai pekerjaannya dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan tenaganya.

Yesus mengajarkan kita bahwa Tuhan melebihi segala galanya. Maka mencintai Tuhan harus dengan seluruh diri kita. Artinya kita harus memuji Tuhan juga kalau kita sedang bekerja, kita harus berdoa kepada-Nya dalam setiap kesempatan, kita membaca Sabdanya seperti kalau kita membaca surat kabar, mendengarkan Sabda-Nya seperti kita selalu mendengar radio atau televisi. Dan dengan mencintai Tuhan dengan seluruh diri kita, mengalirlah cinta kepada sesama seperti kita mencintai diri sendiri. Artinya kita akan memperhatikan  kepentingan orang lain, ikut merasakan luka hati sesama dan coba mengerti impian mereka.

Butir permenungan.

Yesus memadukan kedalam seluruh diri-Nya kedua cinta itu, dan Ia memerintahkan  kepada murid-Nya untuk melaksanakan yang sama. Kalau kita mencintai Tuhan dengan seluruh diri kita dan sekaligus  mencintai sesama seperti kita mencintai diri kita sendiri maka Kerajaan Allah sungguh ada ditengah kita.

Doa.

Ya Tuhan yang mahabaik, mampukanlah kami umat-Mu untuk mencintai-Mu dengan   segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu dan mencintai sesama seperti kita mencintai diri kita sendiri. Amin.

Jika seorang mengasihi Aku,  ia akan menuruti firman-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya.

Oleh : Albertus Joseph Noegroho