Renungan Katolik Rabu 12 September 2018

95 views

Bacaan Liturgi Rabu  12 September 2018

Bacaan Pertama 1Kor 7:25-31
Saudara-saudara, mengenai para gadis aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercaya berkat rahmat yang telah kuterima dari Tuhan. Aku berpendapat bahwa mengingat zaman darurat sekarang ini baiklah orang tetap dalam keadaannya. Adakah engkau terikat pada seorang wanita? Janganlah mengusahakan perceraian! Adakah engkau tidak terikat pada seorang wanita? Janganlah mencari seorang. Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kalian dari kesusahan itu. Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan: “Waktunya singkat!
Sebab itu dalam waktu yang masih sisa ini: mereka yang beristeri hendaknya berlaku seolah-olah tidak beristeri; dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli. Pendeknya
orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak empergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 45:11-12.14-17
Dengarlah, hai puteri, lihatlah dan sendengkanlah telingamu.
*Dengarlah, hai puteri, lihatlah dan sendengkanlah telingamu,  lupakanlah bangsamu dan seisi rumah ayahmu! Biarlah raja menjadi gairah karena keelokanmu, sebab dialah tuanmu! Sujudlah kepadanya!
*Keindahan belaka puteri raja itu, pakaiannya bersulamkan emas.
Dengan pakaian bersulam berwarna-warni ia dibawa kepada raja;
anak-anak dara mengikutinya, yakni teman-temannya, yang didatangkan untuk dia.
*Dengan sukacita dan sorak-sorai mereka dibawa, mereka masuk ke dalam istana raja. Para leluhurmu akan diganti oleh anak-anakmu nanti;
mereka akan kauangkat menjadi pembesar di seluruh bumi.

Bait Pengantar Injil  Luk 6:23ab
Bersukacitalah dan bergembiralah, karena besarlah upahmu di surga.

Bacaan Injil Luk 6:20-26
Pada waktu itu, Yesus memandang murid-murid-Nya, lalu berkata,
“Berbahagialah, hai kalian yang miskin, karena kalianlah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kalian yang kini kelaparan, karena kalian akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kalian yang kini menangis, karena kalian akan tertawa. Berbahagialah, bila demi Anak Manusia kalian dibenci, dikucilkan, dan dicela serta ditolak.  Bersukacitalah dan bergembiralah pada waktu itu karena secara itu pula nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kalian, orang kaya, karena dalam kekayaanmu kalian telah memperoleh hiburan.
Celakalah kalian, yang kini kenyang, karena kalian akan lapar. Celakalah kalian, yang kini tertawa, karena kalian akan berdukacita dan menangis. Celakalah kalian, jika semua orang memuji kalian; karena secara itu pula nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”
Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.

Sabda bahagia dan peringatan akan celaka menjadi tawaran bagi kehidupan kita pada hari ini. Apa yang sudah menjadi kemajuan dalam pengolahan hidup rohani  harian kita selama Bulan Kitab  Suci ini?  Ungkapan dan undangan bahagia sekaligus peringatan akan celaka manakala kita tidak hidup sebagaimana dikehendaki  Yesus Sang Junjungan , menjadi deret peringatan dan pernyataan penuntun bagi hidup harian . Apa yang telah kita capai sebagai sebuah kemajuan rohani?  Santo Paulus memberi  makna untuk kemajuan rohani kita melalui pengedalian diri serta sikap yang selalu berbahagia .  Hidup didunia ini tidk lama lagi dan bukan hal yang kekal. Bagaimana kita akan atau telah mewujudkan kebahagiaan ? Apa yang menjadi ukuran kebahagiaan?

Santo Paulus mengundang kita untuk tidak menjadi marah dan selalu bergembira berada dalam posisi hidup kita masing masing dan mengarahkan hidup kita pada yang sejati , bukan yang sementara. Bagaimana caranya?  Kita menikmati pengalaman hidup harian dengan bekerja , bertetangga, dan melaksanakan  tugas hidup harian. Saya kagum dengan umat yang dengan pelbagai cara mengungkapkan ketekunan dalam mewujudkan iman kepercayaan Katolik, selalu mengajak anak anak aktif dalam berbagai kegiatan Gereja, dan juga sebagai orang tua aktif dalam kegiatan kampung. Apabila ada permasalahan yang terjadi dikampung , beberapa umat Katolik yang sudah tua dan atau dituakan dikampung, dimintai tanggapan dalam memcari jalan keluar. Sanak saudara yang aktif dalam kepengurusan Dewan Paroki  menyadari bahwa keterlibatan dalam Dewan Paroki  tidak cukup kalau hanya sejauh punya waktu sisa setelah kerja kantoran.  Dengan pelbagai cara , mereka menyatakan bahwa keterlibatan dalam kepengurusan Dewan merupakan komitmen hati dan budi , bahkan juga merelakan  kenyamanan keluarga ketika harus rapat rutin diparoki atau untuk menghadiri berbagai  undangan keterlibatan di tingkat kevikepan , bahkan Keuskupan.

Butir permenungan.

Hidup sebagai orang Kristiani adalah kehidupan sebagai manusia baru. Kekhasan manusia itu ialah selalu berfikir  dan bertindak menurut ukuran Tuhan  Yesus Kristus. Sabda bahagia dan sabda celaka pada Injil Lukas hari ini menjadi ukurannya.  Yang disebut  bahagia ialah orang yang hidupnya selalu untuk orang lain, berkorban, bermati raga, rela menanggung penderitaan karena menjadi murid Kristus. Sedangkan yang celaka, ialah orang yang tahunya  mencari enaknya sendiri , mau maunya sendiri, memikirkan kepentingannya sendiri. Bukankah mengumpat,  marah, memfitnah dsb itu merupakan ekspresi dari orang yang mencari enaknya dan mau maunya sendiri.

Doa.

Allah Bapa Mahasetia ,kami bersyukur atas janji-Mu dan pelaksanaannya dalam diri Yesus , saudara se-Bapa kami. Semoga kami dapat sembuh dari dosa dosa dan bersedia  tolong menolong dengan sesama.  Amin.

Bersukacitalah dan bergembiralah, karena besarlah upahmu di surga.

Oleh : Albertus Joseph Noegroho