Renungan Katolik Rabu 14 November 2018

47 views

Renungan Katolik Rabu 14 November 2018

Bacaan Liturgi Rabu  14 November 2018

Bacaan Pertama  Tit 3:1-7

Saudara terkasih, Ingatkanlah semua orang agar tunduk pada pemerintah dan para penguasa. Hendaklah mereka taat dan siap sedia melakukan setiap pekerjaan yang baik. Janganlah mereka memfitnah atau bertengkar. Hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut  terhadap semua orang. Sebab dahulu kita juga hidup dalam kejahilan:  tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci. Tetapi ketika telah nyatalah kerahiman dan kasih Allah serta Juruselamat kita, kepada manusia maka kita diselamatkan oleh-Nya.

Hal itu terjadi  bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan,

melainkan karena rahmat-Nya  berkat permandian kelahiran kembali

dan berkat pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita  lantaran Yesus Kristus, Juruselamat kita.

Dengan demikian  kita sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal sesuai dengan pengharapan kita.

Demikanlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 23:1-6

Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan.

*Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan. Ia membaringkan daku di padang rumput yang hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang, dan menyegarkan jiwaku.

*Ia menuntun aku di jalan yang lurus demi nama-Nya yang kudus.

Sekalipun berjalan dalam lembah yang kelam aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku. Tongkat gembalaan-Mu, itulah yang menghibur aku.

*Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan segala lawanku.

Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak, pialaku penuh berlimpah.

*Kerelaan dan kemurahan-Mu mengiringi aku seumur hidupku. Aku akan diam di dalam rumah Tuhan sepanjang masa.

Bait Pengantar Injil  1Tes 5:18

Hendaklah kalian mengucap syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah bagi kalian.

Bacaan Injil  Luk 17:11-19

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus menyusur perkotaan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa  datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak,   “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”  Yesus lalu memandang mereka dan berkata,   “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam.”

Dan sementara dalam perjalanan mereka menjadi tahir. Seorang di antara mereka, ketika melihat bahwa dirinya telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur didepan kaki Yesus  dan mengucap syukur kepada-Nya.  Orang itu seorang Samaria. Lalu Yesus berkata,   “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir?  Di manakah yang sembilan orang tadi?

Tidak adakah di antara mereka  yang kembali untuk memuliakan Allah

selain orang asing ini?”  Lalu Ia berkata kepada orang itu,

“Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan dikau.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan

Orang tua berkali kali mengajari anaknya yang masih kecil untuk mengatakan “terima kasih”  saat menerima sesuatu, Ketika sang anak menerima roti dari ditangan dan diam saja, orang tua akan berkata , “ Ayo, bilang apa?”  Lalu anak kecil itu mengatakan “ Terima kasih”

Kalau sejak kecil kita sudah kita ajari  ber terima kasih, mengapa sekarang untuk mengucapkan kata “terima kasih” saja sulit sekali. Sepuluh orang sakit kusta dalam Injil hari ini menjadi salah satu contoh, betapa sulitnya orang bersyukur dan ber terima kash. Dari sepuluh itu hanya satu yang kembali dan ber terima kasih . Satu orang itu saja adalah orang Samaria , artinya orang yang disebut kafir, tidak kenal Tuhan. Mungkin juga tidak” ber sekolah”  , tidak terdidik, kendati begitu ia justru tahu terima kasih.

Satu orang Samaria yang tahu terima kasih itu menjadi sindiran bagi kita semua. Kita bukan orang kafir, kita orang beriman. Namun , mudahkah mulut kita mengucapkan terima kasih? Bukankah lebih mudah mengucapkan umpatan umpatan atau permohonan – permohonan , yang setelah terkabul juga lupa ber terima kasih? Sikap hidup atau perilaku itu memang harus dilatih,  dibiasakan, dan dipraktekkan, tidak hanya cukup tahu. Bila hanya berhenti pada  “tahu” , ya akan berhenti di otak saja. Bibir dan mulut kita menjadi sulit mengucapkannya. Mari kita cari untuk hari ini , kepada siapa kita sebaiknya ber terima kasih.

Butir butir permenungan

Yesus datang kedunia untuk membebaskan, membantu dan membahagiakan manusia, Karena itu jika ada yang datang kepada-Nya, Yesus hanya memimta satu syarat saja atau tanpa banyak bertanya Yesus mengabulkan permintaan orang itu. Syarat tersebut diberikan dengan sangat mudah, karena ada sesuatu yang lebih penting dari itu, Yesus  menghendaki agar kita  percaya  kepada-Nya. Sikap beriman  kepada Yesus membawa dampak positif yang besar bagi seseorang dan bagi kehidupan bersama.  Karena , itu berarti kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan menerima seluruh ajarannya.

Beriman sejati menyingkirkan dalam hati kita kelas kelas kehidupan . Seberapa besar keterbukaan hati kita kepada orang orang yang dianggap bernasib sial. Kita belajar pada Yesus yang terbuka merangkul yang terbuang dan hina.  Tuluskah niat kita untuk sesama yang patut diperhatikan?  Cinta sejati berasal dari niat yang tulus. Santo Paulus memberi nasehat kepada Titus rekan kerja pewartaan agar mengingatkan kepada umat agar selalu mengutamakan perbuatan baik. Rahmat Allah sangat berperan dalam segala perbuatan baik itu. Muara dari segala perbuatan baik adalah kehidupan kekal yang dibawa oleh Yesus Kristus Putera Allah. Kita semua sebagai umat beriman memiliki pengharapan yang sama yaitu hidup abadi di Surga.

Doa

Ya Allah, ajarilah kami untuk mengungkapkan rasa syukur kami dengan berbagi kasih kepada sesama. Amin.

Hendaklah kalian mengucap syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah bagi kalian.

Oleh : Albertus Joseph Noegroho