Renungan Katolik Rabu 15 Agustus 2018

97 views

Bacaan Liturgi Rabu 15 Agustus 2018

Bacaan Pertama Yeh 9:1-7;10:18-22

Aku mendengar Tuhan berseru dengan suara nyaring, “Majulah ke mari, hai para penghukum Yerusalem! Bawalah masing-masing alat pemusnah. “Dan lihat, enam orang pria datang dari jurusan pintu gerbang Atas, yang menghadap ke utara, masing-masing dengan alat pemukul di tangannya. Seorang di antara mereka berpakaian lenan, dan di sisinya terdapat suatu alat tulis. Mereka ini masuk dan berdiri di samping mezbah tembaga. Pada saat itu kemuliaan Allah Israel sudah terangkat dari atas kerub, tempatnya semula, ke atas ambang pintu Bait Suci. Allah memanggil orang yang berpakaian lenan, yang mempunyai alat tulis di sisinya. Lalu Tuhan bersabda kepadanya, “Berjalanlah dari tengah-tengah kota Yerusalem dan tulislah huruf T pada dahi orang-orang yang berkeluh kesah karena segala perbuatan keji yang terjadi di sana.” Dan kepada yang lain-lain aku mendengar Tuhan berkata, “Ikutilah dia dari belakang melintasi kota itu, dan pukullah sampai mati [semua orang yang tidak ditandai T] Janganlah merasa sayang dan jangan kenal belas kasihan! Orang-orang tua, teruna dan dara-dara,
anak-anak kecil dan para wanita, bunuh dan musnahkanlah! Tetapi semua orang yang ditandai huruf T, jangan kalian sentuh! Dan mulailah dari tempat kudus-Ku.” Maka mulailah mereka dengan tua-tua yang berada di depan Bait Suci. Kemudian Ia bersabda kepada mereka, “Najiskanlah Bait Suci itu dan penuhilah pelatarannya dengan orang-orang yang terbunuh. Ayo, pergilah!”

Mereka pergi ke luar dan memukuli orang-orang sampai mati di dalam kota. Lalu kemuliaan Tuhan pergi dari ambang pintu Bait Suci dan hinggap di atas kerub-kerub. Kerub-kerub itu mengangkat sayap mereka, dan waktu mereka pergi, aku melihat mereka naik dari tanah dan roda-rodanya bersama dengan mereka.

Lalu mereka berhenti dekat pintu gerbang rumah Tuhan di sebelah timur, sedang kemuliaan Allah Israel berada di atas mereka. Itulah makhluk-makhluk hidup yang dahulu kulihat di bawah Allah Israel di tepi sungai Kebar. Dan aku mengerti, bahwa mereka adalah kerub-kerub.

Masing-masing mempunyai empat muka dan empat sayap, dan di bawah sayap mereka ada bagian yang berbentuk tangan manusia. Kelihatannya muka mereka serupa dengan muka makhluk-makhluk yang kulihat di tepi sungai Kebar. Masing-masing berjalan lurus ke depan.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Mzm 113:1-2.3-4.5-6

Kemuliaan Tuhan mengatasi langit.
*Pujilah, hai hamba-hamba Tuhan, pujilah nama Tuhan!
Kiranya nama Tuhan dimasyhurkan, sekarang dan selama-lamanya.
*Dari terbitnya matahari sampai pada terbenamnya terpujilah nama Tuhan. Tuhan tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit.
*Siapakah seperti Tuhan, Allah kita, yang diam di tempat tinggi,
yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?

Bait Pengantar Injil 2Kor 5:19

Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam diri Yesus Kristus
dan mempercayakan warta perdamaian kepada kita.

Bacaan Injil Mat 18:15-20

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.

Jika ia tidak mendengarkan dikau, bawalah seorang atau dua orang lain, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.

Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah
atau seorang pemungut cukai.

Aku berkata kepadamu: Sungguh, apa yang kalian ikat di dunia ini akan terikat di surga, dan apa yang kalian lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga. Dan lagi Aku berkata kepadamu, Jika dua orang di antaramu di dunia ini sepakat meminta apa pun, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku hadir di tengah-tengah mereka.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan
Gereja mengajak umat Katolik untuk membaca dan mengenal kehendak Allah yang tertulis dalam bahasa manusia. Banyak orang Katolik kurang berminat membaca Kitab Suci karena katanya sulit dimengerti. Seorang bijaksana memberikan cerita yang bagus.

Membaca Kitab Suci seumpama makan ikan. Ketika makan ikan kita menyisihkan tulang tulangnya dan memakan dagingnya yang empuk. Tidak seorangpun makan tulang karena berbahaya bagi tenggorokan. Demikianlah , pada saat membaca Kitab Suci orang terlebih dulu menyantap bagian yang enak, gampang dimengerti dan menyisihkan bagian yang sulit .

Artinya membiarkan tugas Roh Kudus mengunyah bagi kita bagian yang tidak kita mengerti. Sabda Allah menunjukkan nilai nilai kebajikan yang sejatinya menjadi pedoman hidup kekristenan. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk membuka diri kepada Roh Allah yang bekerja dalam diri sesama , yang menyapa kita berupa nasihat.

Perlu kerendahan hati untuk mendengarkan dan membuka diri terhadap apa yang menjadi kehendak-Nya. Dia menghendaki supaya kita semakin tekun mengusahakan kebajikan dan tidak mengikat diri terhadap kepentingan dunia.

Semakin kita rajin membaca Kitab Suci , kita semakin mengenal kehendak-Nya. Pikiran kita dibersihkan dari hal hal kotor yang merusak sendi kehidupan Kristiani kita. Orang mengatakan “kamu adalah apa yang kau baca” . Artinya , bacaan sangat mempengaruhi pola pikir dan peri laku seseorang .

Alangkah baiknya jika Kitab Suci menjadi menu utama harian kita seperti kita membuka email , SMS, WA, ataupun chating. Dengan demikian kita akan memiliki pikiran dan jiwa yang murni.

Butir permenungan

Apabila saudaramu berbuat dosa tegorlah dia dibawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasehatmu, engkau telah mendapatnya kembali. Mat 18:15 Jika seorang berbuat salah kepada kita , ada tiga hal yang dapat kita lakukan
Mendiamkan saja (karena kita tidak peduli)
Memarahinya (karena kita benci)
Menasehatinya (karena kita mengasihi)

Seringkali, orang tua memarahi anak bukan karena mendidik namun karena benci melihat perbuatannya. Atau alasan menegur bawahannya bukan agar bawahannya dapat memperbaiki kesalahan , tetapi karena ingin melampiaskan kekecewaannya.

Jika kita menegur seseorang dengan dilandasi sikap benci, kita tidak akan pernah dapat mengubah orang itu. Yesus mengajarkan kita supaya menegur orang yang berbuat salah dibawah empat mata, artinya menasehati dengan penuh kasih.

Saya bergabung dalam sel disatu komunitas rohani Katolik. Suatu hari sel kami menerima dua orang peminat baru. Mereka selalu datang dan pulang bersama . Mulanya saya pikir mereka pasangan suami istri, tapi ternyata bukan. Ketika sel kami berjalan jalan keluar kota , saya mengajak sang pria untuk mengobrol berdua.

Ternyata hubungan mereka sudah terlalu jauh , padahal masing masing sudah berkeluarga . Saya menyarankan agar ia berinisiatif untuk menjauhi si wanita. Mula mula ia terlihat menerima nasehat saya dengan hati terbuka, Namun kenyataannya ia mundur dari sel , begitu juga si wanita.

Hal ini memang sangat disayangkan . Namun satu hal yang tidak pernah saya sesali adalah saya menegurnya dengan kasih. Saya berharap suatu hari kelak mereka dapat bergabung kembali dalam komunitas rohani. Menasehati adalah menganggap diri sejajar dengan yang dinasehati . Beranikah saya menyatakan kesalahan yang dilakukan orang lain dengan sikap kasih?

Doa.
Ya Allah, Engkau berbicara dengan bahasa manusia supaya kami mengerti apa yang menjadi kehendak-Mu. Bukalah pikiran dan hati kami dan biarlah sabda-Mu menjadi pedoman hidup kami menuju keselamatan abadi. Amin.

Jika dua orang di antaramu di dunia ini sepakat meminta apa pun, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku hadir di tengah-tengah mereka

Oleh : Albertus Joseph Noegroho