Renungan Katolik Rabu 17 April 2019

87 views

Bacaan Liturgi Rabu  17 April 2019

Bacaan Pertama  Yes 50:4-9a

Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.  Tuhan Allah telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.

Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku,

dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. Tetapi Tuhan Allah menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Maka aku meneguhkan hatiku seperti teguhnya gunung batu, karena aku tahu bahwa aku tidak akan mendapat malu.  Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku berperkara? Biarlah ia mendekat kepadaku!  Sungguh, Tuhan Allah menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah?

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 69:8-10.21bcd-22.31.33-34

Demi kasih setia-Mu yang besar, ya Tuhan,  jawablah aku pada waktu Engkau berkenan.

*Karena Engkaulah, ya Tuhan, aku menanggung cela, karena Engkau lah noda meliputi mukaku.  Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, menjadi orang asing bagi anak-anak ibuku;  sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku,  dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku.

*Cela itu telah mematahkan hatiku, dan aku putus asa; aku menantikan belas kasihan, tetapi sia-sia, dan waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.

*Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan lagu syukur;  Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; biarlah hatimu hidup kembali, hai kamu yang mencari Allah!  Sebab Tuhan mendengarkan orang-orang miskin,

dan tidak memandang hina orang-orang-Nya yang ada dalam tahanan.

Bacaan Injil  Mat 26:14-25

Sekali peristiwa pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot,  kepada imam-imam kepala. Ia berkata, “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku,  supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?”  Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.

Dan mulai saat itu Yudas mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.  Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi  datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata,  “Dimana  Engkau kehendaki  kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?”  Jawab Yesus, “Pergilah ke kota, kepada si Anu, dan katakan kepadanya: Beginilah pesan Guru:  Waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah  bersama-sama dengan murid-murid-Ku.”  Lalu murid-murid melakukan  seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka, dan mempersiapkan Paskah.  Setelah hari malam,   Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu.  Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata,   “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.”  Dan dengan hati yang sangat sedih  berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya,  “Bukan aku, ya Tuhan?” Yesus menjawab,

“Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya kedalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku.  Anak Manusia memang akan pergi   sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia,

tetapi celakalah orang  yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan!

Adalah lebih baik bagi orang itu  sekiranya ia tidak dilahirkan.”  Yudas, yang hendak menyerahkan Yesus itu menyahut,  “Bukan aku, ya Rabi?”

Kata Yesus kepadanya, “Engkau telah mengatakannya.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.

Hidup perkawinan di zaman sekarang tampaknya makin sulit, Hal ini ditandai oleh makin banyaknya perceraian. Saya mengenal seseorang yang telah melewati masa pacaran selama 9 tahun dan telah menjalani masa perkawinan selama 15 tahun. Namun, akhirnya mereka berpisah. Lamanya masa perkenalan sama sekali tidak menjamin perkawinan itu akan langgeng. Begitu pula lamanya hidup bersama, tidak dengan sendirinya membuat perkawinan itu tetap utuh. Selalu saja ada alasan untuk memutuskan berpisah, juga alasan untuk membenarkan diri sendiri.  Bila salah seorang mengkhianati janji perkawinan, misalnya hanya mengutamakan dan mementingkan kebahagiaan sendiri dengan mengabaikan kebahagiaan pasangannya, maka sudah dapat dipastikan ditebak bagaimana warna hidup pernikahan pasangan ini. Diperlukan pertobatan serius bagi pasangan yang berorientasi pada kebahagiaan atau kesenangan diri sendiri.

Injil hari ini mengisahkan tentang pengkhianatan Yudas terhadap Yesus, gurunya. Selama 3 tahun Yudas selalu mengikuti Yesus dari dekat, tetapi dia tidak dapat mengenali siapa Yesus itu sebenarnya. Yudas merasa kecewa, karena Yesus yang dia harapkan sebagai seorang pemimpin yang akan membebaskan bangsanya dari penjajahan Romawi, ternyata sama sekali tidak menunjukkan tanda tanda sebagai seorang pemimpin yang dibayangkannya. Yudas lebih tergiur akan imbalan yang akan diperolehnya kalau dia dapat menyerahkan Yesus kepada imam imam kepala, “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu? “ (Mat 26:15).  Mata hati Yudas telah tertutup oleh ketamakan akan uang, Yudas lebih mementingkan diri sendiri tanpa memperdulikan Yesus yang benar benar mencintainya. Betapa sedih hati Yesus , ketika tahu bahwa Yudas akan menyerahkan diri-Nya. Namun, tak kalah sedih hati para murid, ketika mengetahui guru mereka akan diserahkan oleh salah seorang diantara mereka. Gemparlah mereka , sehingga berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya , “Bukan aku, ya Tuhan?”

Bagaimana dengan kita sendiri? Pernahkah kita mengkhianati Yesus dalam bentuk yang berbeda? Mari kita bertobat dari jalan yang tidak berkenan dihadapan Tuhan.

Butir permenungan.

Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu.  Yes  50:4  Ada  seorang teman yang semangatnya luar biasa untuk mengajak orang lain mengikuti kegiatan rohani. Layaknya seorang marketing . Ketika menerima penolakan, ia tidak patah semangat. Ia akan kembali berusaha, padahal ia seorang istri yang masih harus mengurus suami ,anak, serta usahanya.  Tetapi sekalipun sibuk, justru di sela sela kesibukannya , ia masih bisa mengalak orang untuk datang kepada Yesus. Lain lagi dengan ibu saya . Ibu mempunyai  waktu khusus untuk berkunjung kerumah orang orang yang tidak pernah datang ke gereja  . Bertahun tahun ia melakukan hal ini. Sekalipun orang yang dikunjungi tidak langsung ke gereja ,tetapi ibuku tidak patah semangat. Saya bukan tipe orang yang mau peduli dengan hal hal tersebut. Namun saya sadar ketika ibu saya mengatakan hal itu bukan hanya tugas pastor, tetapi tugas kita bersama. Mengajak seseorang datang kepada Yesus bukan hal yang mudah. Namun kita juga tidak boleh putus asa sekalipun menerima penolakan dari mereka. Dengan kemajuan zaman minimal kita bisa mengajak mereka lewat sosial media.  Teman , bacaan hari ini menceritakan tentang ketaatan Nabi Yesaya . Marilah kita meneladaninya supaya dengan perkataan dan perbuatan kita , kita dapat menjadi duta Tuhan.Terutama dapat memberikan semangat baru bagi mereka yang letih lesu Tunggu apa lagi ? Marilah kia memulainya dari sekarang . Percayalah bersama Yesus kita pasti bisa. Sudahkah saya menjadi dutanya Kerajaan Allah ?

Doa.

Ya Bapa   yang mahabaik, tolonglah kami umat-Mu, untuk selalu pasrah pada kehendak Allah Bapa dan menyerahkan semua kesedihan dan masalah kami kepada-Mu. Amin.

Demi kasih setia-Mu yang besar, ya Tuhan, jawablah aku pada waktu Engkau berkenan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *