Renungan Katolik Sabtu 13 Oktober 2018

73 views

Bacaan Liturgi Sabtu 13 Oktober 2018

Bacaan Pertama  Gal 3:22-29

Saudara-saudara, menurut Kitab Suci segala sesuatu yang terkurung di bawah kuasa dosa, supaya berkat iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya.  Sebelum iman itu datang,

kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.

Sekarang iman itu telah datang. Karena itu kita tidak lagi berada di bawah pengawasan penuntun.  Sebab kalian adalah anak-anak Allah

karena iman di dalam Yesus Kristus. Sebab kalian semua yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.  Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada pria atau wanita, karena kalian semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.  Jadi kalau kalian milik Kristus, maka kalian juga keturunan Abraham, dan berhak menerima janji Allah.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur   Mzm 105:2-7

Tuhan selalu ingat akan perjanjian-Nya.

*Bernyanyilah bagi Tuhan, bermazmurlah bagi-Nya,percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!  Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersuka hati orang-orang yang mencari Tuhan.

*Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah selalu wajah-Nya!  Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya,  mujizat dan ketetapan-ketetapan yang diucapkan-Nya,

*Hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, pilihan-Nya!  Dialah Tuhan, Allah kita, ketetapan-Nya berlaku di seluruh bumi.

Bait Pengantar Injil  Luk 11:28

Berbahagialah yang mendengarkan sabda Tuhan dan memeliharanya.

Bacaan Injil   Luk 11:27-28

Pada suatu hari, Ketika Yesus sedang berbicara kepada orang banyak,

berserulah seorang wanita dari antara orang banyak itu, dan berkata kepada Yesus,  “Berbahagialah ibu yang telah mengandung dan menyusui Engkau!”  Tetapi Yesus bersabda, “Yang berbahagia ialah  mereka yang mendengarkan sabda Allah dan memeliharanya.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan

Ada dua orang saling bersahabat , pada awalnya keduanya adalah ateis. Mereka tidak percaya kepada Tuhan. Dalam perjalanan waktu, salah seorang dari mereka bertobat menjadi Katolik. Ia menemukan kebahagiaan dalam mengikuti Yesus .

Suatu hari kedua orang sahabat itu berjumpa. Mereka terlibat dalam percakapan hangat. Sang ateis bertanya, “Jadi kau sudah bertobat menjadi pengikut Kristus? ”  “ Ya ” jawab si Katolik. “ Kalau begitu kau tahu banyak tentang Yesus, Misalnya, dimana ia dilahirkan? “ pancing si ateis. “Aku tidak tahu “ jawabnya santai. Percakapan itu terus berlanjut , “ Berapa usia – Nya waktu Ia meninggal? “  “ Aku tidak tahu “ jawab si Katolik.  “ Berapa kali Ia berkotbah ? “ desak si ateis. “ Aku tetap tidak tahu , kawan “ jawab si  Katolik dengan gemas. Teman ateis mengkritik , “Lho , sebagai seorang yang telah bertobat dan mengikuti Yesus , rupanya kau mengetahui sedikit sekali tentang – Nya “ Akhirnya teman Katolik menjawab dengan bijak, “ Kau memang benar, Aku malu karena begitu sedikit pengetahuanku tentang Dia. Tetapi aku tahu hal ini : Tiga tahun yang lampau aku seorang pemabuk, hutangku banyak, keluargaku berantakan, anak istriku selalu takut, aku jarang pulang kerumah. Sekarang aku tidak minum lagi, Hutang hutangku sudah lunas, Keluarga kami bahagia. Anak anak senang menantikan aku pulang kerumah setiap sore. Itu semua karya Kristus bagiku. Sebanyak inilah yang aku ketahui tentang Kristus”  Yesus datang ke dunia untuk membawa perubahan besar, yaitu agar manusia bertobat dan kembali ke pangkuan kasih – Nya . Jawaban manusia akan menentukan kebahagiaan hidupnya. “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan memeliharanya.” ( ay 28 ).  Kerap kali orang berpikir bahwa kebahagiaan itu karena faktor luar, seperti  : kecukupan sandang pangan , kesehatan , perumahan dan pendidikan. Ada lagi yang menambahkan : mempunyai kendaraan , roda dua atau empat , Apakah kalau semua itu terpenuhi dengan sendirinya kita bahagia ? Jangan salah.  Kebahagiaan dialami bukan karena faktor luar. Kebahagiaan akan kita dapatkan , kita rasakan bila diri kita sendiri bisa menerima yang kita alami saat ini . Kalau kita mengukur kebahagiaan dari materi, kita tidak akan pernah bahagia,  Apa ukuran cukup itu?  Kita diberi ini itu dan menurut perhitungan sebelumnya sudah cukup, tetapi sekarang tidak merasa cukup lagi. Orang akan semakin membutuhkan yang lain , lagi , lagi , dan lagi. Ini menandakan bahwa arah manusia adalah menuju yang tidak terbatas yaitu  Allah  Sang Pencipta dan Penyelenggaraan hidup ini.  Kalau kebahagiaan itu bukan dari luar , semestinya harus dicari di “ dalam “ diri kita. Di hati kita , mendengarkan suara hati sendiri tentang kebahagiaan . Perasaan perasaan yang muncul  dan berkecamuk dalam diri kita , seperti iri hati , marah , ingin ini itu , dan ingin menang , bila tidak kita arahkan , akan menguasai hidup kita dan membuat kita tidak bahagia  Manusia  berasal dan akan kembali  kepada Sang Pencipta. Tidak ada yang akan hidup di dunia ini selama lamanya . Selama kita hidup di dunia  ini , hendaknya senantiasa menyediakan waktu untuk mendengarkan Allah yang berbicara lewat hati kita, serta berani mencoba mewujudkannya.. Dengan demikian kita akan sedikit demi sedikit merasakan kedamaian dan kebahagiaan . Maka Sabda Tuhan  hari ini  hidup dalam diri kita

Butir permenungan.

Mendengarkan dan memelihara Sabda Tuhan adalah sumber kebahagiaan sejati. Memang tidak mudah bagi kita untuk dapat mendengar  Sabda Tuhan secara benar, Yang sering terdengar bahwa saya mendengar “firman” nafsuku sendiri. Untuk dapat mendengar Sabda Tuhan secara benar , kita dituntut untuk mau membaca , menimbang nimbang , mencermati suara hati sendiri dan pendapat orang lain sehingga kita bisa sampai kepada suatu kemantapan pengertian,  “Inilah kebenaran Sabda Tuhan”  Memelihara Sabda Tuhan berarti menjadikan Sabda itu nyata dalam hidup. Iman yang benar selalu menunjukkan  keutamaan, baik pada permulaan, pertengahan maupun akhir. Allah selalu dimuliakan dan kita diselamatkan dalam kebahagiaan.

Doa.

Ya Allah Bapa, Engkau mengutus Yesus Putra – Mu sebagai Sabda hidup . Bukalah hati kami yang bebal ini , supaya hati kami senantiasa menerima Sabda – Mu dan menyimpannya dalam hati kami. Amin.

Berbahagialah yang mendengarkan sabda Tuhan dan memeliharanya.

Oleh : Albertus Joseph Noegroho