Renungan Katolik Senin 08 Oktober 2018

73 views

Bacaan Liturgi Senin 8 Oktober 2018

Bacaan Pertama  Gal 1:6-12

Saudara-saudara, aku heran, bahwa kalian begitu cepat berbalik dari Allah, yang telah memanggil kalian oleh kasih karunia Kristus, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil; hanya ada orang yang mengacaukan kalian dan yang bermaksud untuk memutar-balikkan Injil Kristus.Tetapi seandainya kami sendiri ataupun seorang malaikat dari surga mewartakan kepada kalian suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.  Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi, “Jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kalian terima, terkutuklah dia.”Jadi bagaimana sekarang?  Adakah aku mencari kesukaan manusia atau kesukaan Allah?  Adakah aku mencoba berkenan kepada manusia?  Sekiranya aku masih mau mencari perkenaan manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.  Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia.

Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan pula manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh pernyataan Yesus Kristus.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 111:1-2.7-9.10c

Tuhan selalu ingat akan perjanjian-Nya.

*Aku bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaat. Besarlah perbuatan-perbuatan Tuhan, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya.

*Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan,  segala titah-Nya teguh;  Perintah-Nya kokoh lestari untuk selamanya,  dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran.

*Ia memberikan kebebasan kepada umat-Nya, Ia menetapkan perjanjian untuk selama-lamanya; kudus dan dahsyatlah nama-Nya!  Dia akan disanjung sepanjang masa.

Bait Pengantar Injil  Yoh 13:34

Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan; yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu.

Bacaan Injil  Luk 10:25-37

Pada suatu ketika seorang ahli kitab berdiri hendak mencobai Yesus,

“Guru, apakah yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?”  Jawab Yesus kepadanya,   “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat?  Apa yang kaubaca di sana?”  Jawab orang itu,   “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwamu,

dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu.

dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Kata Yesus kepadanya, “Benar jawabmu itu. Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”  Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata lagi,   “Dan siapakah sesamaku manusia?”  Jawab Yesus,

“Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun  yang bukan saja merampoknya habis-habisan,   tetapi juga memukulnya,  dan sesudah itu meninggalkannya setengah mati.  Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu.

Ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.

Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu. Ketika melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.  Lalu datanglah ke tempat itu

seorang Samaria yang sedang dalam perjalanan. Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.  Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya,  sesudah menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri  lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.  Keesokan harinya  ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu,  katanya, ‘Rawatlah dia, dan jika kaubelanjakan lebih dari ini,  aku akan menggantinya waktu aku kembali.’   Menurut pendapatmu siapakah di antara ketiga orang ini, adalah sesama manusia  dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”  Jawab orang itu,   “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.”

Yesus berkata kepadanya,   “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan

Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati merupakan salah satu perumpamaan indah yang hanya terdapat didalam Injil Lukas. Yesus mengisahkan perumpamaan ini di tengah masyarakat Yahudi yang pada waktu itu kebingungan dengan kaburnya definisi “sesama”

Sesama dapat diartikan sebagai saudara sekandung, semarga, sesuku, ataupun sebangsa. Selain itu, orang yang mempunyai relasi baik dengan mereka (meskipun tidak sesuku) dapat juga disebut sebagai sesama. Yesus sendiri mempunyai pengajaran yang jelas bahwa semua orang tanpa kecuali adalah sesama kita. Itu berarti , mereka yang memusuhi kita pun dapat kita sebut  sebagai sesama. Rupanya ajaran Yesus ini masih sulit diterima oleh rekan sebangsanya. Karena itulah,Yesus mengisahkan perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Orang Samaria adalah suku bangsa yang tinggal di Palestina namun dipandang rendah oleh bangsa Yahudi, bahkan dianggap kafir. Alasannya , mereka adalah keturunan Yahudi yang sudah tidak murni lagi karena mengadakan perkawinan dengan bangsa bangsa lain.

“Menurut pendapatmu siapakah di antara ketiga orang ini, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” (ay 36)  Kali ini Yesus yang bertanya . Yesus hendak membongkar pola pikir ahli Taurat. Yesus tidak menjawab pertanyaan, “Siapakah sesamaku?”  Yesus malah balik bertanya , “Bagi siapakah kamu telah menjadi sesama?  Apakah kamu telah menjadi sesama bagi orang orang menderita disekitarmu?” Dan ini masih bisa dilanjutkan, “Ataukah kamu menjadi sesama hanya bagi orang orang sekelompokmu?”   Pertanyaan ahli Taurat ini tidak sulit dijawab. Tetapi, pertanyaan Yesus barangkali akan membawa kita ke sudut dimana kita hanya bisa tertunduk malu karena belum menjadi sesama bagi banyak orang. Kita cenderung memilih milih . Atau kita barangkali lebih terikat pada jadwal dan kesibukan kita. Apapun alasannya, kalau kita mau jujur, masih banyak hal yang kita jadikan alasan untuk tidak menjadi sesama bagi orang orang disekitar kita, khususnya mereka yang menderita. Kita perlu belajar mengubah itu , kalau mau memperoleh hidup yang kekal. Dan ini ditujukan kepada kita.

Butir permenungan.

Injil hari ini sangat menyentuh inti dari kehidupan beriman yaitu  “Iman yang dihidupi dengan perbuatan kasih”  Iman adalah rahmat, supaya rahmat itu tidak sia sia  maka perlu usaha untuk memelihara dan mengembangkannya sehingga berdaya guna  bagi keselamatan sendiri dan orang lain. “ Iman tanpa perbuatan adalah mati”, kata Rasul Jakobus.  Ia menambahkan “Jika ia tahu berbuat baik dan tidak melakukannya maka ia berdosa”

Relasi yang intim dengan Allah harus berbuah kebajikan yang manis terhadap sesamanya.  Doa, Ekaristi, aktivitas rohani harusnya menjadi spirit sekaligus penggerak untuk mewujudkan iman atau menjadi daya dorong seseorang untuk membagikan kasih Allah kepada sesama. Kedekatan dengan Allah justru menambah kekuatan kita untuk mewujudkan kasih, menumbuhkan kepekaan terhadap sesama, dan menimba kebaikan untuk sesama.

Doa.

Allah  Bapa yang Mahabaik, kasih – Mu yang bernyala nyala membangkitkan gairah iman kami umat – Mu. Ajarilah kami umat – Mu untuk mewujudkan kasih yang benar terhadap sesama, bukan dengan kata kata saja melainkan terlebih dengan perbuatan nyata.  Amin.

Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan; yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu.

Oleh : Albertus Joseph Noegroho