Renungan Katolik Senin 17 September 2018

105 views

Bacaan Liturgi Senin 17 September 2018

PF S. Robertus Bellarmino, Uskup dan Pujangga Gereja

Bacaan Pertama  1Kor 11:17-26
Saudara-saudara, dalam hal mengatur yang berikut ini aku tidak dapat memuji kalian. Sebab pertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan, melainkan keburukan. Pertama-tama aku mendengar bahwa
apabila kalian berkumpul sebagai Jemaat, ada perpecahan di antaramu; hal itu sedikit banyak aku percaya. Memang perpecahan harus ada di antara kalian, supaya nyatalah siapa di antara kalian yang tahan uji. Apabila kalian berkumpul bersama-sama, ternyata berkumpulmu itu bukan untuk perjamuan Tuhan. Sebab pada perjamuan itu masing-masing memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk. Apakah kalian tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau kalian mau menghina Jemaat Allah, dan membuat malu orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa? Apakah yang akan kukatakan kepadamu? Memuji kalian? Dalam hal ini, pastilah tidak! Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah kuterima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus pada malam Ia diserahkan, mengambil roti, dan setelah mengucap syukur atasnya Ia memecahkan roti itu seraya bersabda, “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagimu; perbuatlah ini sebagai kenangan akan Daku.”
Demikian pula Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu bersabda,
“Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan dalam darah-Ku.
Setiap kali kalian meminumnya, perbuatlah ini sebagai kenangan akan Daku.” Sebab setiap kali kalian makan roti ini dan minum dari cawan ini, kalian mewartakan wafat Tuhan sampai Ia datang.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 40:7-10.17
Wartakanlah wafat Tuhan, sampai Ia datang.
*Kurban dan persembahan tidak Kauinginkan tetapi Engkau telah membuka telingaku; kurban bakar dan kurban silih tidak Engkau tuntut.
Lalu aku berkata: “Lihatlah Tuhan, akudatang!”
*”Dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku: aku senang melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada di dalam dadaku.”
*Aku mengabarkan keadilan di tengah jemaat yang besar, bibirku tidak kutahan terkatup; Engkau tahu itu, ya Tuhan.
*Biarlah bergembira dan bersukacita semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari pada-Mu
tetap berkata: “Tuhan itu besar!”

Bait Pengantar Injil  Yoh 3:16
Begitu besar kasih Allah kepada dunia, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal. Setiap orang yang percaya akan Dia, memiliki hidup abadi.

Bacaan Injil  Luk 7:1-10
Pada suatu ketika, setelah mengakhiri pengajaran-Nya kepada orang banyak, masuklah Yesus ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba yang amat ia hargai, Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta agar Ia datang dan menyembuhkan hambanya.

Mereka datang kepada Yesus, dan dengan sangat mohon pertolongan-Nya, katanya, “Sudah selayaknya Engkau menolong dia, sebab ia mengasihi bangsa kita, dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.” Maka pergilah Yesus bersama mereka.

Ketika Yesus tidak jauh lagi dari rumahnya, perwira itu menyuruh beberapa sahabatnya untuk mengatakan kepada Yesus, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku merasa tidak layak menerima Tuan dalam rumahku. sebab itu aku juga merasa tidak pantas datang sendiri mendapatkan Tuan. Tetapi katakanlah sepatah kata saja, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku pun seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang, ‘Pergi’ maka ia pergi; atau kepada yang lain, ‘Datanglah!’ maka ia datang; dan jika aku berkata kepada hambaku, ‘Kerjakanlah ini!’ maka ia pun mengerjakannya.”

Mendengar itu, heranlah Yesus akan dia. Sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti-Nya, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu: Di Israel pun iman sebesar itu belum pernah Kujumpai.” Setelah orang-orang suruhan itu kembali ke rumah, mereka mendapati hamba yang sakit itu sudah sehat kembali.
Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan

Peranan, tingkat, kedudukan tinggi bahkan terhormat seseorang dalam masyarakat, demikian pula keadaan hidup yang sederhana, dan perbedaan suku atau bangsa, tidak membedakan tuntunan iman, yang harus dimiliki setiap orang terhadap Allah. Perwira yang disebut dalam Injil adalah orang Romawi. Mereka dianggap kafir oleh orang Jahudi, yang mengenal hukum Musa dan para nabi. Perwira ini sebagai tentara hanya mengenal kuasa dan perintah. Tetapi, ketika hambanya dalam keadaan yang sangat kritis , dan ia tidak mampu menolongnya, ia mendengar dari penduduk Yahudi tentang nabi dari Nasaret yang mempunyai kekuatan Illahi . Ternyata iman siperwira itu kuat dan yakin bahwa kekuasaan Allah dapat menolong dirinya dari ketidak mampuannya sebagai manusia. Meskipun dirinya berkedudukan tinggi dan bukan orang Yahudi , ia memperhatikan keadaan hambanya. Dan ketika tahu bahwa Yesus akan datang untuk menolong hambanya, tampaklah kerendahhatiannya dan berkata bahwa  ia merasa tidak pantas Yesus datang kerumahnya, Yesus yang berkuasa cukup mengucapkan satu kata saja , hambanya akan sembuh. Sama seperti ia sebagai perwira cukup memberi kata komando , bawahannya akan melaksanakan tugasnya.

Butir permenungan.

Yesus memuji iman perwira itu, dan kita tahu  perwira itu bukanlah orang Yahudi , namun besar sekali imannya terhadap Yesus, beberapa kali dalam Injil kita temukan bahwa orang orang bukan Yahudi sungguh percaya kepada Yesus. Misalnya perempuan dari Siro Fenisia (Mrk 7:24-30)  Kepala pasukan yang juga bukan orang Yahudi , ketika menyaksikan wafat Yesus , mengakui “Sungguh , orang ini adalah orang benar” (Luk 23 , 47)

Kita meski bukan orang Yahudi, toh diangkat menjadi anak anak Allah.  Bagaimana sikap dan iman kita kita terhadap Tuhan? Sesaat sebelum menyambut komuni, kita mengucapkan kata kata yang diambil dari ucapan perwira tadi. Entah sudah berapa kalikah kita mengucapkannya. Sungguhkah kita menyadari ketidak layakan kita, namun Allah begitu mencintai kita?

Doa.

Allah Bapa yang maha rahim, berilah kami umat-Mu kesadaran pada Bulan Kitab Suci ini yang merupakan bulan yang indah untuk mengaku dosa dan memulihkan kembali relasi yang rusak dengan sesama, sehingga kami dapat melakukan ajaran Tuhan Yesus , yaitu cinta kasih.  Amin.

Begitu besar kasih Allah kepada dunia, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal. Setiap orang yang percaya akan Dia, memiliki hidup abadi.

Oleh : Albertus Joseph Noegroho