Renungan Katolik Senin 22 Oktober 2018

59 views

Bacaan Liturgi Senin 22 Oktober 2018

Bacaan Pertama  Ef 2:1-10

Saudara-saudara, kalian dahulu sudah mati karena pelanggaran dan dosamu. Kalian hidup di dalamnya karena kalian mengikuti jalan dunia ini,  karena kalian mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang kini bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara orang-orang durhaka itu, ketika kami hidup dalam hawa nafsu daging, menuruti kehendak daging serta pikiran yang jahat. Jadi pada dasarnya kita ini orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti yang lain itu. Tetapi terdorong oleh kasih-Nya yang besar, yang telah dilimpahkan kepada kita, Allah yang kaya dengan rahmat  telah menghidupkan kita bersama dengan Kristus,

sekalipun kita telah mati karena kesalahan kita. Jadi kalian diselamatkan berkat kasih karunia. Di dalam Kristus Yesus itu Allah telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat di surga bersama dengan Dia. Dengan demikian Allah bermaksud di masa yang akan datang menyatakan kasih karunia-Nya yang berlimpah, sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab berkat kasih karunia kalian diselamatkan oleh iman. Keselamatan itu bukanlah hasil usahamu, melainkan pemberian Allah. Jadi keselamatan itu bukanlah hasil pekerjaanmu. Maka jangan sampai ada yang memegahkan diri.

Sebab sesungguhnya kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 100:2-5

Tuhanlah yang menjadikan kita, dan punya Dialah kita.

*Bersorak-sorailah bagi Tuhan, hai seluruh bumi!Beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!

*Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita, dan punya Dialah kita; kita ini umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.

*Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur,

masuklah ke pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya, dan pujilah nama-Nya!

*Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.

Bait Pengantar Injil  Mat 5:3

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.

Bacaan Injil  Luk 12:13-21

Sekali peristiwa Yesus mengajar banyak orang. Salah satu dari mereka berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku, supaya ia berbagi warisan dengan daku.”  Tetapi Yesus menjawab,  “Saudara, siapakah yang mengangkat Aku menjadi hakim atau penengah bagimu?” Kata Yesus kepada orang banyak  itu,  “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan!  Sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung dari pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menceriterakan kepada mereka perumpamaan berikut,  “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.  Ia bertanya dalam hatinya, ‘Apakah yang harus kuperbuat,

sebab aku tidak punya tempat untuk menyimpan segala hasil tanahku.’

Lalu katanya, ‘Inilah yang akan kuperbuat: Aku akan merombak lumbung-lumbungku, lalu mendirikan yang lebih besar, dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya.

Beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!’

Tetapi Allah bersabda kepadanya,   ‘Hai orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu. Bagi siapakah nanti apa yang telah kausediakan itu? Demikianlah jadinya dengan orang yang menimbun harta bagi dirinya sendiri, tetapi ia tidak kaya di hadapan Allah.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.

Keserakahan adalah keinginan yang tak terkendali untuk memiliki lebih dari yang dibutuhkan . Laki laki yang dipakai Yesus sebagai tokoh perumpamaan pada Injil digambarkan sedemikian kayanya sehingga bingung menyimpan segala harta miliknya itu. “Apakah yang harus kuperbuat , sebab aku tidak punya tempat untuk menyimpan segala hasil tanahku “ (Luk 12 : 17) Harta yang sedemikian melimpah bisa membuat seseorang kebingungan , sama dengan kebingungan yang dialami seorang lain yang tak memiliki apapun. Bagi Yesus yang penting bukanlah kondisi memiliki atau tak memiliki harta. Yang penting bagi kita sebagai orang beriman adalah sikap kita terhadap harta milik itu. Jika harta milik justru membuat semakin  mengarahkan perhatian pada diri kita saja, tak ada gunanya harta tersebut.  Mungkin hati kita akan merasa sejuk jika orang kaya yang didalam perumpamaan itu mengatakan bahwa ia akan merasa senang hati membagikan harta kekayaan yang dimilikinya itu kepada orang orang yang tak seberuntung dirinya , Sayangnya , keinginan semacam itu tak muncul dari hatinya. Harta benda yang melimpah telah membutakan matanya.

Sikap orang kaya dalam perumpamaan itu menyerupai Ebenezer Scrooge, karakter serakah dan tamak yang diciptakan novelis terkenal Charles Dickens.  Dikisahkan bahwa dalam suatu malam Natal yang dingin dan sepi. Scrooge dikunjungi roh roh dari masa lalunya, masa kini dan masa depannya. Ketiga roh zaman itu menggambarkan situasi situasi yang pernah, sedang dan yang akan dialaminya. Terlebih setelah melihat kondisi yang akan dialaminya jika ia terus mempertahankan sikap serakah dan tamaknya. Scrooge akhirnya tersadar ada lebih banyak  sukacita dalam berbagi dengan orang lain dari pada menimbun segala sesuatu untuk dirinya seorang. Kita bisa membayangkan bahwa orang kaya yang menjadi tokoh perumpamaan dalam Injil hari ini akhirnya meninggal didalam gudang harta bendanya. Jasadnya tergeletak dikelilingi harta bendanya. Baik dirinya maupun harta bendanya tak memberikan manfaat atau berkat bagi siapapun, juga bagi dirinya sendiri. Menjadi jelas bahwa Yesus menyebut orang kaya itu bodoh  Kebodohan terbesar dari orang kaya itu adalah bahwa ia tak mampu melihat manfaat dari harta itu, baik bagi dirinya dan terlebih bagi orang lain yang lebih membutuhkan. Ia tak mampu menunjukkan sikap yang tepat terhadap harta benda itu. Ketamakan dan keserakahan , sekali lagi membuatnya egois dan bodoh.

Tentu saja , orang beriman seperti kita tak berharap akan mati dengan dikelilingi harta benda. Kita berharap jika suatu saat Allah memanggil kita , disekeliling kita berkumpul orang orang yang mengasihi kita. Kasih yang tumbuh diantara orang orang tersebut dan diri  kita  tentu berkat relasi yang kita bangun dengan mereka, bukan relasi kita dengan harta yang kita miliki. Semoga semangat yang diajarkan Yesus  kepada kita  dalam bersikap terhadap harta benda membuat kita mampu menemukan kepuasan dan kebahagiaan dalam berbagi dengan orang lain, lebih dari pada membuang buang waktu dan hidup kita hanya dengan berusaha untuk menjadi kaya bagi diri kita sendiri.

Butir permenungan.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, (Yoh 3, 16). Dalam Yesus , Allah menjadi manusia, hidup bersama  didunia , merasakan penderitaan dan kematian kita, serta menjadi sama dengan kita kecuali dalam hal dosa” Untuk rumusan iman yang sudah teruji dua ribu tahun itulah, kita memberi wujud dan ketaatan iman melalui cara hidup sehari hari yang pantas sebagai umat beriman. Keyakinan untuk mewartakan iman  dan juga mewariskan kepada anak cucu maupun generasi keturunan kita, perlu dicarikan terobosan yang yang berdampak nyata. Kebahagiaan hidup juga tidak bergantung pada banyaknya harta,  namun bagaimana kita menerima setiap anugerah yang diberikan juga mempergunakannya untuk kebaikan serta kesejahteraan bersama.

Menghayati peranan Allah dalam hidup berarti tidak sekedar mengakui keberadaan-Nya, tetapi juga bagaimana memahami Firman-Nya dan menjalankannya dalam hidup sehari hari. Allah tidak melarang anak anak –Nya  menjadi kaya, namun kekayaan duniawi tanpa penghayatan firman Allah, yaitu kasih , memberikan keselamatan yang semu dan menyesatkan. Bila kita mengutamakan kasih kepada Tuhan dan sesama, kita akan menjadi kaya dihadapan Allah.

Doa.

Ya Bapa, janganlah biarkan aku terjerumus pada sifat gila harta dan kekayaan semata. Tetapi jadikanlah aku pribadi yang selalu mensyukuri apa yang aku miliki. Amin.

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.

Oleh : Albertus Joseph Noegroho