Renungan Katolik Senin 25 Februari 2019

87 views

Kalender Liturgi Senin 25 Feb 2019

Bacaan I  Sir 1:1-10
Segala kebijaksanaan berasal dari Tuhan dan ada pada-Nya selama-lamanya.  Siapa dapat menghitung pasir di pantai, titik-titik air hujan, atau hari-hari segala abad? Siapa dapat menduga tingginya langit,
luasnya bumi, dalamnya samudera atau dalamnya kebijaksanaan?
Kebijaksanaan diciptakan sebelum segalanya, dan pengertian yang arif sejak dahulu kala.  Kepada siapakah pangkal kebijaksanaan telah disingkapkan, dan siapakah mengenal segala akalnya? Hanyalah Satu yang bijaksana, teramat menggetarkan, yaitu Yang bersemayam di atas singgasana-Nya.  Tuhan sendirilah yang menciptakan kebijaksanaan.
Ia melihatnya serta membilangnya. Segala ciptaan-Nya Ia penuhi dengan kebijaksanaan.  Setiap makhluk menerimanya sekedar pemberian Tuhan. Ia membagikannya kepada orang yang mencintai-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 93:1ab.1c-2.5
Tuhan adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan.
*Tuhan adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, dan kekuatanlah ikat pinggang-Nya.
*Sungguh, telah tegaklah dunia, tidak lagi goyah. takhta-Mu tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada.
*Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu berhiaskan kekudusan, ya Tuhan,
sepanjang masa!

Bait Pengantar Injil  2Tim 1:10b
Yesus Kristus, Penebus kita, telah membinasakan maut, dan menerangi hidup dengan Injil.

Bacaan Injil  Mrk 9:14-29
Pada suatu hari Yesus bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes,
turun dari gunung,  lalu kembali pada murid-murid lain.  Mereka melihat orang banyak mengerumuni para murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang mempersoalkan  sesuatu dengan mereka. Ketika melihat Yesus, orang banyak itu tercengang-cengang semua dan bergegas menyambut Dia. Yesus lalu bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?” Kata seorang dari orang banyak itu,
“Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu  karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Setiap kali roh itu menyerang, anakku dibantingnya ke tanah.  Lalu mulutnya berbusa, giginya berkertakan, dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah minta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Maka kata Yesus kepada mereka, “Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Lalu mereka membawanya kepada Yesus.  Dan ketika roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting di tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa. Kemudian Yesus bertanya kepada ayah anak itu,  “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya, “Sejak masa kecilnya!  Seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api atau ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu, jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.”
Jawab Yesus, “Katamu, ‘jika Engkau dapat?’ Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”  Segera ayah anak itu berteriak. “Aku percaya! Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Ketika Yesus melihat makin banyak orang yang datang berkerumun, Yesus menegur roh jahat itu dengan keras, kata-Nya,  “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau:  Keluarlah dari anak ini, dan jangan memasukinya lagi!”   Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak  dan menggoncang-goncangkan anak itu dengan hebatnya.
Anak itu kelihatannya  seperti orang mati, sehingga banyak orang mengatakan, “Ia sudah mati.”  Tetapi Yesus memegang tangannya dan membangunkannya,  lalu ia bangkit sendiri. Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab Yesus,
“jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.”
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Para murid tidak bisa mengusir roh jahat sebab menurut Yesus jenis ini hanya dapat diusir dengan doa. Yesus menunjukkan betapa pentingnya doa dalam hidup kita. Doa yang benar mengandung kekuatan dahsyat untuk mengubah sesuatu yang mustahil menjadi mungkin.  Untuk itu kita tidak bisa mengandalkan kekuatan kita sendiri,  tetapi kita mesti menyertakan Tuhan dalam setiap rencana, harapan, keputusan dan tindakan kita dalam hidup. Kita mengundang Tuhan untuk ambil bagian secara aktif dalam segala hal yang kita lakukan.  Kita tidak perlu tahu keputusan apa yang akan diambil Tuhan, tetapi paling tidak kita memiliki kehendak baik untuk selalu berkonsultasi dengan-Nya.  Ini merupakan tindakan iman, membiarkan Tuhan berperan aktif dalam dan melalui kita , yang pada gilirannya akan merubah hidup kita secara bertahap  Dan inilah sebenarnya inti / hakikat doa.

Doa adalah jalinan relasi yang intim dan tetap dengan Tuhan , bagai relasi dua sejoli  yang saling jatuh cinta. Disana ada cinta, saling percaya, saling terbuka, saling memberi diri secara utuh tanpa syarat.  Maka , kata kata, rumusan doa bukanlah yang terpenting, apalagi dijadikan kata mantra, Kekuatan doa tidak terletak pada rumusan kata katanya, tetapi pada kedalaman relasi , iman, harapan dan cinta kita kepada Tuhan sendiri.

Nabi Yesaya mengingatkan kita supaya menyempurnakan  doa kita dengan Sabda Tuhan. Sabda Tuhan itu seperti hujan dan salju yang turun dari langit dan tidak akan kembali  ke langit lagi, tetapi mengairi bumi dan membuatnya subur, serta menumbuhkan tumbuh tumbuhan , memberikan benih kepada penabur dan roti kepada yang mau makan.

Butir permenungan.

Bagaimana dengan hidup doa kita? Tentu kita pernah mengalami bahwa ada doa yang terkabul kan, atau mungkin ada yang tidak terkabulkan. Berhentilah sejenak, dan coba temukan hal hal apa yang membuat doa kita terkabulkan atau tidak terkabulkan?  Sejauh manakah kedalaman relasi kita dengan Tuhan?

Doa.

Ya Tuhan yang mahabaik, ajarilah kami umat-Mu untuk selalu bersyukur dan masuklah kedalam hati kami dan bimbinglah roh kami untuk dapat berdoa yang benar.  Amin.

Yesus Kristus, Penebus kita, telah membinasakan maut, dan menerangi hidup dengan Injil.