Renungan Katolik Senin 8 April 2019

94 views

Bacaan Liturgi Senin  8 April 2019

Bacaan Pertama  T.Dan 13:1-9.15-17.19-30.33-62

Adalah seorang orang diam di Babel, namanya Yoyakim.  Ia mengambil seorang isteri yang bernama Susana, anak Hilkia. Isterinya itu amat sangat cantik dan takwa pada Allah.  Karena orang tuanya benar,

maka anak mereka dididik menurut Taurat Musa. Yoyakim itu amat kaya. Ia memiliki sebuah taman berdekatan dengan rumahnya.

Oleh karena ia paling terhormat di antara sekalian orang, maka orang-orang Yahudi biasa berkumpul di rumahnya.  Dalam tahun itu ada dua orang tua-tua dari antara rakyat  yang ditunjuk menjadi hakim.

Tentang mereka itulah Tuhan telah berfirman, “Kefasikan telah datang dari Babel, dari kaum tua-tua, dan para hakim, yang berlagak pengemudi rakyat.”  Kedua orang tua-tua itu sering datang ke rumah Yoyakim, tempat setiap orang yang mempunyai suatu perkara

datang kepada mereka.  Apabila menjelang tengah hari rakyat sudah pergi,  masuklah Susana untuk berjalan-jalan di taman suaminya.

Kedua orang tua-tua itu setiap hari mengintip Susana  apabila ia masuk dan berjalan-jalan di situ. Maka timbullah dalam hati kedua orang tua-tua itu  nafsu berahi kepada Susana .  Mereka lupa daratan dan membuang muka, sehingga tidak memandang Surga  dan tidak ingat kepada keputusan yang adil.  Sementara mereka menunggu saat yang baik, datanglah Susana ke taman itu seperti yang sudah-sudah.

Ia hanya disertai dua orang dayang.  Karena cuaca panas, Susana mau mandi di taman itu.  Tiada seorangpun yang ada di sana kecuali kedua orang tua-tua itu  yang bersembunyi sambil mengintip Susana.

Kata Susana kepada dayang-dayangnya,  “Ambilkanlah aku minyak dan urap, dan tutuplah pintu taman, supaya aku dapat mandi.” Segera setelah dayang-dayang itu keluar,  bangunlah kedua orang tua-tua itu

dan bergegas-gegas menuju Susana.  Berkatalah mereka,

“Pintu-pintu taman sudah tertutup   dan tidak ada seorangpun melihat kita.  Kami sangat cinta berahi kepadamu. Berikanlah hati saja dan tidurlah bersama-sama dengan kami.  Kalau engkau tidak mau, pasti kami akan naik saksi terhadapmu, bahwa seorang pemuda kedapatan padamu, dan bahwa oleh karena itulah  maka dayang-dayang itu kausuruh pergi.”

Berdesahlah Susana, lalu berkata,  “Aku terdesak sekeliling.

Sebab jika hal itu kulakukan, niscaya kematian menanti aku.

Jika tidak kulakukan, maka aku tidak lolos dari tangan kamu.

Namun   lebih baik aku jatuh ke tanganmu dengan tidak berbuat demikian  daripada berbuat dosa di hadapan Tuhan.”  Lalu Susana berteriak-teriak dengan suara nyaring.   Tetapi kedua orang tua-tua itu berteriak-teriak pula melawan Susana.  Dan salah satu dari mereka lari membuka pintu taman.  Demi teriak di taman itu didengar orang-orang

yang ada di dalam rumah, bergegas-gegaslah mereka masuk lewat pintu samping   untuk melihat apa yang terjadi dengan Susana. Setelah kedua orang tua-tua itu memberikan keterangan, maka amat malulah para pelayan, sebab belum pernah hal semacam itu dikatakan tentang Susana.  Keesokan harinya, ketika rakyat berkumpul lagi pada Yoyakim, suami Susana,  datang pulalah kedua orang tua-tua itu penuh angan-angan fasik untuk membunuh Susana. Di depan rakyat mereka berkata,

“Suruhlah ambil Susana, anak Hilkia, isteri Yoyakim!”  Maka diambillah Susana.  Ia datang disertai orang tuanya, anak-anak dan kaum kerabatnya.  Sanak saudara dan semua yang melihat Susana, menangis. Sementara kedua orang tua-tua itu berdiri di tengah rakyat

dan meletakkan tangan mereka di atas kepala Susana,  Susana menengadah ke Surga sambil menangis, sebab hatinya tetap percaya pada Tuhan.  Maka kata kedua orang tua-tua itu,   “Sedang kami berdua berjalan-jalan di taman,   masuklah Susana bersama dua sahaya.

Lalu pintu taman itu ditutup, dan disuruhnya sahaya-sahaya itu pergi.

Lalu datanglah seorang pemuda yang bersembunyi di situ dan ia berbaring bersama Susana.  Ketika kami, yang ada di sudut taman,

melihat kefasikan itu, berlari-larilah kami kepada mereka.  Walaupun kami melihat mereka tidur bersama-sama di sana,  namun kami tidak dapat menangkap pemuda itu  karena ia lebih kuat dari kami.

Ia membuka pintu lalu melarikan diri.  Tetapi Susana kami pegang,

dan kami menanyakan siapa pemuda itu.  Ia tidak mau memberitahu kami.   Inilah kesaksian kami.”   Himpunan rakyat percaya akan kesaksian mereka, karena mereka adalah orang tua-tua di antara rakyat;   lagi pula mereka adalah hakim.   Atas dasar kesaksian itu,

dijatuhkannya hukuman mati kepada Susana.  Maka berserulah Susana dengan suara nyaring,   “Allah yang kekal, yang mengetahui apa yang tersembunyi, dan mengenal sesuatu sebelum terjadi,  Engkau pun tahu

bahwa mereka itu memberikan kesaksian palsu terhadap aku.

Sungguh, aku mati,  meskipun aku tidak melakukan sesuatu pun

dari yang mereka dustakan tentang aku.”   Maka Tuhan mendengarkan suaranya.  Ketika Susana dibawa keluar untuk dihabisi nyawanya,

Allah membangkitkan roh suci dalam diri seorang anak muda, Daniel namanya.  Anak muda itu berseru dengan suara nyaring,   “Aku tidak bersalah terhadap darah perempuan itu!”  Maka segenap rakyat berpaling kepada Daniel, katanya,   “Apakah maksudnya kata-katamu itu?”  Daniel pun lalu berdiri di tengah-tengah mereka.   Katanya, “Demikian bodohkah kamu, hai orang Israel?   Adakah kamu menghukum seorang puteri Israel  tanpa pemeriksaan dan tanpa bukti?

Kembalilah ke tempat pengadilan, sebab kedua orang itu memberikan kesaksian palsu terhadap perempuan ini!”  Maka bergegaslah rakyat kembali ke tempat pengadilan.  Orang tua-tua itu berkata kepada Daniel,  “Kemarilah, duduklah di tengah-tengah kami dan beritahulah kami, sebab Allah telah menganugerahkan kepadamu martabat orang tua-tua.”   Lalu kata Daniel kepada orang yang ada di situ,  “Pisahkanlah kedua orang tua-tua tadi jauh-jauh, maka mereka akan diperiksa.”

Setelah mereka dipisahkan satu sama lain, Daniel memanggil seorang di antara mereka dan berkata kepadanya,  “Hai engkau yang sudah beruban dalam kejahatan, sekarang engkau ditimpa dosa-dosa yang dahulu telah kauperbuat  dengan menjatuhkan keputusan-keputusan yang tidak adil, dengan menghukum orang yang tidak bersalah

dan melepaskan orang yang bersalah, meskipun Tuhan telah berfirman:  Orang yang tak bersalah dan orang benar janganlah kaubunuh.

Oleh sebab itu, jikalau engkau sungguh-sungguh melihat dia,

katakanlah: Di bawah pohon apakah telah kaulihat mereka bercampur?”

Sahut orang tua-tua itu, “Di bawah pohon mesui!”  Kembali Daniel berkata,   “Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri!

Sebab malaikat Allah telah menerima firman dari Allah  untuk membelah engkau!”  Setelah orang itu disuruh pergi,   Danielpun lalu menyuruh bawa yang lain kepadanya.   Kemudian berkatalah Daniel kepada orang itu,  “Hai keturunan Kanaan dan bukan keturunan Yehuda,

kecantikan telah menyesatkan engkau   dan nafsu berahi telah membengkokkan hatimu.  Kamu sudah biasa berbuat begitu dengan puteri-puteri Israel,   dan mereka pun terpaksa menuruti kehendakmu karena takut.  Tetapi puteri Yehuda ini tidak mau mendukung kefasikanmu!  Oleh karena itu katakanlah kepadaku:

Di bawah pohon apakah telah kaudapati mereka bercampur?”

Sahut orang tua-tua itu,   “Di bawah pohon berangan!”

Kembali Daniel berkata,   “Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri.   Sebab malaikat Allah sudah menunggu-nunggu dengan pedang terhunus untuk membahan engkau, supaya engkau binasa!”

Maka berserulah seluruh himpunan itu dengan suara nyaring. Mereka memuji Allah yang menyelamatkan siapa saja yang berharap kepada-Nya.  Serentak mereka bangkit melawan kedua orang tua-tua itu,

sebab Daniel telah membuktikan dengan mulut mereka sendiri bahwa mereka telah memberikan kesaksian palsu.  Lalu mereka diperlakukan

sebagaimana mereka sendiri mau mencelakakan sesamanya.  Sesuai dengan Taurat Musa kedua orang itu dibunuh.  Demikian pada hari itu diselamatkan darah yang tak bersalah.

Demikanlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6

Sekalipun aku berjalan dalam lembah yang kelam, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.

*Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan.  Ia membaringkan daku di padang rumput yang hijau.   Ia membimbing aku ke air yang tenang,  dan menyegarkan daku.

*Ia menuntun aku di jalan yang lurus,  demi nama-Nya yang kudus.

Sekalipun berjalan dalam lembah yang kelam,  aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.  Tongkat gembalaan-Ku, itulah yang menghibur aku.

*Engkau menyediakan hidangan bagiku,   di hadapan segala lawanku.

Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak,   pialaku penuh berlimpah.

*Kerelaan dan kemurahan-Mu mengiringi aku  seumur hidupku.  Aku akan diam di dalam rumah Tuhan   sepanjang masa.

Bait Pengantar Injil  Yoh 33:11

Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik,  melainkan kepada pertobatannyalah   Aku berkenan,  supaya ia hidup.

Bacaan Injil  Yoh 8:1-11

Sekali peristiwa Yesus pergi ke bukit Zaitun. Dan pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Yesus duduk dan mengajar mereka.  Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi   membawa kepada Yesus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.  Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah  ketika ia sedang berbuat zinah.  Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita  untuk melempari dengan batu  perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?”

Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Yesus, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis di tanah dengan jari-Nya. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”  Lalu Yesus membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu, yang tetap di tempatnya.  Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya,  “Hai perempuan, di manakah mereka?   Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”  Jawabnya, “Tidak ada, Tuhan.”  Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.

“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”  Yoh 8:7   Tanpa kita sadari kita mungkin sering merasa lebih baik dan lebih suci dibanding orang lain. Kita juga selalu mencari pembenaran dan cenderung mencari cari kesalahan orang lain. Lebih ironisnya hal ini juga dilakukan oleh orang orang yang sering melakukan pelayanan. Ketika berselisih faham , orang yang berselisih akan saling mengutarakan argumen pembelaan demi mengamankan dirinya dari seranganpihak lawannya, dan sejurus kemudian berusaha untuk menutupi dan memperkecil kesalahan yang mungkin telah dilakukannya. Mungkin yang dulunya sahabat bisa saling menjatuhkan di meja hijau dengan amunisi bukti dan argumen yang terkadang menjadi sangat menyakitkan fihak lawan.  Masing masing fihak merasa paling benar, tidak bersalah , dan merasa mempunyai hak untuk menghakimi lawannya. Hari ini Yesus mengajak kita untuk bersama sama melakukan  introspeksi kedalam diri kita masing masing . Apakah kita merasa tidak berdosa dan boleh menjadi hakim atas orang lain ?  Ada beberapa komunitas rohani yang mewajibkan untuk rutin mengaku dosa sebagai bagian dari komitmen anggotanya .Hal itu dimaksudkan untuk mengajak kita agar terus berusaha rendah hati dan senantiasa mengingat bahwa kita adalah manusia yang sulit luput dari dosa . Apakah saya sering menghakimi dan menyalahkan orang lain atas ketidakberesan yang terjadi dalam hidup saya?

Butir permenungan.

Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang. Yoh 8:11 Pengalaman hidup kita past beraneka warna, Warna cerah bisa diartikan pengalaman yang menyenangkan dan membahagiakan. Sebaliknya warna gelap bisa menandakan duka, luka dan kecewa. Namun kita tidak bisa memilih cerah maupun gelap merupakan perjalanan hidup yang tidak dapat kita hindari. Pengalaman menyenangkan seringkali tidak perlu dibahas, tapi pengalaman yang menyakitkan harus disembuhkan agar tidak menimbulkan dampak yang berkepanjangan. Dan yang bisa menyembuhkan luka hati kita hanyalah kasih yang tak terbatas dan tak berkesudahan dari Tuhan. Ibarat pasien kita perlu datang kepada Tuhan karena hanya cinta Nya yang dapat membuat kita merasa dicintai secara penuh.  Perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi akan membuat kita juga mau mencintai, mengampuni orang lain. Inilah buah nyata dari pengalaman cinta yang sesungguhnya.  Cinta Tuhan juga memberikan kesembuhan secara fisik, Ini merupakan pengalaman pribadi saya ketika saya mengalami perjampaan pribadi dengan Tuhan. Saya mengalami kesembuhan dari sakit lever yang sudah masuk stadium berat. Sejak itu saya mempunyai kerinduan untuk semakin mendekat kepada-Nya. Kesembuhan ini bagi saya juga berarti Tuhan berkenan mengampuni semua dosa saya  dan memberi saya kesempatan baru untuk melakukan apa yang menyenangkan hati-Nya. Tuhan syukur dan terima kasih atas cinta-Mu yang boleh kutrima.

Doa.

Ya Tuhan yang maharahim, berilah kami umat-Mu  iman yang kuat agar kita dapat melewati  dan mengatasi setiap badai kehidupan. Amin.

Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik,  melainkan kepada pertobatannyalah   Aku berkenan,  supaya ia hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *